Catatan Pengamat atas Performa Timnas Indonesia U-19 Era Shin Tae-yong: Sudah Lumayan Oke, tapi..

Oleh Nandang Permana pada 16 Okt 2020, 11:15 WIB
Diperbarui 16 Okt 2020, 11:15 WIB
Timnas Indonesia U-19
Timnas Indonesia U-19 (dok. PSSI)

Bola.com, Jakarta - Pengamat sepak bola nasional, Kesit Budi Handoyo, berharap pelatih Timnas Indonesia U-19, Shin Tae-yong lebih fokus pada peningkatan fisik anak asuhnya. 

Kesit merespons rencana pelatih asal Korea Selatan itu, yang mengungkapkan keinginannya untuk menerapkan permainan cepat kepada Witan Sulaeman dkk.

Shin Tae-yong melakukan hal itu untuk menutupi kekurangan postur tubuh anak asuhya di Piala Dunia U-20 nanti.

"Keinginan STY agar Timnas Indonesia U-19 mampu bermain cepat boleh-boleh saja. Jika ini bisa diwujudkan tentunya akan sangat bagus. Masalahnya, apakah dengan materi pemain yang dipunyai, persiapan yang tidak sepenuhnya optimal mengingat kondisi pandemi saat ini, dia akan bisa mewujudkan itu?" kata Kesit kepada Bola.com, Jumat (16/10/2020).

Menurut Kesit, agak sulit apabila Shin Tae-Yong memaksakan tim asuhannya harus bisa bermain cepat. Bermain cepat, kata Kesit, membutuhkan stamina yang kuat dari pemain di semua lini.

Sementara dari delapan kali uji coba, Timnas Indonesia U-19 punya kelemahan mengembangkan permainannya di babak kedua. Banyak gol tercipta di gawang Indonesia selama uji coba pada menit-menit rawan, atau saat stamina dan konsentrasi pemain sudah buyar.

"Sementara ketika saat meraih kemenangan dengan gol lebih dari satu justru diciptakan di babak pertama. Saat memasuki babak kedua, konsistensi permainan tidak tampak. Selain sulit mengembangkan permainan, stamina juga mulai habis," ujarnya.

2 dari 4 halaman

Bermain Simpel

Timnas Indonesia U-19
Timnas Indonesia U-19 (dok. PSSI)

Menurut Kesit, sepak bola Indonesia cocok dengan permainan simpel, sejak era dulu hingga sekarang.

"Bermain simpel mengandalkan umpan-umpan pendek, dengan sesekali melakukan serangan cepat bisa diterapkan kepada tim Indonesia U-19. Tidak melulu bermain cepat sepanjang pertandingan, namun dipadukan dengan kemampuan individu masing-masing pemain. Ini akan jauh lebih efektif," ujar Kesit.

Timnas Indonesia pada masa lalu memang dikenal dengan permainan bola-bola pendek. Ketika SEA Games 1991, pelatih saat itu, Anatoli Polosin, mengandalkan kekuatan fisik. Hasilnya, Indonesia meraih medali emas dan pencapaian Aji Santoso dkk. belum bisa disamai hingga saat ini.

3 dari 4 halaman

Tantangan di Timnas Senior

Manajer pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong dan Indra Sjafri
Manajer pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, didampingi Indra Sjafri, saat sesi latihan di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Senin (13/1/2020). Sebanyak 51 pemain mengikuti seleksi untuk memperkuat skuat utama Timnas Indonesia U-19. (Bola.com/M Iqbal Ic

Di timnas level usia, Indra Sjafri dan Fakhri Husaini juga menerapkan permainan bola pendek. Tantangan bagi Shin Tae-yong ialah menerapkan strategi itu di level senior.

Seperti diketahui, kelemahan besar pemain timnas senior ada di fisik. Mendiang Alfred Riedl pada beberapa Piala AFF 2016, menerapkan strategi counter attack dengan memaksimalkan kecepatan pemain sayap.

Taktik itu cukup jitu karena Indonesia mampu mengalahkan Thailand 2-1 di leg pertama final. Pada leg kedua, kekuatan sayap tim Garuda berkurang setelah Andik Vermansah cedera. Akibatnya, Indonesia kalah 0-2.

4 dari 4 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓