Kolom Ian Situmorang: Analisis Prancis Kontra Argentina

Oleh Nurfahmi Budi pada 30 Jun 2018, 07:30 WIB
Ian Situmorang

 

Ian Situmorang, Wartawan Olahraga Senior NO Compromise. No Draw. Segala sesuatu harus tuntas, tidak ada lagi istilah mengatur strategi menyimpan tenaga. Kini sudah masuk fase knockout. Kalau menang, berarti lanjut, jika kalah sama dengan segera angkat koper alias pulang kampung.

Piala Dunia Rusia 2018 telah mencatat sejarah duka bagi juara bertahan Jerman. Sungguh memalukan dan di luar nalar, tim yang dikenal kental sebagai pemilik 'Staying Power' ini terjerembab sebagai juru kunci Grup F. Duka pelatih Joachim Low lebih dalam, karena armadanya dipaksa pulang oleh tim Asia, Korea Selatan dengan skor kekalahan 0-2 pada pertandingan akhir.

Tak hanya nasib Jerman, atensi publik juga tertuju kepada performa beberapa tim-tim raksasa. Sebut saja misalnya Argentina. Tim Tango terseok-seok untuk mampu lolos dari lubang jarum hingga detik terakhir. Brasil, penyandang lima mahkota Piala Dunia, juga layak 'bersyukur' bisa lolos dari adangan kerikil tajam Serbia.

Begitulah sepakbola, semakin sulit diprediksi maka harga pasarnya semakin tinggi, dan berkorelasi dengan tambahan nuansa menarik untuk ditunggu hingga akhir cerita. Baru di babak penyisihan sudah menyuguhkan drama menegangkan. Entah cerita apalagi yang akan kita dengar dan saksikan ketika sudah masuk fase 16 Besar. Maklum, pada tataran ini, konsep dasar sudah siap membuat setiap tim tampil maksimal: kalah, out!

Perhatian pertama publik bakal terjadi pada laga malam ini. Hal itu terjadi karena duel menyajikan pertarungan dua raksasa sepak bola dunia. Kali ini, partai hidup-mati menyajikan pergulatan Prancis kontra Argentina.

Satu yang menarik, kedua tim hadir dari jalan berbeda. Prancis lolos ke Babak 16 Besar dengan nuansa mulus. Sementara Argentina harus melalui perjuangan berat, yang satu di antaranya bisa tergambar dari darah yang menetes dari pelipis mata Javier Mascherano, plus aksi menawan yang mulai hadir dari Lionel Messi.

Prancis di bawah ahli strategi Didier Deschamps menemukan format pemain menggairahkan. Tim ini boleh disebut berisi barisan pemain muda bertalenta, walau sering diwarnai karakter pemain yang sedikit sulit dikendalikan. Satu di antara contoh tersebut ada dalam diri Paul Pogba. Bahkan pemain tengah Manchester United ini nyaris dicoret dari tim oleh pelatih.

Kunci penampilan terbaik Prancis ada pada barisan tengah. Selain Pogba, ada pemain Atletico Madrid, Antoine Griezman yang juga berfungsi sebagai striker bayangan. Pergerakan dan pertukaran tempat di tengah sering membuat lawan bingung mengambil keputusan melakukan sistem penjagaan. Ada lagi pemain muda asal Barcelona Ousmane Dembele dan si pekerja keras, N'Golo Kante.

Senjata Prancis masih ada. Walau belum memiliki pengalaman yang banyak, tapi striker muda berusia 19 tahun, Kylian Mbappe tidak mudah dihentikan. Jika kondisi mulai menurun, sang veteran Oliver Giroud (31) siap menggantikan.

Keberadaan kiper senior Hugo Lloris tak tergantikan di bawah mister akan merasa nyaman karena para tiang gadang ada di depannya. Kita sebut saja penghuni bek yang tangguh semacam Samuel Umtiti dan Raphael Varane, yang didukung Benjamin Pavard di kanan dan Lucas Hernandez di area kiri.

Kekuatan Argentina sesungguhnya sangat komplet, namun pelatih Jorge Sampaoli hingga perhelatan di Rusia belum menemukan Starting XI secara baku. Beberapa kali perubahan komposisi yang dilakukan secara diam-diam tidak mendapatkan rasa simpati dari pemain dan publik Argentina.

Di lapangan, secara realitas, kekompakan dan saling paham di antara pemain belum terjalin baik. Justru Argentina tampil bagaikan sekelompok pemain cabutan secara mendadak. Irama tarian Tango yang sejatinya adalah gerakan harmonis yang mengandalkan feeling, sama sekali tidak tampak. Mascherano bekerja sendiri, Otamendi bertarung sendiri.

Sulit diterima akal bagaimana talenta penyerang yang berlimpah Argentina tidak mampu tampil baik. Bayangkan ada nama-nama besar: Lionel Messi, SergioAguero, Paulo Dybala, Giovani Lo Celso, Gonzalo Higuain hingga Angel Di Maria. Tiga kesempatan dengan komposisi Starting XI sudah dilalui. Terjal jalannya tapi mampu dilalui. Apakah sudah cukup kuat menjadi satu tim solid menghadapi kekompakan Prancis?

Saya masih belum yakin betul apakah Sampaoli sudah menerima racikan paling sedap dan tepat guna. Prancis, yang memiliki masa istirahat lebih baik, akan tetap saya tempatkan memiliki keunggulan tipis 51 persen dibanding Argentina 49 persen.

Tentu ada syarat-syarat yang menjadi bahan pertimbangan. Pogba tidak boleh bermain egoistis dan terpancing emosi. Begitu Argentina unggul lebih dulu dan semakin percaya diri, maka Prancis bisa dalam ancaman.