Gelombang Kedua COVID-19 dan Ancaman Mundurnya Agenda-agenda Timnas Indonesia

Oleh Zulfirdaus Harahap pada 29 Jul 2020, 10:15 WIB
Diperbarui 29 Jul 2020, 10:15 WIB
Kolase - Shin Tae-yong, Bima Sakti, Timnas U-19, dan Timnas Senior
Kolase - Shin Tae-yong, Bima Sakti, Timnas U-19, dan Timnas Senior (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Negara-negara Asia Tenggara kini tengah harap-harap cemas menanti ancaman gelombang kedua dari pandemi COVID-19. Sinyal bahaya ini membuat sejumlah event internasional yang diikuti Timnas Indonesia di semua kelompok umur terancam mundur.

Kekhawatiran muncul setelah ditemukannya kasus baru di Vietnam pada 26 Juli 2020. Pemerintah mengonfirmasi kasus baru yang dialami seorang pria berusia 57 tahun dinyatakan positif COVID-19.

Kasus ini menjadi yang perdana dalam tiga bulan terakhir setelah Vietnam mendeklarasikan diri terbebas dari pandemi. Asosiasi Sepak Bola Profesional Vietnam (VPF) atas saran Pemerintah kemudian bergerak cepat dengan menghentikan V-League, kompetisi teratas Vietnam.

Dengan alasan keamanan, VPF menyatakan kompetisi dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan. Adanya kasus baru tersebut menjadi bukti ancaman nyata dari gelombang kedua COVID-19.

Situasi ini tentu saja membuat sejumlah agenda sepak bola kawasan Asia Tenggara hingga Asia menjadi misteri. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Asosiasi Sepak Bola ASEAN (AFF) langsung mengadakan pertemuan untuk menentukan nasib sejumlah turnamen pada Senin (27/7/2020).

Pertemuan darurat diadakan untuk mencari solusi terbaik yang bisa didapat. Muncul wacana terburuk untuk memundurkan turnamen-turnamen seperti Kualifikasi Piala Dunia 2022 hingga Piala AFF ke 2021.

"Komite Darurat akan terus berdiskusi untuk menemukan keputusan final," tegas Anggota Dewan AFC yang juga Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF), Tran Quoc Tuan, seperti dikutip VN Express, Selasa (28/7/2020).

2 dari 4 halaman

Ancaman Gelombang Kedua

Selebrasi Pemain Timnas Indonesia saat Hansamu Yama Cetak Gol Kemenangan
Para pemain Timnas Indonesia merayakan gol yang dicetak Hansamu Yama ke gawang Thailand pada laga final leg pertama Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari, Jawa Barat, Rabu (14/12/2016). Indonesia menang 2-1 atas Thailand. (Bola.com/Peksi Cahyo)

Ancaman gelombang kedua COVID-19 tentu saja sangat mengkhawatirkan. Tak ada yang menyangka hal itu bisa terjadi di Vietnam, sebagai negara ASEAN pertama yang mendeklarasikan terbebas dari pandemi sejak Mei 2020.

Situasi ini tentu menjadi kabar buruk untuk seluruh negara ASEAN. Apalagi dalam beberapa bulan kedepan, sejumlah event sepak bola level internasional, Asia, hingga ASEAN bakal bergulir.

Event pertama yang akan diikuti tim-tim Asia adalah Kualifikasi Piala Dunia 2022. Pertandingan lanjutan rencananya pada medio Oktober-November.

Laga-laga tersebut akan tersebar di Thailand, Uni Emirat Arab, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Menggelar pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 di tengah situasi seperti ini tentu saja sangat riskan.

Namun, sampai saat ini FIFA dan AFC belum mengambil keputusan terkait nasib Kualifikasi Piala Dunia 2022. Pertandingan-pertandingan tersebut menghadapi ancaman penundaan untuk kali kedua di tengah masa pandemi.

Selain itu, ada juga jadwal Piala AFC U-19 2020 yang digelar di Uzbekistan pada 14-31 Oktober. Mengacu data 28 Juli 2020, Uzbekistan sebagai negara tuan rumah juga masih berjuang dengan pandemi virus corona.

Terdapat 594 kasus baru yang menggenapkan total 21.506 kasus di Uzbekistan. Selain itu juga ada penambahan jumlah kematian yakni 5. Hal ini menjadi bukti Uzbekistan belum masuk dalam kategori aman dan masih dalam ancaman gelombang kedua COVID-19.

Pemerintah Malaysia menjadi yang paling berani menentukan sikap terkait pengiriman Timnas U-19 ke Piala AFC 2020. Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Wan Ahmad Fayhsal, mengaku pihaknya masih memonitor situasi yang terjadi di Asia terkait rencana pengiriman Timnas Malaysia U-19.

"Jika benar ada keadaan darurat, kami akan menunggu pendapat dan saran dari NSC (Dewan Keaman Nasional) mengenai keterlibatan atlet kami di luar negeri," kata Ahmad Fayhsal seperti dikutip dari Berita Harian.

Setelah itu, bakal ada turnamen Piala AFC U-16 yang digelar di Bahrain pada 25 November - 21 Desember 2020. Bahrain juga mencatatkan penambahan 351 kasus baru sampai 28 Juli 2020.

Grafik mencatat belum ada tanda-tanda penurunan kasus. Sejauh ini, telah terjadi 39.482 kasus positif yang mengakibatkan 141 kematian di Bahrain.

3 dari 4 halaman

Kemungkinan Penundaan

Timnas Indonesia U-22 Vs Laos U-22
Striker Timnas Indonesia U-22, Osvaldo Haay, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Laos U-22 pada laga SEA Games 2019 di Stadion City of Imus Grandstand, Manila, Kamis (5/12). Indonesia menang 4-0 atas Laos. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Selain tiga event tersebut, Piala AFF 2020 juga paling mungkin untuk dimundurkan. Apalagi turnamen antarnegara ASEAN itu digelar dengan format kandang tandang.

Artinya, pertandingan akan berlangsung di seluruh negara peserta Piala AFF. Hal ini tentu sangat riskan menjadikan pertandingan Piala AFF sebagai klaster baru penularan COVID-19.

Contohnya adalah Indonesia yang sampai hari ini, 28 Juli 2020, masih berjuang memerangi pandemi virus corona. Bahkan, belum ada tanda-tanda penurunan kasus positif yang cenderung stabil dalam jumlah peningkatan COVID-19.

Terjadi penambahan 1.525 kasus baru yang membuat Indonesia menembus angka 102.051 kasus. Indonesia menyamai catatan kasus baru Filipina yang stabil 1.500-an per hari.

Adapun negara semisal Thailand dan Malaysia hanya mencatatkan kasus di bawah angka 10 per hari. Adanya situasi ini berpotensi Piala AFF sulit digelar sesuai jadwal yakni pada 23 November sampai 31 Desember 2020.

Jika ngotot ingin menggelar Piala AFF 2020 sesuai jadwal, solusi adanya tuan rumah yang opsi paling logis dipakai. Menilik kasus-kasus yang ada, Vietnam yang paling ideal menjadi tuan rumah karena minimnya kasus positif COVID-19.

"Pencegahan COVID-19 di setiap negara adalah faktor utama jika ditugaskan untuk menjadi tuan rumah. Saat ini, Vietnam bisa dikatakan telah berhasil mengendalikan COVID-19. Kami memiliki peluang besar untuk menyelenggarakan Piala AFF 2020," kata Sekjen VFF, Le Hoai Anh, beberapa waktu lalu.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓