Kolom Ian Situmorang: Menanti Tandukan Super Mario

Oleh Nurfahmi Budi pada 01 Jul 2018, 13:11 WIB
Kolom Ian Situmorang

 

Ian Situmorang, Wartawan Olahraga Senior TAK berlebihan kalau dikatakan roh Kroasia telah hidup kembali dalam tubuh sang kapten, Luca Modric. Pemain Real Madrid ini adalah kreator brilian bagi pasukan kotak-kotak merah-putih ini. Modric mampu mengatur irama permainan dari garis tengah hingga ke kotak pertahanan lawan.

Selama perhelatan Piala Dunia Rusia 2018, Kroasia adalah satu dari tiga negara yang mencatat hasil sempurna dengan tiga kali menang dari tiga laga dengan mencetak 7 gol dan sekali kebobolan.

Fakta itu menunjukkan barisan depan memiliki ketajaman yang layak diperhitungkan. Satu di antaranya bisa terlihat kala Kroasia mencukur Argentina dengan skor 3-0. Namun, punya bekal bagus tak harus membuat Kroasia jemawa. Mereka tetap harus waspada.

Maklum, situasi dan nuansa berbeda bakal terjadi antara fase kualifikasi dengan fase gugur. Pada fase knock-out, tekanan dan tuntutan menang jauh lebih besar, karena tidak ada lagi kesempatan memperbaiki diri. Prinsip harus menang, itulah yang membuat setiap pemain diwajibkan tampil sempurna, zero defect.

Kekuatan Kroasia adalah kekompakan tim. Ibarat sebuah orkestra yang terdengar harmonis, padahal lahir dari berbagai bunyi-bunyian. Karena tampil sesuai partitur yang rumit, maka hasilnya terdengar padu dan merdu. Tentu semuanya ini bisa terjadi karena materi pemain yang merata dan masing-masing memiliki sikap profesional yang memiliki respek pada diri sendiri dan kepada rekan setim.

Beruntung Pelatih Kroasia, Zlatko Dalic memiliki banyak materi pemain kelas utama dengan pengalaman kompetisi di Liga Eropa. Selain Luka Modric (Madrid), ada lagi pemain dengan kapasitas serupa, Ivan Rakitic (Barcelona) yang memiliki karakter petarung dengan akurasi umpan kelas tinggi.

Koleksi 6 gol dengan hanya sekali kebobolan menunjukkan betapa tangguh dan serasi permainan di baris belakang. Ada Dejan Lovren dan Ivan Strinic yang tak mengenal kompromi dan belas kasihan terhadap lawan. Penjaga gawang senior, Danijel Subasic, melengkapi ketangguhan barisan belakang. Paket tersebut membuat area bertahan Kroasia tangguh.

Nama besar Ivan Parisic dan Mario Mandzukic adalah jaminan yang piawai memborbardir gawang lawan. Setidaknya duet ini mampu menarik perhatian pemain belakang musuh, sehingga membuka pintu bagi Luka Modric dan Ivan Rakitic mencetak gol.

Satu yang layak ditunggu adalah performa Mario Mandzukic. Berbekal pengalaman berada di klub sebesar Juventus, setelah sebelumnya bersama Bayern Munchen, membuat publik berharap Super Mario tampil maksimal.

Secara kualitas individu, Mandzukic tergolong lengkap sebagai ujung tombak. Dia bisa menyisir, seperti yang terbiasa dilakukan bersam Juventus, atau berstatus target man. Senjata andalannya pun terbilang komplit, termasuk keahlian dalam duel di udara.

Beruntung Tim Dinamit Demark berhasil lolos ke fase gugur. Memang Kasper Schmeichel dkk tampil cukup baik, tapi level Juara Piala Eropa 1992 ini tidak masuk kategori yang bakal mencetak kejutan besar, misalnya lolos hingga semi final.

Menghadapi Kroasia, Denmark akan kesulitan membongkar pertahanan yang dikomandoi Dejan Lovren. Bermain agresif dengan kekuatan fisik akan diterapkan Simon Kjaer dkk guna mengimbagi kecepatan dan umpan-umpan yang diarsiteki Modric dan Rakitic.

Pasukan Denmark yang dilatih Age Hareide, sama sekali tidak boleh kendur. Intinya, mereka harus bermain keras dan ketat sejak menit awal. Sekali memberi peluang bagi Kroasia mengembangkan konsep bermain bola-bola operan pendek, itulah awal kehancuran Denmark.

Membuka data pertemuan, memang kedua tim memiliki rekor yang sama. Tercatat lima kali berlaga dengan 2 kali menang, sekali seri dan 2 kali kalah. Menarik, sebab pertemuan terakhir mereka terjadi 14 tahun silam, tepatnya 5 Juni 2004 dengan hasil Kroasia menang 2-1.

Secara keseluruhan, Kroasia diprediksi berpeluang lebih besar lolos ke babak perdelapan final. Tidak mustahil selisih 2 gol untuk keunggulan Kroasia. Namun, pemain belakang Kroasia harus menaruh perhatian ekstra terhadap pemain kunci Denmark, Christian Eriksen. Pemain tengah Tottenham Hotspur ini memiliki senjata pamungkas dengan tendangan keras dari luar kotak penalti.

Mungkinkah satu gol lewat tandukan Super Mario Mandzukic akan terjadi? Menarik untuk disimak.