Momen Emosional Manchester United Rayakan Trofi Premier League 1993, Akhir Paceklik Gelar 26 Tahun

Oleh Yus Mei Sawitri pada 04 Mei 2020, 10:15 WIB
Diperbarui 04 Mei 2020, 10:15 WIB
Logo Ilustrasi MU
Suasana di luar kandang Manchester United (MU), Old Trafford. (AFP/Oli Scarff)

Bola.com, Jakarta - Manchester United pernah mengalami masa-masa suram panjang tanpa gelar. Setan Merah bahkan merasakan paceklik gelar liga selama 26 tahun sebelum menyudahinya pada 1993.

Beragam manuver dilakukan Manchester United untuk kembali merajai kasta teratas sepak bola Inggris. Tapi, selalu gagal total. Fans Manchester United harus menengok jauh ke belakang hingga tahun 1967 untuk mengenang kejayaan klub menggenggam titel liga. 

Rona nasib membawa Manchester United ke jalur yang benar melalui kedatangan Sir Alex Ferguson pada 1986. Meski sempat hampir dipecat, Ferguson tetap bertahan, dan akhirnya menjawab doa-doa panjang para suporter. 

Tujuh tahun setelah Sir Alex Ferguson didapuk menjadi pelatih Manchester United, penantian fans untuk kembali merajai liga kesampaian juga. Pada 3 Mei 1993, Setan Merah berhasil menjuarai Premier League. 

Perayaan gelar juara berlangsung gila-gilaan dan meriah. Dahaga panjang terbayar sudah. Perasaan para pemain tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semuanya merayakan dengan emosional. 

Legenda Manchester United, Ryan Giggs, masih berusia 19 tahun ketika merengkuh medali Premier League pertamanya. Kegembiraannya melambung tinggi. 

"Emosi yang kami rasakan sungguh hebat karena akhirnya kami berhasil. Itu salah satu hari terbaik saat mengendarai mobil menuju Old Trafford. Saya menunggangi Ford Escort Mexico merah kecil milik saya dan fans mengguncang dan naik ke mobil," kata Giggs mengenang malam bersejarah itu, seperti dilansir The Sun, Minggu (3/5/2020).

"Semua emosi tersaji di tengah lautan massa ketika kami menjadi juara Premier League 1992-1993." 

"Itu benar-benar malam yang luar biasa. Salah satu malam terhebat sepanjang masa," imbuh pemain jebolan akademi Manchester United itu. 

Euforia serupa dirasakan legenda lain Manchester United, Gary Pallister. "Itu titel favorit saya karena saya tak pernah merasakan emosi seperti itu di dalam Old Trafford," ujar Palister. 

Mau ikuti challenge 5 tahun Bola.com dengan hadiah menarik? Klik Tautan ini.

 

2 dari 3 halaman

Beban Berat

Ryan Giggs, Legenda Manchester United yang Bakatnya Ditemukan Tukang Susu
Berkat dedikasi dan pengabdiannya di dunia sepak bola, kerajaan Inggris memberikan gelar kebangsawanan Order of the British Empire (OBE) kepada Giggs pada 2007. (AFP/Fiona Hanson//POOL)

Perjuangan Manchester United merengkuh titel Premier League pada 1992-1993 tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setan Merah menyambut musim tersebut dengan digelayuti beban besar. 

Mereka masih merasakan kepedihan setelah gagal menjuarai Liga Inggris karena kalah bersaing dengan seteru berat, Leeds United, 12 bulan sebelumnya.  

Kegagalan MU terkonfirmasi setelah kalah 0-2 dari Liverpool. Fans Setan Merah hanya bisa termangu. Mereka mulai meragukan dan bertanya-tanya apakah Red Devils bisa juara lagi. 

"Saya tahu mengenai besarnya tekanan. Tapi saya tak merasakannya sebesar pemain yang lebih tua seperti Bryan Robson, Steve Bruce, Pallister, dan Brian McClair, yang sudah lama di klub ini, menanggung beban, dan sudah sangat dekat," kenang Gigss, tentang memori pahit kekalahan di Anfield yang membuat MU gagal menjuarai liga musim 1991-1992. 

"Anda bisa melihat kekecewaan besar di ruang ganti Anfield. Rasanya hancur. Kami berada di puncak hampir sepanjang musim, tapi kemudian ada badai cedera, harus memainkan lima laga dalam 10 hari dan kehabisan tenaga." 

"Saya merasakan tekanan ketika kami gagal. Kami tahu ini artinya sangat besar. Saya kemudian pergi berlibur dan fans mendatangi saya dan bertaanya 'apakah kita bisa juara liga lagi?'. Pertanyaan itu membuat semua orang bersemangat kembali menghadapi musim berikutnya dan bermain lebih baik," imbuh Gigss. 

 

 

3 dari 3 halaman

Ejekan Berbuah Gol Tendangan Bebas

Gary Pallister
Gary Pallister (Man Utd)

Manchester United menyegel gelar perdana Premier League atau trofi liga yang pertama sejak 1967 pada laga kontra Blackburn Rovers di Old Trafford. Laga krusial itu dimenangi MU dengan skor 3-1. 

Blackburn Rovers sempat mengejutkan Manchester United ketika mencuri gol pada menit kedelapan melalui Kevin Gallacher.  Setan Merah tidak panik. 

Mereka menyamakan skor melalui tendangan bebas menakjubkan dari Ryan Gigss, sebelum Paul Ince menggandakan keunggulan pada awal babak kedua. 

Pada menit-menit akhir pertandingan, Manchester United mendapat tendangan bebas di dekat kotak penalti Blackburn. Pallister maju sebagai eksekutor dan berhasil membobol gawang Blackburn. 

Kemenangan 3-1 membuat Manchester United menyegel gelar juara Premier League, dengan koleksi 84 poin. Tim besutan Ferguson unggul 10 poin atas peringkat kedua yang ditempati Aston Villa. 

Setelah pertandingan Pallister mengatakan sengaja mengambil tendangan bebas itu karena malu. Sebelum laga melawan Blanckburn dia mengaku diejek Bryan Robson karena menjadi satu-satunya pemain selain kiper yang tidak mencetak gol pada musim ini. Jadi ketika ada kesempatan mencetak gol, Pallister langsung menyambarnya. 

Giggsy, Paul Incey, Eric Cantona, Denis Irwin, semua ingin mengambil tendang bebas, tapi Pallister bersikeras. "Tidak, kalian semua menyingkir. Ini satu-satunya kesempatan saya. Mereka kasihan dan membiarkan saya menendangnya. Saya menendangnya ke arah pojok bawah, tapi sepertinya sedikit menyentuh pemain lain," kenang Pallister. 

"Itu benar-benar luar biasa bagi saya dan semua orang menikmatinya," imbuh Pallister. 

Trofi Premier League yang diraih pada 1993 menjadi pembuka gerbang kesuksesan Manchester United. Setan Merah total mengoleksi 13 titel di era Premier League, terakhir pada 2013, yang merupakan musim perpisahan dengan Sir Alex Ferguson. 

Sumber: The Sun  

 

Lanjutkan Membaca ↓