Toni Syarifudin, Asa Pebalap BMX Pertama Indonesia di Olimpiade

Oleh Muhammad Wirawan Kusuma pada 22 Jul 2016, 11:30 WIB
Diperbarui 22 Jul 2016, 11:30 WIB
Toni Syarifudin
Atlet BMX Indonesia, Toni Syarifudin, siap tempur pada ajang Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. (Bola.com/Adrianus Titus)

Bola.com, Jakarta - Toni Syarifudin menjadi satu-satunya wakil Indonesia pada ajang Olimpiade 2016 Rio de Janeiro untuk cabang olahraga sepeda nomor BMX. Dia menjadi pebalap sepeda BMX pertama asal Indonesia yang bisa mencicipi ajang multievent empat tahunan tersebut.

Indonesia sebenarnya tak mendapatkan tiket ke Olimpiade pada cabor ini. Namun, tim Merah Putih seperti mendapat durian runtuh setelah Brasil yang lolos kualifikasi, mendapat kuota sebagai tuan rumah.

Tiket yang direbut Brasil pada babak kualifikasi akhirnya diberikan kepada Indonesia, negara dengan ranking tertinggi Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI).  Tiket tersebut kemudian diberikan kepada Toni, pebalap BMX Indonesia yang rankingnya paling tinggi.

Persiapan matang telah dilakukan pebalap berusia 25 tahun ini. Selain berlatih di Banyuwangi, Toni juga telah tampil di beberapa turnamen seperti Kejuaraan Dunia di Kolombia, serta Kejuaraan BMX di Thailand dan Jepang.

Dalam waktu dekat, Toni akan berangkat ke Amerika Serikat untuk menjalani training camp. Persiapan matang tersebut diharapkan mampu mengantar sang atlet meraih hasil terbaik di Rio de Janiero.

"Persiapan saya kurang lebih 90 persen. Rencananya saya mau latihan di Amerika Serikat sebelum ke Brasil. Soalnya trek yang buat bertanding nanti ukurannya besar (supercross) dan di Indonesia belum ada, adanya di Amerika Serikat. Jadi harus adaptasi dulu sama trek yang besar supaya maksimal," kata Toni kepada Bola.com, belum lama ini.

"Tentunya saya ingin medali, tapi saya ingin bersaing dulu. Lihat dulu persiapan di Amerika nanti seperti apa," tambahnya.

Keberhasilan Toni meraih tiket olimpiade tidak datang begitu saja. Perjuangannya hingga menjadi pebalap sepeda BMX yang mumpuni membutuhkan jalan yang berliku. Yang pasti, sejak remaja, dia memang telah terobsesi pada BMX. Saat masih berusia 13 tahun, dia nekat turun pada balapan sepeda BMX di Klaten, Jawa Tengah, di kategori usia lebih tinggi.

Meski pengalaman pertama tak langsung berujung prestasi manis, Toni tak putus asa. Dia rajin mengikuti berbagai perlombaan BMX di wilayah Jateng. Setelah itu, dia berkesempatan mewakili Jateng di ajang PON XVII Kalimantan Timur  pada 2008 dan langsung mempersembahkan medali emas. Toni pun semakin melebarkan sayap, dengan mengikuti berbagai perlombaan BMX di dalam dan luar negeri. Pada 2011, dia berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menjuarai Thailand National Series.

Sayangnya, pada SEA Games tahun yang sama, Toni hanya mempersembahkan medali perak untuk Merah Putih. Meski demikian, prestasi Toni itu mendapat perhatian UCI. Mereka lantas memberikan beasiswa kepada Toni untuk berlatih di Swiss selama tiga tahun, mulai 2010 hingga 2013. Di Swiss, Toni terus mengasah tekniknya dan mengikuti berbagai seri kejuaraan di Eropa.   

Yang jelas, berbagai prestasi membanggakan sudah diraih Toni Syarifudin.  Tentunya, semuanya bakal terasa lebih lengkap jika atlet kelahiran Klaten, Jawa Tengah, tersebut meraih medali pada ajang Olimpiade.