Buka-bukaan Otavio Dutra dan Renan Silva, Kenangan Masa Kecil dan Kecintaan Terhadap Indonesia

Oleh Abdi Satria pada 19 Jan 2021, 15:15 WIB
Diperbarui 19 Jan 2021, 15:15 WIB
Pesona Bek Trengginas Persija Jakarta Musim Ini
2. Otavio Dutra - Dutra menjadi pemai baru yang bergabung dengan Persija di musim ini. Namun, kualitasnya sebagai bek tidak diragukan lagi. Di laga debutnya bersama Persija, bek berusia 36 tahun ini turut menyumbangkan 1 gol. (Bola.com/Yoppy Renato)

Bola.com, Makassar - Dua pemain berdarah Brasil, Otavio Dutra dan Renan Silva, masuk dalam deretan pemain yang sukses berkarier di Indonesia. Dutra yang sudah berstatus Warga Negara Indonesia sejak 2019, membawa Persebaya 1927 menjuarai Liga Primer Indonesia 2011 dan menjadi pilar Persipura Jayapura ketika berjaya di Liga Super Indonesia 2013. Kini pemain kelahiran 22 November 1983 ini masih berkiprah di kompetisi kasta tertinggi bersama Persija Jakarta.

Sementara Renan Silva yang datang ke Indonesia jelang Liga 1 2018 langsung meraih trofi juara bersama Persija Jakarta pada tahun yang sama. Setahun kemudian, ia meraih penghargaan individual sebagai pemain terbaik Liga 1 2019 saat memperkuat Borneo FC. Pada Liga 1 2020, Renan berstatus pemain Bhayangkara FC.

Beberapa waktu lalu, keduanya menyempatkan diri berbagi cerita dan pengalaman kepada puluhan pemain usia dini di lapangan KONI Depok dan kemudian ditayangkan oleh channel Youtube Tik Tak Football First. Menurut Dutra, pada dasarnya, fasilitas sepak bola di Indonesia dan Brasil tidak jauh berbeda.

"Saya malah mulai menggeluti sepak bola dengan situasi yang lebih sulit dibandingkan apa yang dihadapi anak-anak saat ini," kenang Otavio Dutra.

Dutra menceritakan, ketika itu hanya bisa berlatih di lapangan berpasir dan tidak bersepatu.

"Saya mengasah kemampuan dribling, berlari, dan menendang bola di lapangan seperti itu. Saya terus menjaga semangat dengan motivasi ingin membahagiakan keluarga, terutama mama saya," ujar Dutra yang sejak kecil diasuh oleh ibunya yang memutuskan berpisah dengan sang ayah.

Tekad yang kuat itu membuat Dutra tetap fokus kepada impiannya ketika bergabung dengan sebuah sekolah sepak bola yang jauh dari rumahnya. Ia pun tidak masalah harus tidur di sebuah ruangan yang ada di tribune stadion bersama puluhan anak lainnya.

"Saat itu, saya banyak mendapatkan masalah. Tapi, saya tidak bilang ke mama saat kami berkomunikasi di telepon," kisahnya.

Peruntungan Dutra di sepak bola mulai terbuka ketika ia direkrut klub Juventus Sao Paulo pada 2020. Setahun di sana, Dutra masih berkutat di level junior dengan bergabung di Corinthians.

Dari klub elite Brasil itu, Dutra pindah ke Noroeste yang akhirnya menjadi klub pertamanya di level senior pada 2004. Sebelum ke Indonesia pada 2010, Otavio Dutra sempat berkostum Macae Esporte Futebol Clube yang berkiprah di Serie C Brasil.

Sementara Renan Silva yang juga mengalami kondisi yang sama seperti Dutra pada masa kecilnya mengalami pengalaman yang lebih berwarna. Setelah menimba ilmu di Flamengo Junior, pria kelahiran 2 Januari 1989 ini, mengawali kiprahnya bersama Vitoria di level senior.

Saat berusia 23 tahun, Renan Silva berpeluang ke Rumania dan Uni Emirat Arab sebelum ke Brasil memperkuat Macae pada 2014. Setelah itu, Renan ke Thailand, Qatar, dan Kuwait, hingga akhirnya berlabuh ke Persija pada 2018.

Pengalaman bermain di berbagai liga luar negeri membuat Renan tidak mengalami kesulitan ketika berkostum Persija. "Saya sudah terbiasa bermain di luar Brasil sehingga tidak butuh waktu lama beradaptasi dengan kompetisi Indonesia," terang Renan.

2 dari 2 halaman

Puji Talenta Pemain Muda Indonesia

Renan Silva
Renan Silva layak didaulat sebagai pemain terbaik dalam laga Bhayangkara FC melawan Persija Jakarta setelah mencetak satu gol dan satu assist. (Bola.com/Yoppy Renato)

Otavio Dutra dan Renan Silva memiliki pendapat yang sama mengenai talenta muda di Indonesia. Menurut keduanya, talenta anak-anak Indonesia sama saja dengan Brasil ketika masih berusia dini.

"Saya melihat cara mereka melakukan dribling dan zig-zag, tak berbeda jauh ketika saya masih kecil. Satu yang mereka butuhkan adalah pembinaan dan kompetisi yang berjenjang serta konsisten," ujar Dutra.

Itulah mengapa, sebagai pemain yang kini berstatus WNI, Dutra berharap PSSI dan Pemerintah lebih memperhatikan pembinaan pemain pada usia muda.

"Jangan fokus di level atas, karena pemain muda adalah masa depan sepak bola Indonesia," tegas Dutra.

 

Lanjutkan Membaca ↓