Cerita Aris Budi Prasetyo, Menolak Tawaran Kontrak Rp1 M dari Selangor dan Memilih Persik

Oleh Abdi Satria pada 11 Apr 2021, 12:45 WIB
Diperbarui 11 Apr 2021, 15:21 WIB
Cristian Gonzales
Cristian Gonzales bertemu dengan Aris Budi Prasetyo. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Bola.com, Makassar - Setiap pesepak bola profesional pasti pernah mengalami masa periode emas dalam perjalanan kariernya. Seperti yang dialami Aris Budi Prasetyo, bek papan atas Liga Indonesia pada awal 2000-an. Pada 2002, pria ria kelahiran Pasuruan 22 Oktober 1975 ini jadi bagian penting sukses Petrokimia Putera meraih trofi juara Liga Indonesia.

Pada partai final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, 7 Juli 2002, Petrokimia mengalahkan Persita Tangerang dengan skor 2-1. Trofi juara ini merupakan buah penantian panjang Aris Budi yang pada musim 1999-2000 hanya mampu menjadi runner-up bersama PKT Bontang setelah ditaklukkan PSM Makassar pada partai puncak, 23 Juli 2000. Aris Budi mencetak satu dari dua gol PKT pada laga yang berakhir dengan skor 3-2 untuk PSM itu.

Selepas dari Petrokimia, Aris Budi justru memilih menerima tawaran Arema Malang yang berkiprah di Divisi I (Liga 2) pada 2003. Alasan Budi menerima tawaran Arema karena manajemen tim kebanggaan Aremania sangat serius mempersiapkan skuad untuk kembali berkiprah di kompetisi kasta tertinggi.

Apalagi, ia juga memiliki ikatan kuat dengan Arema yang merupakan tim pertamanya di level senior pada Liga Indonesia musim 1994-1995. "Selain saya ada juga Sonny Kurniawan, Erol Iba dan Marthen Tao. Alhamdulillah, Aremah meraih trofi juara dan promosi ke Divisi Utama (Liga 1)," kenang Aris Budi dalam channel youtube Pinggir Lapangan.

Bersama Arema, Aris mendapatkan periode terbaiknya di sepak bola dengan membawa tim itu, dua kali meraih trofi juara Copa Dji Sam Soe atau Piala Indonesia secara beruntun yakni pada 2005 dan 2006. Pada Pada gelar keduanya bersama Arema di ajang ini, Aris Budi juga dinobatkan sebagai pemain terbaik. Sukses yang membuat Aris jadi incaran sejumlah klub baik di dalam dan luar negeri.

Menurut Aris Budi selepas musim 2006, ada tawaran dari Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persik Kediri dan Selangor FC (Malaysia). Dua klub terakhir yang paling serius karena langsung mengajukan nominal kontrak. Aris Budi akhirnya memilih Persik meski nilai tawaran Selangor lebih besar. Klub Malaysia itu menyodorkan Rp1 M selama satu musim buat Aris. Sedang Persik hanya Rp825 M.

"Saya memilih Persik karena nilainya tak beda jauh dan saya dekat dengan keluarga," terang Aris Budi.

Apalagi saat itu, Persik Kediri sudah bersiap untuk berkiprah di Liga Champions Asia 2007. Penampilan Aris Budi di ajang paling bergengsi Asia itu terbilang lumayan. Penampilan terbaiknya bersama Persik terjadi ketika mengalahkan klub elite Australia, Sidney FC di Stadion Manahan Solo. Pada laga yang dimenangkan Persik dengan skor 2-1 itu, Aris Budi mencetak satu gol.

2 dari 3 halaman

Membina Pemain Muda

Aris Budi Prasetiya dan Claudio de Jesus
Mantan duo stoper Arema, Aris Budi Prasetiya dan Claudio de Jesus, bertemu lagi di lapangan hijau sebagai pelatih. (Bola.com/Robby Firly)

Aris Budi akhirnya memutuskan gantung sepatu saat membela Persema Malang periode 2008-2010 karena cedera ligamen yang menderanya. Kecintaannya pada sepak bola membuat Aris Budi kemudian mendirikan akademi sepakbola dengan namanya sebagai brand pada 2018 meski sudah berstatus anggota DPRD Pasuruan sejak 2014.

Menurut Aris Budi yang kini sudah mengantongi lisensi kepelatihan B-AFC ini jadi pelatih sejatinya sudah ia mulai sejak 2001 ketika masih berstatus sebagai pemain.

"Pada 2001, saya sudah mendirikan sekolah sepak bola dengan SSB Aris Putera Pasuruan," ungkap Aris Budi.Aris Budi menilai Pasuruan memiliki banyak pemain muda yang berpotensi.

"Saya ingin ada pemain asal Pasuruan yang bisa berkiprah di Liga 1 dan 2 dan bahkan menjadi pemain tim nasional Indonesia," pungkas Aris Budi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓