Penyebab Timnas Indonesia Kandas Melulu di Final Piala AFF Menurut Kurniawan Dwi Yulianto

Oleh Vincentius Atmaja pada 12 Des 2020, 05:00 WIB
Diperbarui 12 Des 2020, 05:00 WIB
Indonesia Vs Mauritius
Pelatih Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, mengamati anak asuhnya saat melawan Mauritius pada laga uji coba di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Selasa (11/9/2018). Indonesia menang 1-0 atas Mauritius. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia sebenarnya merupakan kekuatan utama dari Asia Tenggara, selain Thailand dan Vietnam. Mirisnya, Merah Putih selalu kandas tiap kali melangkahkan kaki di final Piala AFF, pentas tertinggi sepak bola kawasan ASEAN.

Bagaimana tidak, Timnas Indonesia seperti tidak pernah absen menembus partai final. Turnamen dua tahunan yang sebelumnya bernama Piala Tiger ini pertama kali digelar pada tahun 1996 silam.

Dari 12 kali gelaran atau sejak tahun 1996 silam, Timnas Indonesia tercatat sudah lima kali tampil hingga ke partai final. Sayang, belum sekalipun Indonesia mampu menggondol gelar juara.

Penampilan apik sejak babak penyisihan grup hingga ke sistem gugur, seringkali Timnas Indonesia justru tampil antiklimaks saat di laga puncak. Indonesia tertinggal jauh dari Thailand yang sudah lima kali juara Piala AFF.

Mantan penggawa Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto memiliki pandangan tersendiri mengenai kiprah Timnas yang selalu gagal di final Piala AFF. Kurniawan juga pernah tampil di beberapa edisi Piala AFF, juga gagal mempersembahkan trofi untuk Indonesia.

"Kalau saya pribadi, setiap gagal alasannya macam-macam. Misalnya pemain yang tidak dilepas klub, persiapan mepet, bareng dengan kompetisi, pemain kelelahan," tutur Kurniawan Dwi Yulianto dalam tayangan YouTube Sportsmagz TV baru-baru ini.

"Mungkin ada yang dalam sistem sepak bola kita, karena kalau bicara talenta sudah sangat besar. Barangkali dalam sistem kompetisi atau pembinaannyamh perlu dibenahi lagi," ujarnya.

Ia memberikan contoh seperti Timnas Singapura, yang secara bakat masa depan pesepak bola mereka yang sebenarnya kalah jauh dibandingkan Timnas Indonesia. Hal yang menjadi perbedaan adalah penerapan cara bermain sepak bola secara modern dan tepat.

"Secara individual talenta mereka tidak menonjol. Tapi cara bermain mereka betul-betul terorganisasi. Sistem bermain mereka begitu rapi dan terorganisir, tidak hanya mengandalkan talenta. Memang perlu pembenahan pembinaan, keseragam filosofi, dan pastinya mental," terang Si Kurus (sapaan karib Kurniawan Dwi Yulianto).

 

2 dari 3 halaman

Kematangan Pemain Muda

Timnas Indonesia
Para pemain Timnas Indonesia hanya bisa terdiam, kontras dengan timnas Malaysia usai membobol gawang Indonesia di final leg kedua Piala AFF 2010 di Jakarta. (AFP/Bay Ismoyo)

Hal lain yang cukup menentukan bagi kekuatan Timnas Indonesia adalah soal kematangan pemain muda masa depan. Pria asal Magelang tersebut menilai pemain sekarang harus dapat berubah mindset dan keluar dari zona nyaman.

"Dalam beberapa webinar, saya selaku sampaikan bahwa pemain muda harus merubah mindset untuk bermain di level yang lebih tinggi, tidak hanya puas di satu titik saja. Tak kalah pentingnya harus menjaga kebugaran, tahu tentang nutrisi," kata pemilik 59 kali penampilan di Timnas Indonesia.

"Apapun yang menunjang performa harus dijaga. Kadang pemain muda sudah terlampau nyaman dengan kehidupan. Meski tidak 100 persen kesalahan dari pemain saja," paparnya.

"Sepak bola tidak hanya mengajarkan teknis di lapangan saja, tapi di luar itu. Sekarang kebintangan di level muda tapi hilang di saat masuk senior," jelas pria yang pernah menimba ilmu di Sampdoria.

3 dari 3 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓