Cerita Firman Utina: Penalti Final AFF 2010 Jadi Penyesalan Terbesar yang Berujung Trauma

Oleh Benediktus Gerendo Pradigdo pada 23 Jun 2021, 05:00 WIB
Diperbarui 23 Jun 2021, 05:00 WIB
Timnas Indonesia - Firman Utina
Timnas Indonesia - Firman Utina (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia pada Piala AFF 2010 boleh dibilang menjadi skuad yang memiliki daya tarik tersendiri kala itu. Tim asuhan Alfred Riedl itu mampu melangkah hingga ke final dan gagal menjadi juara karena kalah agregat 2-4 dari Malaysia. Tak hanya kalah, ternyata penalti yang gagal dieksekusi dengan baik pada laga leg kedua final membuat seorang Firman Utina merasa trauma hingga hari ini.

Timnas Indonesia tampil luar biasa di Piala AFF 2010 yang ketika itu digelar di Stadion Gelora Utama Bung Karno, di mana Indonesia menjadi tuan rumah bersama Vietnam.

Tim Garuda melangkah ke final dengan sangat meyakinkan. Memenangi tiga pertandingan fase grup dengan sempurna, tim asuhan Alfred Riedl itu bahkan menyingkirkan Filipina dengan kemenangan dalam dua leg yang berakhir agregat 2-0.

Namun, dalam partai final Timnas Indonesia seakan drop menghadapi Malaysia. Kemenangan 5-1 di Gelora Bung Karno saat fase grup nyatanya tidak bisa membantu Tim Garuda yakin bisa menjadi juara. Timnas Indonesia kalah 0-3 di leg pertama yang digelar di Bukit Jalil.

Kemudian pada leg kedua yang kembali digelar di Gelora Bung Karno, Timnas Indonesia menang 2-1. Sayangnya, kemenangan itu tidak cukup untuk menyegel trofi juara karena Tim Garuda tetap kalah agregat 2-4.

Dalam pertandingan di depan puluhan ribu suporter Timnas Indonesia, anak-anak asuh Alfred Riedl sempat mendapatkan hadiah penalti saat unggul 2-1. Firman Utina yang mengenakan ban kapten maju sebagai eksekutor pada saat itu. Namun, sepakannya dengan mudah bisa dihentikan oleh kiper Malaysia, Khairul Fahmi.

Ternyata kegagalan melakukan eksekusi penalti tersebut membuat Firman Utina merasa trauma hingga saat ini. Seperti apa ceritanya?

2 dari 4 halaman

Memilih Tendangan Bebas Ketimbang Penalti

Firman Utina_(Bola.com/Arief Bagus)
Aksi pemain Persib, Firman Utina, saat bertanding melawan Pusamania Borneo FC dalam laga leg kedua perempatfinal Piala Presiden 2015 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Sabtu (26/9/2015). (Bola.com/Arief Bagus)

Dalam obrolannya bertajuk 'Taring' atau tanya ringan di channel youtube Akurasi TV, Firman Utina sempat mendapatkan pertanyaan pilihan dari host Andika Suksmana, terkait tendangan bebas atau tendangan penalti. Firman Utina pun dengan lantang memilih tendangan bebas.

"Saya pilih free kick, karena trauma kalau penalty kick. Seluruh orang di Indonesia pasti memaki," buka Firman Utina sembari tertawa.

"Kalau penalti sekali saja tidak masuk pasti diteriaki. Sampai sekarang saya masih merasa trauma. Bahkan sampai sekarang kalau saya sedang bermain biasa saja, saya tidak mau ambil penalti," lanjut Firman menegaskan mengenai traumanya terhadap eksekusi penalti.

Singkat cerita, Firman Utina pun menceritakan mengenai momen final Indonesia Super League 2014 di Gelora Sriwijaya Jakabarinng, Palembang. Ketika itu Persib Bandung menghadapi Persipura Jayapura dan pertandingan harus ditentukan melalui drama adu penalti setelah bermain imbang 2-2 dalam 120 menit pertandingan.

Menariknya, tidak ada nama Firman Utina dalam daftar lima eksekutor Persib Bandung yang kala itu menang 5-3 dalam drama adu penalti. Penalti Persib diambil oleh Makan Konate, Ferdinand Sinaga, Tony Sucipto, Supardi Nasir, dan Achmad Jufriyanto. Padahal Firman adalah kapten dalam pertandingan tersebut.

Firman Utina pun membuka kisahnya bahwa dalam pertandingan tersebut sebenarnya pelatih Persib, Djadjang Nurdjaman, menunjuknya menjadi eksekutor pertama hingga akhirnya sampai proses penalti selesai pun dia tidak mengambil eksekusi dan Persib menjadi juara.

"Pak Djadjang waktu itu sempat bilang Firman menjadi eksekutor pertama. Saya meminta jadi orang yang kedua saja. Kemudian ketika ditentukan orang kedua, saya minta jadi orang ketiga. Sampai akhirnya saya hanya berdiri saja di sana dan tidak jadi mengambil penalti. Saya tidak mendapatkan feeling-nya karena trauma dari 2010," ungkapnya.

 

3 dari 4 halaman

Jadi Penyesalan Terbesar hingga Jatuh Korban Meninggal

Pemain Thailand, Suchao Nutnum
Pemain Thailand, Suchao Nutnum, berebut bola dengan pemain Indonesia, Firman Utina saat laga semi final AFF Suzuki Cup di Jakarta, Indonesia, (16/12/2008). Thailand menang 1-0. (EPA/Mast Irham)

Firman Utina pun mengakui bahwa kegagalan penalti di final leg kedua Piala AFF 2010 itu menjadi penyesalan terbesar dalam kariernya. Bahkan ia mengungkapkan sebuah cerita adanya suporter Indonesia yang meninggal di Cirebon dan disebut-sebut karena kegagalan saat ia melakukan penalti.

"Katanya di Cirebon itu ada yang meninggal karena penalti saya. Saya tidak tahu apa benar dia serangan jantung karena penalti saya atau karena minum kopi," kisah Firman.

"Saya sempat menyambangi ke sana dan ngobrol dengan istrinya. Katanya dia pedagang nasi goreng. Kebetulan Timnas Indonesia main, dia tidak datang karena mau nonton pertandingan final yang menentukan itu. Istrinya tidak tahu momen itu, tapi ketika dia pulang suaminya sudah tidak ada. Kata orang-orang di situ gara-gara penalti Firman."

"Sempat juga banyak yang kirim pesan lewat FB menceritakan soal hal itu. Saya balas kalau memang benar saya akan datang. Saya punya keluarga di Cirebon, akhirnya saya datang ke sana dan minta maaf kepada istrinya," lanjut pemain yang masuk dalam jajaran gelandang terbaik Timnas Indonesia itu.

Sumber: Channel Youtube Akurasi TV

 

4 dari 4 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓