Usnadi Sang Spesialis Kiper Kedua Ungkap Alasannya Betah Bermain untuk Persebaya

Oleh Abdi Satria pada 01 Mar 2021, 17:30 WIB
Diperbarui 01 Mar 2021, 17:30 WIB
Persebaya_Logo (Bola.com/Adreanus Titus)
Persebaya_Logo (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Sosok Usnadi memang tidak terlalu menonjol ketika menjadi bagian skuad Persebaya Surabaya meraih trofi juara Perserikatan musim 1987/1989. Selama memperkuat Bajul Ijo di periode 1986-1993, pria kelahiran Gresik, 10 Februari 1963 ini hanya berstatus sebagai kiper kedua.

Menariknya, meski ada sejumlah klub Galatama seperti Petrokimia Putera dan BPD Jateng ingin memakai jasanya, Usnadi bergeming dan menampik tawaran itu. Ia memilih bertahan di Persebaya.

Sampai pensiun sebagai pemain pada 1993 karena cedera lutut yang menerpanya, Usnadi tetap berkostum Persebaya dan berstatus kiper kedua.

Berada di bawah bayang-bayang kiper legenda Persebaya, I Putu Yasa, bukan berarti nama Usnadi tak dikenang Bonek. Ia tetap jadi sorotan berkat aksinya pada dua laga penting Bajul Ijo pada 1987/1988, musim di mana tim kebanggaan Bonek dan warga Surabaya meraih trofi juara.

Laga pertama, Usnadi tampil sebagai kiper pengganti saat Persebaya kalah telak 0-12 dari Persipura Jayapura. Ia masuk menggantikan peran Eddy Mudjiarto, kiper ketiga Persebaya yang sudah kebobolan delapan gol.

Pada laga itu, gawang yang dijaga Usnadi empat kali dijebol pemain Persipura. Meski kalah telak, hasil itu disambut gembira pendukung Persebaya karena membuat PSIS Semarang, musuh bebuyutan Bajul Ijo gagal melangkah ke Babak 6 Besar.

Laga lainnya adalah ketika Persebaya Surabaya mengalahkan PSIS dengan skor 3-1 di Stadion Gelora 10 November Tambaksari Surabaya. Usnadi menjadi kiper utama karena Putu Yasa terkena sanksi larangan tampil.

 

2 dari 4 halaman

Alasan Bertahan Di Persebaya

Stadion Gelora 10 November Surabaya
LEGENDARIS - Banyak pesepak bola legendaris dari Surabaya ditempa di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya. (Bola.com/Zaidan Nazarul)

Pada kesempatan itu, Usnadi mengungkap alasan betah di Persebaya meski hanya berstatus sebagai kiper kedua. Padahal, ia mendapat tawaran menjadi kiper utama di Petrokimia Putera dan BPD Jateng yang berkiprah di Galatama, kompetisi paling bergengsi saat itu.

"Saya betah di Persebaya karena ada peluang jadi karyawan. Itu yang saya tidak dapatkan di klub yang ingin mengontrak saya. Dulu kan, sepak bola tidak seperti saat ini. Jadi, saya fokus di Persebaya demi mendapatkan pekerjaan," terang Usnadi.

Selama di Persebaya, Usnadi pernah tercatat sebagai karyawan pelabuhan Tanjung Perak sebelum diterima sebagai pegawai PDAM Surabaya.

Usnadi menjadi pegawai tetap di PDAM Surabaya usai membawa Persebaya meraih trofi juara musim 1987/1988. Saat itu, oleh Walikota Poernomo Kasidi. mayoritas pemain Persebaya ditempatkan di PDAM Surabaya.

 

3 dari 4 halaman

Setia sebagai Pelapis

Alan Haviluddin
Alan Haviluddin, pelatih kiper Persipura. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Kiprah Usnadi sebagai kiper terbilang unik, meski hanya berstatus sebagai kiper kedua Persebaya, namanya pernah masuk dalam skuat tim nasional U-23.

Menariknya di skuat Garuda, ia juga berstatus sebagai pelapis Alan Haviluddin yang diplot sebagai kiper utama pada sejumlah ajang. Di antaranya Marah Halim dan Merdeka Games di Malaysia.

"Saya tentu ingin mejadi kiper utama. Tapi, sebagai pemain, saya harus menerima apa pun keputusan pelatih," papar Usnadi.

4 dari 4 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓
Highlights Pertandingan Terakhir Babak Grup Piala Menpora 2021