Penggiat Sepak Bola Usia Dini Sepakat, Pembinaan Harus Lanjut Terus Meski Diadang Pademi COVID-19

Oleh Vincentius Atmaja pada 21 Feb 2021, 09:45 WIB
Diperbarui 21 Feb 2021, 09:45 WIB
Mat Halil
Mantan bek Persebaya Surabaya, Mat Halil. (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Sleman - Masa pandemi COVID-19 bukan menjadi hambatan besar bagi penggiat sepak bola usia dini di Indonesia dalam memaksimalkan potensi dan bakat anak didik.

Seperti yang dilakukan oleh sejumlah pengurus akademi maupun SSB di beberapa wilayah. Beberapa nama penggiat sepak bola usia dini, memberikan unek-unek dalam webinar bertajuk 'Akademi di Tengah Pandemi' yang digelar oleh Jurnalis Olahraga Yogyakarta (JOY), Sabtu (20/2/2021).

Empat narasumber hadir untuk memberikan penjelasan, di antaranya: Rudy Eka Priyambada (CEO Safin Pati Football Academy), Guntur Cahyo Utomo (Direktur PSS Development), Mat Halil (pengelola SSB El Faza Surabaya), dan Eladio Antonio Reyes (La Liga Akademi Jakarta).

Meski kompetisi profesional masih belum berjalan akibat dampak dari COVID-19, tak mempengaruhi beberapa SSB maupun akademi. Anak-anak didik mereka masih tetap giat berlatih, karena justru ada manfaat besar dengan fokus berlatih di masa pandemi.

Di Safin Pati Football Academy (SPFA) misalnya, Rudy Eka Priyambada selaku CEO menjelaskan proses pembinaan dan pembelajaran tidak berhenti walau dalam suasana pandemi COVID-19. Banyak hal yang bisa dilakukan di SPFA, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ada.

"Dengan pandemi ini, semua masih tetap berjalan, karena di tempat kami ada sekolah berbasis kurikulum Singapura. Jadi anak-anak masih bisa belajar sekolah formal, selain latihan setiap pagi dan sore," terang Rudy Eka dalam webinar.

"Bagaimanapun harus beradaptasi untuk menjaga kesehatan. Minimal kegiatan tetap berjalan, lebih bermanfaat ketimbang anak bermain game online, habisin pulsa, meski semua pilihan kembali ke orang tua," beber mantan pelatih Persebaya.

 

 

2 dari 4 halaman

Berjalan di Tengah Keterbatasan

Mat Halil
Eks pemain Persebaya, Mat Halil (Bola.com/Fahrizal Arnas).

Narasumber lainnya, Mat Halil juga punya cerita menarik tentang SSB yang ia kelola. Keterbatasan disebutnya bukan menjadi halangan besar untuk tetap berkonsentrasi di sepak bola usia dini.

SSB El Faza rintisannya dibangun untuk memaksimalkan potensi yang tersebar di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Bahkan ia sempat minder dengan tidak menyematkan nama akademi, dan memilih SSB sebagai wadah pembinaannya.

"Awalnya saya bangun SSB untuk mewadahi anak-anak yang kurang mampu ekonominya namun sebenarnya punya potensi dan bakat. Di Surabaya ada lapangan tapi ya banyak kurang bagus. Beda dengan akademi yang pasti lebih baik. Untuk itu saya pakai nama SSB saja. Karena pasti banyak yang ingin masuk di Persebaya dan tim internal," beber mantan pemain Persebaya.

"Kadang di dalam satu lapangan ada 100 anak yang ikut, karena jadwal yang padat. Intinya sengan keterbatasan bukan menjadi halangan," ucap Mat Halil.

Narasumber lainnya Guntur Cahyo Utomo yang merupakan direktur PSS Development, yang menjelaskan bahwa akademi menjadi ladang investasi dan sangat penting bagi pengembangan usia muda.

"Menjadi prioritas dan masuk akal karena banyak contoh di luar negeri sana, bahwa ini sebagai investasi dan bank pemain. Alhamdulillah ada tujuh pemain akademi PSS yang berkesempatan di level lebih tinggi di Timnas U-16, dan dua pemain di Garuda Select. Menjadi sebuah reward atau hadiah untuk kami," tegas Guntur Cahyo. 

3 dari 4 halaman

Dipantau La Liga

Logo La Liga
Logo La Liga (Istimewa)

Sementara Eladio Antonio Reyes, selaku perwakilan Akademi La Liga mengatakan pembinaan yang dilakukannya tetap berhubungan dengan kurikulum dari negara Matador. Tentunya menyesuaikan kultur masyarakat di Indonesia.

"Semua program yang kami jalankan, dipantau oleh La Liga. Karena sistem dan fasilitas budaya yang berbeda, setidaknya apa yang kami bisa lakukan untuk mengembangkan bakat anak-anak di Indonesia.

Menurutnya, semua harus dibuat standar berdasarkan kelompok usia, dan anak didik dapat mengerti apa yang dimau pelatih di lapangan. Sebagai contoh pemain delapan tahun dapat dicampur dengan peserta 10 tahun dalam latiha. Kemudian untuk masuk fase taktik baru dapat dimulai usia 14 tahun.

"Sepak bola Spanyol bisa saya katakan mirip di Indonesia, permainan dari kaki ke kaki. Budaya sepak bola Spanyol bisa disesuaikan di Indonesia, PSSI juga punya proyek dengan sepak bola Spanyol. Di sisi lain bukan hanya soal hasil dalam pertandingan, itu bukan target utama. Tapi menciptakan pemain dari usia dini," ungkapnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Kami:

Lanjutkan Membaca ↓