Kolom Ian Situmorang: Transformasi Jogo Bonito

Oleh Erwin Fitriansyah pada 02 Jul 2018, 14:12 WIB
Kolom Ian Situmorang

 

Ian Situmorang, Wartawan Olahraga Senior Brasil hanya bermain imbang 1-1 pada pertandingan pertama melawan Swiss. Penampilan Brasil, lima kali peraih Piala Dunia, terkesan seadanya. Para pengamat pun menilai tim Selecao bakal habis dan segera angkat koper.

Namun secara perlahan, Neymar cs. mampu menunjukkan taringnya.Dua lawan berikut, Kosta Rika dan Serbia dihajar masing-masing dengan skor 2-0. Format, formasi, dan chemistry di antara para pemain sudah mencair dan berada pada frekuensi yang sama.

Adenor Leonardo Baci alias Tite, pelatih Brasil ternyata berpikiran terbuka. Ia tidak terkungkung untuk setia tanpa rencana cadangan pada konsep sepakbola indah – jogobonito. Tite melakukan transformasi, gabungan sepakbola indah dengan kebutuhan pragmatis demi mengejar kemenangan.

Konsep itu berjalan baik. Talenta-talenta alamiah yang luar biasa dari pemain dipoles untuk dapat tampil sebagai tim. Neymar dan Coutinho tidak dilarang memperagakan aksi individual, tapi harus ada batasnya karena pemain lainnya bukan sekadar penonton.

Materi pemain yang mumpuni mulai dari barisan pertahanan hingga ujung tombak sudah lengkap. Brasil tidak butuh pemain anak kemarin sore, Tite tetap lebih percaya kepada pasukan senior. Saking senior dan berkelas wahid, Tite bahkan secara bergiliran memberikan ban kapten kepada pemain berbeda. Sebut saja Marcelo, Miranda, Thiago Silva, dan tidak mustahil giliran Neymar.

Beban kekalahan di semifinal 1-7 di negeri sendiri empat tahun silam menjadi bagian dari pembakar semangat tampil di Rusia. Satu dendam sudah terbalas, sebab juara bertahan Jerman yang mempermalukan mereka sudah balik menjadi pecundang, tersingkir di babak penyisihan grup.

Bagaimana kekuatan El Tri, Meksiko? Kemenangan spektakuler di pertandingan awal menghadapi Jerman merupakan booster bagi Javier Hernandez cs. Selanjutnya Meksiko memukul Korsel 2-1. Sayang pada perebutan posisi juara grup malah tumbang dari Swedia secara menyakitkan, 0-3.

Analisis awal, Meksiko memang kalah pamor dari Swedia dan Grup E akan diwakili Jerman dan Swedia. Ternyata perjuangan pasukan pelatih Juan Carlos Osorio memberikan hasil luar biasa. Kemenangan atas Jerman menjadi kebanggaan tersendiri.

Menghadapi Brasil untuk berebut tiket ke 8Besar bukan situasi yang ideal bagi Tim Sombrero. Dari empat kali pertemuan, Brasil menang tiga kali dan seri satu kali. Hebatnya, Selecao membukukan hasil meyakinkan dengan perbandingan gol 11-0.

Apakah rekor memikat ini akan terulang kembali di Samara Arena? Rekor adalah catatan di masa lalu. Kini Meksiko sudah membuktikan mampu menggulingkan juara bertahan Jerman. Harapan itu pula yang disimpan Carlos Vela dan kawan-kawan sebagai keyakinan membuat kejutan terbesar kembali.

Ini adalah partai hidup atau mati. Partai menentukan apakah Brasil akan membukukan rekor terbaik dunia dan satu-satunya negara yang mampu menyandang juara Piala Dunia 6 kali.

Memang ada kemungkinan Marcelo, penguasa pertahanan di sebelah kiri tidak dapat tampil. Namun Tite sudah menemukan jalan keluar dengan memberikan tempat bagi Filipe Luis.

Jika semua berjalan normal tanpa diwarnai kartu kuning dan merah atau bahkan oleh keteledoran wasit, maka satu tempat di 8 Besar akan menjadi milik Brasil. El Tri tidak perlu kecewa apalagi malu karena sudah mencatat sejarah hebat dalam perhelatan di Piala Dunia Rusia 2018 ini.

Bola akan terus bergulir. Pecinta sepakbola dunia masih ingin melihat transformasi jogo bonito dengan sepakbola pragmatis.