Bos Yamaha Mengenang Susahnya Mengatur Duet Rossi dan Lorenzo, tapi Ada Trik Khususnya

Oleh Yus Mei Sawitri pada 31 Jul 2020, 17:45 WIB
Diperbarui 31 Jul 2020, 17:45 WIB
Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi
Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo saat memperkuat Yamaha. (EPA/Ettore Ferrari)

Bola.com, Jakarta - Bos Yamaha, Lin Jarvis, menyatakan memiliki dua pembalap yang sama-sama berstatus juara dunia menimbulkan tantangan berat. Dia pernah merasakan pengalaman itu saat menangani duet Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. 

Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo dikenal memiliki rivalitas yang sengit saat masih sama-sama memperkuat Yamaha. Bahkan, garasi mereka diberi penyekat untuk pemisah.  

Meskipun sulit menangani kedua pembalap, Lin Jarvis bisa dibilang mampu melakukannya dengan sempurna. Parameternya adalah koleksi gelar yang diraih Yamaha pada tahun itu. 

Menurut Jarvis, ada tiga kunci untuk menangani tim yang berisikan dua pembalap papan atas seperti Rossi dan Lorenzo.

"Kuncinya kesenangan, diplomasi, dan kesulitan. Itu adalah periode paling memuaskan. Kami memangani empat gelar juara dunia bersama Vale, kemudian tiga bersama Jorge. Ketika mereka berduet, kami menang empat titel. Itu membawa banyak hal positif dan respons hebat," kata Lin Jarvis pada podcast MotoGP, seperti dilansir Tuttomoriweb, Jumat (31/7/2020).  

Menurut Jarvis, bagian tersulit yang dihadapi petinggi Yamaha saat itu adalah menjaga kesetaraan perlakuan terhadap kedua pembalap. 

"Itu agak sulit, karena setiap atlet papan atas sangat fokus pada tujuannya dan hal terakhir yang dia pedulikan adalah apakah rekan setimnya bisa meraihnya atau tidak," tutur Jarvis. 

"Anda harus berusaha menjaga mereka secara individu dan memastikan selalu memberi jaminan perlakuan yang adil terhadap mereka," imbuh Jarvis tentang kiatnya menangani Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo dalam satu tim yang sama. 

 

2 dari 2 halaman

Strategi Tepat

Bos Yamaha Sebut Marquez Sengaja Memprovokasi Rossi
Bos Yamaha, Lin Jarvis, mengatakan Marc Marquez memiliki andil dalam insiden kontra Valentino Rossi di Sirkuit Sepang.

Meskipun sulit, Jarvis meyakini stretegi yang mereka terapkan saat itu adalah yang terbaik, meskipun ada banyak kendala. 

"Bukan berarti setiap hal untuk mereka selalu sama. Filosofi terhadap dua pembalap itu sama, tapi jika satu orang menginginkan satu hal dan yang lain, maka salah satu harus berhati-hati untuk memisahkan diri," urai Jarvis.

"Anda masa-masa ketika  Anda harus mengatur pembalap, egonya, harapan, dan permintaan yang terkadang tak bisa kami puaskan." 

"Tapi jika Anda tanya kepada saya apakah saya akan selalu memilih dua pembalap papan dibanding memiliki pembalap nomor 1 dan 2. Itu lebih merangsang dan menuntut," imbuh Jarvis.  

 

Lanjutkan Membaca ↓
Franco Morbidelli Tercepat di MotoGP San Marino, Valentino Rossi Gagal Podium