Timnas Indonesia U-23 Vs Australia U-23: Ulasan Penggawa Garuda Muda yang Berkarier di Luar Negeri

Oleh Gregah Nurikhsani pada 27 Okt 2021, 13:30 WIB
Diperbarui 27 Okt 2021, 13:30 WIB
Winger Timnas Indonesia U-23, Witan Sulaeman.
Winger Timnas Indonesia U-23, Witan Sulaeman. (Instagram PSSI).

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia U-23 menelan kekalahan 2-3 dari Australia U-23 pada leg pertama Kualifikasi Piala Asia U-23 2022, Selasa (27/10/2021) malam WIB. Witan Sulamen, striker Lechia Gdansk, mencetak satu gol pada laga tersebut.

Penampilan penjaga gawang Timnas Indonesia U-23, Ernando Ari Sutaryadi cukup mencolok perhatian pencinta sepak bola Tanah Air. Kiper Persebaya Surabaya itu tercatat melakukan lima saves, termasuk ketika menyelamatkan penalti hasil tendangan Patrick Wood menit keempat.

Sayang, performa cemerlang Ernando gagal terulang pada babak kedua. Gawang Timnas Indonesia U-23 dibobol tiga kali, meski tentu saja bukan kesalahannya semata.

Di sisi lain, kekalahan 2-3 tetap membuat kans Timnas Indonesia U-23 untuk lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2022 masih terbuka. Apalagi tidak ada peraturan gol tandang, sehingga jika menang 1-0 pada leg kedua, laga bakal dilanjutkan ke babak adu penalti.

Gol Witan Sulaeman dan Taufik Hidayat pada laga tersebut praktis membuat asa Timnas Indonesia U-23 tetap tinggi. Khusus teruntuk Witan, gol ini makin menunjukkan betapa ia sangat bisa diandalkan timnya untuk memecah kebuntuan.

Selain itu, gol Witan Sulaeman juga menjad bukti bahwa kiprahnya di luar negeri tidak sekadar euforia semu semata, baik untuk kariernya, maupun kebanggaan rakyat Tanah Air. Lantas, bagaimana performa pemain yang berkarier di luar negeri pada pertandingan Timnas Indonesia U-23 tadi malam?

2 dari 4 halaman

Bagus Kahfi

Timnas Indonesia Vs Australia
Pemain Timnas Indonesia U-23, Bagus Kahfi (kanan), mencoba melepaskan diri dari kawalan dua pemain Australia U-23. (dok. PSSI)

Dalam formasi 4-1-4-1, Bagus Kahfi ditugaskan tak cuma untuk mencetak gol saja, tapi juga menjadi 'pelayan' buat Hanis Saghara. Sayang, sulitnya Timnas Indonesia U-23 mengembangkan permainan praktis membuat pemain FC Utrech ini juga mati kutu.

Pada awal babak pertama, terlihat ia diberikan free role dari coach Shin Tae-yong untuk bergerak bebas. Keberadaan Rachmat Irianto yang mendapatkan mandat sebagai sweeper dan ditempatkan di posisi gelandang bertahan membuat Bagus seharusnya bisa bebas berkelana menciptakan peluang dan memanfaatkan peluang.

Gunansar Mandowen kemudian berperan sebagai penyeimbang di lini tengah, yang siap membantu pertahanan dan cekatan melakukan tusukan sebagai dummy dari belakang Hanis Saghara. Lagi-lagi, taktik ini tak bisa berkembang banyak akibat tekanan dari Australia U-23 yang unggul 72 persen penguasaan bola.

Bagus tidak sanggup berbuat banyak karena aliran bola dari belakang sangat sulit melewati garis tengah lapangan. Alih-alih mengkreasi serangan, ia justru sering turun terlalu jauh di belakang. Transisi yang kurang apik dari bertahan ke menyerang pun membuat serangan Timnas Indonesia U-23 tumpul.

3 dari 4 halaman

Asnawi Mangkualam

Bek Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam.
Bek Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam. (Instagram PSSI).

Beban berat dipikul Asnawi Mangkualam yang pada laga kontra Australia U-23 menjabat sebagai kapten. Menyisir dari sisi kanan, terobosan-terobosan dan kerjasamanya dengan Witan Sulaeman di depannya tak banyak membuahkan hasil.

Rachmat Irianto sebetulnya memberikan kenyamanan buat Asnawi dan Pratama Arhan untuk ikut membantu serangan dari kedua sisi. Sayangnya, pergerakan dari pinggir lapangan banyak terhambat karena Timnas Indonesia U-23 dipaksa bermain rapat oleh lawan.

Asnawi justru lebih sering bikin repot temannya karena telat mundur ketika menghadapi serangan balik. Pemain Ansan Greeners ini tak sepenuhnya salah, sebab ada missing link di lini tengah dan depan.

Bola.com mencatat, Timnas Indonesia U-23 jarang menguasai bola lebih dari 10 detik. Ini tentu saja menyulitkan kreasi-kreasi serangan dari sisi lapangan yang acap kali jadi senjata utama tim besutan Shin Tae-yong tersebut.

4 dari 4 halaman

Witan Sulaeman

Ilustrasi - Witan Sulaeman
Ilustrasi - Witan Sulaeman (Bola.com/Adreanus Titus)

Andai Ernando tidak kebobolan tiga gol, maka ia layak dijadikan sebagai man of the match. Namun, Witan, lewat gol indahnya, berhak untuk mendapatkan titel tersebut.

Satu-satunya noda yang diciptakan Witan adalah kartu kuning yang diterimanya. Padahal, itu merupakan pelanggaran pertama yang ia lakukan.

Dinukil dari lapangbola.com, Witan mengoleksi 16 operan sukses. Ia juga mendapatkan rating sebesar 7,38, yang terbaik dari seluruh pemain dari kedua kesebelasan meski Jacob Italiano sebetulnya juga bermain impresif.

Diharapkan, Witan mampu mengulang penampilannya atau lebih baik lagi pada leg kedua pada 29 Oktober mendatang.

Lanjutkan Membaca ↓