Kenangan Ariel Gutierrez Bersama PSMS: Dominan pada Musim 2000-2001, Terhenti di Semifinal

Oleh Abdi Satria pada 01 Agu 2020, 20:45 WIB
Diperbarui 01 Agu 2020, 20:45 WIB
Logo PSMS Medan
PSMS Medan. (i.ytimg.com)

Bola.com, Makassar - Aksi Ariel Gutierrez sebagai gelandang serang pernah mewarnai pentas Liga Indonesia awal 2000an. Pencapaian terbaik pemain berdarah Chile ini adalah membawa PSMS Medan menembus empat besar Liga Indonesia 2000-2001.

Pada musim itu, PSMS Medan tampil apik. Sebelum ke semifinal, Ayam Kinantan bertengger di puncak klasemen Wilayah Barat. Pada 8 Besar, skuat Suimin Diharja menyapu bersih 3 laga di Grup 1 yang dihuni Persebaya Surabaya, Persib Bandung, dan Barito Putera.

Sayang, langkah mulus PSMS dihentikan seteru mereka di era Perserikatan, PSM Makassar, yang berstatus juara bertahan. PSMS akhirnya harus melupakan impian meraih trofi juara setelah kalah dalam adu penalti.

Seperti diketahui, trofi juara musim itu diraih Persija Jakarta yang mengalahkan PSM dengan skor 3-2 pada laga final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, 7 Oktober 2001.

Pada channel youtube KEDANKU TV, Ariel mengungkap kenangan bersama PSMS musim itu. Menurutnya, PSMS tampil apik karena kebersamaan tim yang kuat.

"Saya dan pemain lainn merasa PSMS adalah keluarga besar. Itulah mengapa, kami selalu tampil semangat meski gaji kami tak sebesar klub elite lainnya, seperti Persija, Persib, dan PSM," ujar Ariel.

Kebersaman dan semangat juang yang tinggi itu pula yang menjadi senjata PSMS. Dari sisi teknis, PSMS Medan tidak sebaik tim lain. Bagi Ariel, saat itu masih ada sejumlah pemain yang dinilainya belum pantas menjadi bermain di kasta tertinggi.

"Tapi, semangat mereka menutup kekurangan dari sisi teknis. Malah, mereka selalu dimainkan," ungkap Ariel.

 

2 dari 3 halaman

Berbeda dengan di Chile

Ariel menambahkan kekurangan dari sisi teknik dasar disebabkan penanganan dan ilmu yang didapatkan pemain saat mereka mulai menggeluti sepak bola. Ariel merujuk apa yang dialaminya ketika memulai karier sepak bola di Chile. Ariel mendapatkan fasilitas dan ilmu dasar sepak bola yang baik di negara asalnya itu.

"Saya menimba ilmu di Akademi Sepak bola Colo-Colo. Semuanya serbagratis di sana, termasuk mendapat sepatu bola secara berkala," ujarnya.

Pada usia 18, Ariel sudah tergabung di klub Santiago Morning. Ia memperkuat klub itu dari Divisi II sampai menembus kasta tertinggi.

"Pembinaan sepak bola yang baik membuat Chile memiliki banyak pemain. Ada yang berkualitas bagus sehingga bisa bermain di Eropa. Kemampuan saya dinilai masih rata-rata. Oleh agen, saya pun diarahkan bermain di Asia," kata Ariel yang sebelum ke Indonesia sempat bermain di Liga Singapura.

Perbedaan lainnya adalah perhatian dan perlakuan kepada pemain, khususnya kepada pemain asing. Kalau di Indonesia, kontrak pemain rata-rata semusim. Jadi, harus tampil prima di setiap partai agar bisa mendapat kontrak baru musim berikutnya.

"Alhasil, meski cedera, para pemain terutama pemain asing tetap dipaksa tampil. Alasannya karena sudah dibayar mahal. Akhirnya, penampilannya tidak maksimal," terang Ariel.

 

3 dari 3 halaman

Berharap PSMS Kembali ke Kasta Tertinggi

Kala masih aktif, Ariel termasuk pemain yang membela banyak klub di Indonesia. Selain PSMS, ia pernah berkostum PSM, Persijap Jepara, Persema Malang, Persikabo Bogor, Medan Jaya, Persiba Balikpapan, dan Persisam Samarinda.

Meski begitu, ia menjadikan PSMS Medan sebagai klub yang mengikatnya secara emosional. "Saya merasa sebagai orang Medan. Saya menjadi mualaf di Medan. Istri juga orang Medan dan keempat anak saya semuanya lahir di Medan," tutur Ariel.

Itulah mengapa, Ariel mengaku prihatin melihat klub kesayangannya itu masih berkutat di Liga 2. "Saya berharap dengan manajemen yang bagus musim ini, PSMS kembali ke habitatnya dengan bermain di Liga 1 musim depan," ungkapnya.

Andai PSMS bisa promosi ke Liga 1 musim depan, Ariel menyarankan manajemen PSMS merekrut pemain asal Amerika Latin atau Afrika. Alasannya, pemain dari kawasan ini selain memiliki teknik yang baik, mereka juga cepat beradaptasi dengan budaya Indonesia.

"Berbeda dengan Eropa yang lebih individualistis dan cenderung kurang bergaul dengan pemain lain," pungkas Ariel.

Lanjutkan Membaca ↓
Kiper Persita Tangerang, Annas Fitrianto Tetap Bugar Jelang Kembalinya Shopee Liga 1 2020