Kolom Ian Situmorang: Membangkitkan Kenangan 1966

Oleh Nurfahmi Budi pada 03 Jul 2018, 15:22 WIB
Kolombia vs Inggris

 

Ian Situmorang, Wartawan Olahraga Senior BAGI masyarakat sepak bola Inggris, tahun 1966 menjadi momen yang tak mungkin terlupakan seumur hidup. Angka 1966 itu pula yang memberi energi luar biasa bagi Inggris kala bersiap menghadapi tantangan Kolombia, guna berebut satu tempat di babak 8 Besar Piala Dunia 2018.

Inggris lolos ke Babak 16 Besar Rusia 2018 dengan status runner-up Grup G. Apakah posisi ini gambaran sesungguhnya bagi The Three Lions?. Menurut saya, Pelatih yang baru dipercaya sejak September 2016, Gareth Southgate, punya strategi tersendiri pada pertandingan terakhir penyisihan grup.

Saat itu, bersua Belgia, Southgate menurunkan pemain lapis kedua sehingga takluk 0-1. Padahal, Belgia juga tidak menurunkan pemain-pemain terbaiknya. Inggris memang tidak perlu memilih lawan berikutnya karena ada keyakinan mampu diatasi.

Semua berlatar semangat masa lalu. Kali ini Inggris membangkitkan semangat '66. Pada tahun 1966, ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia, Inggris mampu menjadi juara dan satu-satunya gelar yang mereka rebut.

Kans menjadi jawara di pentas Piala Dunia 2018 terbuka lebar bagi Inggris. Bermateri pemain dengan usia rata-rata termuda ketiga (25,9 tahun) setelah Nigeria dan Jerman, Saouthgate yakin para pemain pilihannya adalah para petarung.

Tak sekadar bersemangat dan bertenaga, tapi punya skill yang sangat memadai. Hal ini terlihat dari penampilan Dele Alli (22), Marcus Rashford (20), Jesse Lingard (25) atau sang kapten, Harry Kane (24), yang sudah sangat matang.

Selama ini prestai Inggris tidak terlalu bagus, bukan karena tidak punya pemain berkualitas, tapi karena terjadi friksi di antara para pemain bintang. Hal seperti inilah yang digunting Southgate. Sekarang, kendali sepenuhnya ada di tangan sang pelatih.

Kini, publik menanti apa keputusan Southgate kala Inggris bersua Kolombia. Apalagi Kolombia juga bukan lawan enteng. Wakil Amerika Selatan tersebut punya materi bagus, juga semangat yang tak kalah dibanding Inggris.

Sekadar kilas balik, penyisihan di Grup H Piala Dunia 2018 boleh dikategorikan paling enteng: Kolombia, Jepang, Senegal dan Polandia. Tapi, karena keempat kontestan berada pada level yang sama membuat persiangan menjadi unik, saling mengalahkan, alhasil yang lolos harus ditentukan melalui sistem fair play.

Kolombia menjadi juara grup, walau tidak menunjukkan profil yang sesungguhnya sebagai satu kekuatan hebat. Dapat dimaklumi, ketika kalah 1-2 dari Jepang di penampilan awal, karena Carlos Sanchez terkena kartu merah.

Kesulitan lainnya adalah belum fit-nya pemain bintang peraih Golden Boot 2014, James Rodriguez. Terbukti, pada pertandingan kedua dan ketiga, Kolombia mampu mengalahkan Polandia dan Senegal.

Materi pemain negeri penghasil kopi, Kolombia ini boleh dikatakan sangat berlimpah. Para pemain tersebar menimba ilmu dan dolar di berbagai klub Eropa yang persaingannya sangat ketat.

Ada kipper David Ospina (Arsenal), Juan Cuadrado (Juventus), sang kapten Radamel Falcao (Monaco) dan para pemain lainnya. Berada di peringkat empat dari enam yang lolos dari zona Amerika Selatan, cukup membuktikan Kolombia memang cukup oke.

Bagaimana hasilnya duel maut Kolombia vs Inggris? Ada keuntungan Kolombia, dimana para pemainnya merumput di Inggris sehingga tahu persis karakter dan pola main The Three Lions. Sebaliknya, Inggris tidak terlalu paham secara tim tentang karakter Kolombia.

Dari data yang ada, kedua tim baru sekali berjumpa dengan kemenangan Inggris dengan skor 2-0. Akankah ini akan terulang kembali? Atau saatnya Cuadrado cs. membalikkan situasi?

Hadirnya Harry Kane sebagai pencetak gol terbanyak merupakan ancaman serius bagi Kolombia. Jika semua berjalan tanpa warna non-teknis, besar kemungkinan Inggris berhasil mengambil satu tiket.

Jika itu terjadi, tidak mustahil Kane akan mencetak gol terbanyakd i Rusia 2018. So, para penggemar sepakbola Inggris bersiaplah menyambut tim kesayangnya mengulang era Jack dan Bobby Charlton pada era 1966.