Bima Sakti dalam Panggung Pertaruhan Timnas Indonesia dan Ambisi di Piala AFF 2018

Oleh Zulfirdaus Harahap pada 30 Okt 2018, 07:30 WIB
Diperbarui 30 Okt 2018, 07:30 WIB
Bima Sakti
Wawancara eksklusif Bima Sakti. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Tangerang Selatan - PSSI pada 21 Oktober 2018 membuat sebuah keputusan yang mengejutkan. Induk sepak bola Tanah Air itu menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2018.

"Berdasarkan keputusan Komite Eksekutif PSSI, Bima Sakti resmi ditugaskan sebagai pelatih kepala tim nasional senior Indonesia," begitulah bunyi keterangan PSSI ketika resmi menunjuk Bima Sakti.

Keputusan yang pada akhirnya menyudahi drama panjang tarik ulur kesepakatan dengan pelatih Timnas Indonesia terdahulu, Luis Milla. Keputusan yang sudah lama tercium, namun tetap saja mengejutkan untuk publik.

Penyebabnya tak lain merupakan faktor jam terbang. Bima Sakti dianggap terlalu cepat 'naik pangkat' menjadi pelatih kepala, apalagi untuk ukuran Tim Merah-Putih yang sangat sakral.

Bima Sakti sepanjang kariernya belum pernah dipercaya menangani klub. Catatan kariernya dalam urusan juru taktik pun hanya sampai asisten pelatih, yakni di Persiba Balikpapan pada 2016 dan asisten Luis Mila di Timnas Indonesia yang tak genap dua tahun alias satu tahun sembilan bulan.

Penunjukkan Bima Sakti yang dilakukan PSSI sebenarnya cukup membanggakan untuk ukuran pelatih lokal. Maklum, dalam dua edisi terakhir Indonesia menggunakan jasa pelatih asing di Piala AFF.

Namun, di sisi lainnya ini seperti menjadi ajang pertaruhan besar yang dilakukan PSSI. Apalagi PSSI membebani target tinggi yakni trofi gelar juara buat Bima Sakti.

Lalu, seperti apa sebenarnya Bima Sakti menyikapi penunjukkannya sebagai pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2018? Seperti apa pula pembuktian dan ambisi yang ingin diwujudukan mantan pemain jebolan Sampdoria Primavera itu?

Berikut ini petikan wawancara eksklusif Bima Sakti bersama Bola.com yang berlangsung di Bintaro, Tangerang Selatan, Sabtu (27/10/2018) dengan tema pertaruhan, ambisi, dan memori di Timnas Indonesia jelang Piala AFF 2018:

2 dari 3 halaman

Panggung Pertaruhan dan Ambisi

Asisten pelatih Timnas Indonesia, Bima Sakti, memberikan instruksi saat melawan Kamboja pada laga SEA Games di Stadion Shah Alam, Selangor, Kamis (24/8/2017). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Anda belum memiliki pengalaman menjadi pelatih kepala hanya pernah menjadi asisten pelatih kemudian ditunjuk menjadi pelatih untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Bagaimana Anda menyikapinya?

Beban pasti ada ya karena mungkin orang berpikir saya belum ada pengalaman. Akan tetapi, saya akan berjuang bersama-sama dengan staf pelatih, ofisial, kemudian pemain yang mungkin mereka punya tanggung jawab besar di Piala AFF nanti. Soal saya dibilang belum punya pengalaman melatih tim, ini waktunya mepet, game plan sudah terbentuk sejak Asian Games kemarin, mungkin jadi pertimbangan PSSI kalau ganti pelatih akan mengubah cara permainan lagi.

Mungkin mereka mempercayakan tim ini kepada saya agar tetap membawa gaya permainan dan kelebihan-kelebihan yang sudah dipersiapkan dalam 1 tahun 9 bulan bersama Luis Milla tetap terjaga. Juga harus ditambah lagi supaya bisa berprestasi di Piala AFF 2018 ini.

Sejak kapan tahu nama Anda berada pada daftar teratas penerus Luis Milla?

Pertama, saya hanya diberi tanggung jawab untuk tiga laga pertandingan FIFA Matches Day yakni melawan Mauritius, Myanmar, dan Hong Kong sambil menunggu keputusan federasi tentang Luis Milla. Akan tetapi, sejak tidak ada titik temu federasi kemudian menghubungi saya, tidak ada pilihan lain dan saya dipercaya untuk memegang kendali Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Saya langsung katakan siap, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Ini merupakan tanggung jawab dan sebuah kesempatan buat saya berjuang demi bangsa dan negara.

Anda bakal menjadi pelatih Timnas Indonesia termuda di Piala AFF dengan usia 42 tahun 273 hari ketika pertandingan pertama melawan Singapura. Bagaimana tanggapan Anda?

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT dan saya rasa ini bukan sebuah kebetulan. Semuanya sudah ketetapan dari Tuhan, ikuti, dan jalani dengan tanggung jawab. Saya akan berusaha maksimal memberikan yang terbaik buat Indonesia.

Catatan terakhir Timnas Indonesia menggunakan pelatih lokal di Piala AFF tidak bagus. Bersama Nil Maizar hanya sampai fase grup. Bagaimana Anda menyikapinya?

Saya akan menunjukkan kalau pelatih-pelatih lokal pada kenyataannya juga mampu. Saya rasa itu bukan saya saja yang akan melakukannya. Di luar juga banyak pelatih-pelatih lokal yang lebih bagus. Mereka lebih pintar dan kedepan federasi harus memberi kesempatan kepada pelatih-pelatih lokal untuk membuktikan kemampuaannya.

Timnas Indonesia sudah lima kali dibuat sakit hati di Piala AFF karena gagal di final. Anda mendapatkan target juara di Piala AFF 2018 oleh PSSI. Apakah target itu tergolong wajar?

Saya rasa wajar saja. Pokoknya nanti saya bersama tim akan fokus dan berkonsentrasi pada setiap pertandingan. Saya tidak ingin terlalu terbebani, namun harus maksimal di setiap pertandingan, selangkah demi selangkah, dan memberikan yang terbaik.

 

3 dari 3 halaman

Luis Milla dan Nostalgia Piala AFF

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Bima Sakti Mendapat masukan dari Luis Milla (Kiri) saat latihan di Lapangan ABC Senayan, Jakarta, Kamis (22/3/2018). Indonesia akan berhadapan Timnas Jepang U-19. (Bola.com/Asprilla Dwi Adha)

 

Anda sudah satu tahun lebih menjadi asisten Luis Milla. Seperti apa sosok Luis Milla di mata Anda?

Beliau sangat sayang dengan pemain, disiplin, kemudian mengajarkan kepada saya arti kejujuran dan dedikasi. Dia selalu bilang 'Bima kamu bikin program bisa saja salah, kamu bisa bikin metode latihan mungkin keliru, yang terpenting adalah kamu kerja maksimal, jujur, dan selalu respek satu sama lain'.

Ilmu apa yang Anda dapatkan dari gaya kepelatihan Luis Milla?

Dia memiliki gaya permainan sabar dan mementingkan bagaimana proses transisi dari menyerang ke bertahan. Itu juga nanti yang akan saya terapkan bersama Timnas Indoensia di Piala AFF 2018.

Anda sudah bermain di tiga edisi Piala AFF yakni 1996, 1998, 2000. Adakah pengalaman khusus dari tampil pada turnamen tersebut?

Pengalamannya ya bermain di Piala AFF itu tidak mudah. Mulai fase grup sudah kompetitif sehingga tidak mudah melaju ke semifinal dan final. Yang terpenting ya ketika itu fokus memberikan yang terbaik saja.

Pada pertandingan pertama nanti Anda bersama Timnas Indonesia akan menghadapi Singapura, tim yang juga dilatih pelatih lokal Fandi Ahmad. Akan seperti apa pertandingannya?

Ini menjadi reuni buat kami. Saya pernah bermain melawan Fandi Ahmad pada SEA Games 1997. Kami juga sempat bertemu dalam laga uji coba di Singapura. Jadi, ya ini jadi pertandingan reuni buat kami

Lanjutkan Membaca ↓