Timnas Indonesia Minim Striker, Mantan Pemain Baretti Usulkan Kebijakan Ekstrem

Oleh Zaidan Nazarul pada 14 Sep 2018, 09:15 WIB
Indonesia Vs Mauritius

Bola.com, Surabaya - Timnas Indonesia masih memiliki kelemahan di lini depan. Hal itu tampak jelas saat Timnas menang tipis 1-0 pada pertandingan persahabatan internasional melawan Mauritius di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Selasa (11/9/2018).

Padahal, pada pertandingan tersebut, Indonesia tak sekadar mendominasi jalannya laga, tapi juga memiliki seabrek peluang. Sayang, banyaknya kans yang didapat lebih banyak terbuang sia-sia, karena lemahnya penyelesaian akhir.

Terkait krisis ini, pengamat sepak bola asal Jatim yang juga mantan pemain Timnas Baretti, Uston Nawawi menilai, minimnya penyerang lokal di tim Garuda disebabkan oleh kebijakan hampir seluruh klub kontestan Liga 1.

"Dari pengamatan saya, nyaris tidak ada klub yang menurunkan atau memberi kesempatan penyerang lokal. Parahnya lagi, mayoritas klub menggunakan formasi dengan satu penyerang yang diisi oleh striker asing," tuturnya.

Kalaupun ada klub yang menggunakan dua penyerang seperti Persib Bandung, keduanya juga legiun impor. "Hasilnya ya seperti ini, tidak ada penyerang lokal tajam yang terus bermunculan seperti dulu," tutur legenda Persebaya ini.

Pria yang sempat menukangi klub Liga 2 asal Jatim (Laga FC) ini meyakini, sebetulnya feedarasi maupun para pemegang kepentingan di Timnas Indonesia mengetahui akar masalah ini.

 

2 of 2

Usulan Ekstrem

Sepak Bola : Indonesia Vs Chinese Taipei
Striker Indonesia, Beto Goncalves, berusaha mengejar bola saat melawan Chinese Taipei pada laga Grup A Asian Games di Stadion Patriot, Bekasi, Minggu (12/8/2018). Indonesia menang 4-0 atas Chinese Taipei. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Menurutnya, kalau mau ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk memberikan kesempatan pada penyerang lokal bertalenta untuk muncul ke permukaan.

"Kalau mau esktrem, bikin kebijakan bahwa setiap klub diperbolehkan merekrut pemain asing, tapi bukan di posisi striker," ujar Uston.

Jika itu tidak bisa diwujudkan, Uston berpendapat bisa saja dengan setengah musim tanpa striker asing, sehingga selama separuh musim klub-klub berlomba-lomba menurunkan striker lokal. Atau ada formula lain yang bisa dijadikan pertimbangan bagi federasi. "Itu untuk jangka panjang," katanya.

Sedangkan untuk Piala AFF 2018, tidak ada jalan lain selain terus mengasah striker yang ada lantaran waktunya sudah sangat mepet. Sebab, untuk menggelar seleksi lagi guna mencari yang terbaik butuh waktu yang tidak sedikit.

"Sekarang ini, mau tidak mau striker Indonesia diasah terus ketajamannya lewat latihan dan simulasi. Bisa juga memanggil striker baru untuk menambah persaingan atau menggantikan striker yang ada," ujar mantan gelandang Timnas Indonesia.

Lanjutkan Membaca ↓