Timnas Indonesia: Analisis Mengapa Pasukan Shin Tae-yong Kehabisan Bensin di Babak Kedua

Oleh Wahyu Pratama pada 09 Okt 2021, 22:15 WIB
Diperbarui 09 Okt 2021, 22:15 WIB
Evan Dimas mencetak gol pertama Timnas Indonesia ke gawang Chinese Taipei dalam leg pertama babak Play-off Kualifikasi Piala Asia 2023 di Chang Arena, Buriram, Kamis (7/10/2021).
Evan Dimas mencetak gol pertama Timnas Indonesia ke gawang Chinese Taipei dalam leg pertama babak Play-off Kualifikasi Piala Asia 2023 di Chang Arena, Buriram, Kamis (7/10/2021). (PSSI).

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia baru saja mengepak kemenangan perdana bersama pelatih Shin Tae-yong (STY). Raihan tersebut didapatkan pada leg pertama play-off Kualifikasi Piala Asia 2023 kontra Chinese Taipei.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Chang Arena, Buriram, Thailand, Kamis (7/10), Evan Dimas dkk. menang 2-1 atas lawannya tersebut.

Skuad Garuda berhasil unggul dua gol terlebih dahulu lewat gol-gol dari Ramai Melvin Rumakiek dan Evan Dimas yang tercipta di masing-masing babak. Sementara gol hiburan 'tamunya' dibuat oleh Hsu Heng-pin pada menit ke-90.

Meskipun berhasil meraih kemenangan, satu gol yang dicetak Cina Taipei sungguh sangat disayangkan. Lawan pun kini jadi memiliki keunggulan gol tandang untuk menatap leg kedua di tempat yang sama, Senin (11/10/2021).

Kecolongan di menit-menit akhir pertandingan, nyatanya bukan kali pertama di era STY. Jadi pertanyaan, mengapa pertahanan Timnas Indonesia begitu rapuh saat memasuki paruh kedua?

 

2 dari 3 halaman

Vakum Kompetisi Liga 1

Asnawi Mangkualam
Pemain Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam (kanan), menggiring bola saat melawan Chinese Taipei pada Play-off Kualifikasi Piala Asia 2023 di Buriram, Thailand, Kamis (7/10/2021). (PSSI)

Jangan sepelekan keberadaan kompetisi bagi para pemain. Tanpa kompetisi, para pemain seperti kehilangan 'tujuannya' untuk berlaga di setiap pekannya.

Ketiadaan kompetisi nyaris dua tahun lamanya, membuat pemain kehilangan arah meskipun tetap menjalani latihan mandiri. Perkara disiplin juga jadi salah satu hal yang mempengaruhi kondisi fisik pemain.

Hal ini terlihat dalam beberapa partai BRI Liga 1 2021/22, beberapa pelatih sudah berkeluh kesah terkait ketahanan fisik anak asuhnya. Bahkan, beberapa diantaranya menggunakan ini sebagai alasan kegagalan meraih poin penuh.

Memang benar, permainan jadi sangat tidak enak ditonton. Pemain Timnas Indonesia terlihat sering salah dalam melakukan passing atau tak sanggup berlari mengejar bola daerah.

Langkah berat ini akhirnya berimbas saat para pemain dipanggil membela negara. Mereka seolah kehabisan bensin di babak kedua dan lawan jadi lebih mudah mengeksploitasi pertahanan.

3 dari 3 halaman

Catatan Kebobolan Era Shin Tae-yong

Victor Igbonefo (kiri) dan Muhammad Riyandi (kanan) saat membela Timnas Indonesia kontra Chinese Taipei.
Victor Igbonefo (kiri) dan Muhammad Riyandi (kanan) saat membela Timnas Indonesia kontra Chinese Taipei. (PSSI).

Tanpa menghitung catatan STY saat membesut timnas Indonesia U-19, jumlah kebobolan Timnas Indonesia terbilang mengkhawatirkan. Pelatih asal Korea Selatan itu telah mencatatkan lima pertandingan meski satu laga di antaranya terpaksa disaksikan di tribune penonton.

Saat menghadapi Uni Emirat Arab di Kualifikasi Piala Dunia 2022, dia tak bisa mendampingi anak asuhnya di pinggir lapangan. Pada laga yang berakhir dengan kekalahan lima gol tanpa balas itu, STY tengah dihukum akumulasi kartu kuning.

Dari lima pertandingan itu, jumlah kebobolan Indonesia sangat mencolok. Mereka telah kebobolan 15 kali atau rata-rata tiga gol per pertandingan.Tetapi tahukah Anda, bila lebih dari 70% kebobolan timnas Indonesia terjadi di babak kedua.

11 dari 15 gol yang bersarang ke gawang Indonesia terjadi setelah turun minum. Selain mungkin perubahan taktikal lawan yang tak bisa diantisipasi. Hal ini membuktikan bila Indonesia kerap kehilangan fokus dan konsentrasi di babak kedua.

Lanjutkan Membaca ↓