Flashback Musim Fenomenal Cristian Gonzales di Persik: Juara Liga Indonesia dan Top Scorer

Oleh Abdi Satria pada 06 Apr 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 06 Apr 2021, 10:00 WIB
Cristian Gonzales
Cristian Gonzales saat membela Persik Kediri. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Jakarta - Liga Indonesia 2006 jadi musim terbaik Cristian Gonzales, striker tersubur di kompetisi kasta tertinggi Tanah Air.

Pada musim itu, El Loco, sapaan akrabnya, tak hanya membawa Persik Kediri meraih trofi juara, ia juga menjadi pencetak gol tersubur dengan 32 gol.

Sejatinya, pria kelahiran 30 Augustus 1976 ini berpeluang meraih penghargaan sebagai pemain terbaik. Alasannya, pada laga final menghadapi PSIS Semarang di Stadion Manahan Solo, 30 Juli 2006, El Loco jadi pahlawan Persik lewat gol tunggalnya pada babak tambahan waktu.

Sayangnya, pada pertandingan itu, ia diganjar kartu merah oleh wasit Jimmy Napitupulu karena terlibat insiden dengan striker PSIS, Emmanuel de Porras, dua menit ia mencetak gol pada menit ke-107.

Menurut El Loco, kejadiannya saat itu begitu cepat. PSIS yang kebobolan terus melakukan tekanan untuk menyamakan kedudukan.

Gonzales pun berinsiatif turut membantu lini belakang untuk mengamankan keunggulan satu gol itu. Pada momen itu, ia terlibat gesekan dengan De Porras. Wasit Jimmy yang melihat kejadian itu mengeluarkan kartu merah langsung kepada Gonzales.

"Tensi pertandingan saat itu memang tinggi. Jadi, insiden itu terbilang wajar. Buktinya, setelah pertandingan, hubungan saya dengan De Porras tetap baik," ujar Cristian Gonzales dalam channel Youtube jebreeetmedia TV.

2 dari 4 halaman

Gol Berkesan

Persik juara Liga Indonesia 2006
Persik juara Liga Indonesia 2006 (Bola.com/Adreanus Titus/Foto: Gatot Susetyo)

Bagi El Loco, gol tunggalnya ke gawang PSIS sekaligus jadi penentu juara Persik musim 2006 jadi momen berkesan sepanjang kariernya di Liga Indonesia.

Pasalnya, meski dikenal sebagai striker maut di kotak penalti lawan, pada laga itu El Loco praktis tak bisa berbuat banyak karena terus mendapat mengawal ketat dari bek PSIS, Fofe Kamara (Kamerun).

Pada laga itu, El Loco hanya mendapat satu peluang dan itu berbuah gol pada menit ke-107. Saking gembiranya, El Loco mengaku sampai tidak membedakan mana suporter Persik dan PSIS.

"Kebetulan warna kostum Persik dan PSIS hampir sama. Usai mencetak gol, saya langsung berlari ke arah suporter untuk merayakannya. Ternyata saya menuju ke lokasi suporter PSIS. Saya baru sadar setelah ada pemain yang berteriak untuk mengingatkan," ungkap El Loco.

 

3 dari 4 halaman

Kerja Keras Tim

Piala Juara Persik Kediri
Piala ketika Persik Kediri meraih gelar juara Liga Indonesia 2006. (Bola.com/Gatot Susetyo)

Menurut El Loco, pencapaian trofi juara oleh Persik merupakan buah kerja keras seluruh elemen tim. Ia merujuk kinerja pemain di lapangan sebagai contoh.

Di mata El Loco, siapa pun pemain yang ditampilkan sudah bekerja sesuai tugas di posisi masing-masing.

Misalnya, duet lini tengah yang dihuni Suswanto dan Harianto yang berperan sebagai penyeimbang. Begitu juga dengan deretan gelandang asing penyulai bola yang dimiliki Persik saat itu yakni Ebi Sukore, Ronald Fagundez dan Danilo Fernando.

"Mereka sudah bermain secara otomatis. Ketika memegang bola, mereka pasti melihat pergerakan saya dan Budi Sudarsono. Jadi, kalau saya dan Budi banyak mencetak gol itu semata karena kerja tim," pungkas El Loco yang mencetak gol ke gawang PSIS setelah memanfaatkan umpan Ebi Sukore.

4 dari 4 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓