Cerita Bima Sakti, Lekat dengan Jersey Nomor 11 Mulai di Piala Asia 1996

Oleh Abdi Satria pada 21 Jun 2020, 06:15 WIB
Diperbarui 21 Jun 2020, 06:15 WIB
Balikpapan MasterCup, Bima Sakti
Legenda Timnas Indonesia, Bima Sakti menghadiri press conference Balikpapan MasterCup di Studio MNC, Jakarta (5/10/2017). Acara ini digelar 5 November 2017 di Stadion Internasional Batakan Balikpapan (Bola.com/Doni Andreas Sidabutar)

Bola.com, Makassar - Sepanjang kariernya di Liga Indonesia dan skuat Merah Putih, Bima Sakti lekat dengan nomor punggung 11 pada jersey tim yang dibelanya. Ratusan pesepak bola di tanah air memilih nomor 11 karena terinspirasi permainan eks kapten tim nasional Indonesia ini.

Termasuk Ponaryo Astaman, penerus Bima Sakti di PSM Makassar dan tim nasional yang juga lekat dengan jersey nomor 11.

"Saya memang sengaja memakai nomor itu. Bagi saya, Bima adalah panutan. Kebetulan posisi kami sama, yakni gelandang bertahan," ujar Ponaryo kepada Bola.com pada satu kesempatan pertemuan.

Tapi, tahukah Anda? Bima mengaku tidak memiliki alasan khusus mengapa memilih nomor itu. Pada channel youtube Garuda Nusantara, Bima Sakti menceritakan kapan pertama kali dirinya memakai nomor itu. Menurut Bima, sejatinya nomor 11 bukan nomor favoritnya karena pertama kali mentas di level nasional kala memperkuat tim Soeratin U-17 Samarinda di Bogor, ia menggunakan nomor 7.

"Ketika di PSSI Primavera pun saya menggunakan nomor punggung 6 sesuai posisi saya sebagai gelandang bertahan," tutur Bima.

Timnas Indonesia Primavera yang dikapteni Bima Sakti. (Dok. Pribadi Supriono)

Ia memakai nomor 11 ketika memperkuat timnas di Piala Asia 1996. Nomor itu memang belum ada yang pakai. Kebetulan, Bima yang bergabung dari Helsinborg (Swedia) berambut gondrong, ciri khas yang melekat pada Karel Poborský, gelandang timnas Republik Ceko yang mencuat di Piala Eropa 1996.

"Jadi tidak alasan khusus. Tapi, setelah itu saya meniatkan dalam hati untuk terus memakai nomor 11, baik di klub maupun di tim nasional," papar Bima.

Terkait dengan rambutnya yang gondrong saat itu, Bima punya penjelasan.

"Sebenarnya, saya ingin rutin memangkas rambut. Tapi, di Swedia tarifnya mahal. Lagipula, saat itu saya sangat fokus berlatih di Helsinborg. Pelatih pun tidak pernah mempermasalahkan rambut gondrong saya."

Konsentrasi Bima memang betul-betul fokus kala di Helsinborg. "Semua pemain bersikap profesional dan serius dalam latihan. Bagi mereka, unjuk kemampuan dalam latihan penting untuk mendapatkan menit bermain di kompetisi."

Bima punya kenangan khusus terkait keseriusan pemain. Pada satu momen latihan, ia mendapat teguran dari Ronald Nilsson, kapten Helsinborg yang juga pemain timnas Swedia di Piala Dunia 1994.

"Kala itu, saya berduel satu lawan satu dengannya. Merasa pemain junior, saya membiarkannya melewati saya dengan mudah. Eh dia marah dan menarik kaus saya. Dia bilang, 'Bima kamu tidak bisa jadi pemain besar kalau berlaku seperti tadi'," kata Bima menirukan ucapan Nilsson.

Pada latihan esok harinya, Bima tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Ia kembali berduel dengan Nilsson dan melakukan tekel keras yang membuat betis sang kapten berdarah.

"Saya pikir dia akan marah ketika mendatangi saya. Dia malah memuji dan bilang, Bima bawa hal seperti ini ke Indonesia."

Pengalaman di Italia dan Swedia sangat berbekas pada benak Bima. Baik ketika berkarier sebagai pemain dan kini sebagai pelatih kepala timnas U-16.

"Saya pernah mengungkapkan pengalaman ini kepada pemain di timnas U-16. Tujuannya agar mereka fokus dan serius dalam latihan," papar Bima Sakti.

 

2 dari 3 halaman

Peluang Timnas Indonesia U-16 di Piala Asia

Timnas Indonesia U-16
Bima Sakti memimpin sesi latihan Timnas Indonesia U-16 di lapangan UII, Sleman, Rabu (26/2/2020). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Pada kesempatan itu, Bima Sakti juga mengungkap peluang tim asuhannya yang berada satu grup dengan Jepang, China, dan Arab Saudi di Piala Asia U-16 mendatang. Menurutnya, sebagai kategori usai terendah dari tim nasional, tidak ada perbedaan kualitas yang mencolok antara tim peserta.

Ia pun mengaku sudah punya gambaran awal kekuatan lawan, di antaranya China yang bermain imbang dengan Indonesia di laga uji coba. Indonesia pun pernah menjajal Qatar dan Yordania yang secara teknis dan fisik hampir sama dengan Arab Saudi.

Begitu dengan Jepang yang kualitasnya dinilai Bima sama saja dengan Korea Selatan yang pernah dihadapi tim asuhannya.

"Saya sudah mendapatkan rekaman pertandingan tim lawan."

Bima menambahkan dirinya sudah menyiapkan program latihan yang mulai digelar pada Juli nanti.

"Saya juga sudah mengajukan permintaan uji coba melawan tim selevel untuk adaptasi. Secara pribadi, saya tetap optimistis dengan tim. Apalagi ini levelnya pembinaan. Sepak bola bukan matematika. Segala kemungkinan bisa terjadi," tegas Bima.

Terkait pembinaan, Bima menegaskan sebagai pelatih ia fokus mengedukasi pemain terkait sikap dan pemahaman berbagai taktik.

"Saya berharap selepas dari tim ini, mereka tetap bisa berkembang, siapa pun pelatihnya. Saya juga menekankan ke pemain agar tetap respek dengan pelatih tanpa melihat latar belakangnya," pungkas Bima.

3 dari 3 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓
Kiper Persita Tangerang, Annas Fitrianto Tetap Bugar Jelang Kembalinya Shopee Liga 1 2020