Rapor Pelatih Lokal di Piala AFF 2018: Tak Ada yang Istimewa

Oleh Benediktus Gerendo Pradigdo pada 22 Nov 2018, 09:30 WIB
Diperbarui 22 Nov 2018, 09:30 WIB
Trivia Kinerja Pelatih Lokal Sepanjang Piala AFF
Trivia Kinerja Pelatih Lokal Sepanjang Piala AFF (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Piala AFF 2018 menawarkan jumlah peserta yang lebih banyak dari edisi-edisi sebelumnya, yaitu 10 tim peserta. Namun, jumlah pelatih lokal yang menangani timnas dari negaranya sendiri hanya tiga orang.

Berada di antara mayoritas pelatih asing yang menangani tim peserta Piala AFF 2018, pelatih lokal sejauh ini tidak terlalu memberikan dampak yang begitu signifikan kepada tim asuhannya.

10 tim bersaing dalam dua grup di Piala AFF 2018. Empat dari lima tim peserta di Grup A menggunakan jasa pelatih asing, mulai Park Hang-seo dari Korea Selatan yang menangani Vietnam, Antoine Hey dari Jerman yang menangani Myanmar, hingga Keisuke Honda dari Jepang yang menangani Kamboja.

Laos menjadi satu-satunya tim peserta di Piala AFF 2018 yang menggunakan jasa pelatih asing asal negara Asia Tenggara juga, yakni Varadaraju Sundramoorthy, pelatih asal Singapura menjadi arsitek Timnas Laos setelah mundur sebagai pelatih Timnas Singapura pada 9 April 2018.

Sementara itu, hanya Malaysia di Grup A yang memberikan kepercayaan kepada pelatih lokal untuk menangani tim senior mereka. Tan Cheng Hoe mendapatkan kepercayaan dari Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) untuk mengisi slot pelatih kepala timnas senior dengan pengalaman bertahun-tahun menangani timnas junior Malaysia.

Beralih ke Grup B Piala AFF 2018, dari lima tim yang berkompetisi, hanya ada dua tim yang menggunakan jasa pelatih lokal, yaitu Timnas Indonesia bersama Bima Sakti, yang juga mantan gelandang Tim Garuda pada era 1990an, serta Singapura yang menunjuk Fandi Ahmad setelah Sundramoorthy mundur.

Sementara tiga negara lain di Grup B memercayakan pelatih asing untuk menangani timnas. Selain Norio Tsukitate asal Jepang yang menangani Timor Leste, dua tim lainnya ditangani pelatih kelas Piala Dunia.

Milovan Rajevac yang pernah menangani Ghana di Piala Dunia 2010 kini menangani Thailand. Sementara Filipina ditangani Sven-Goran Eriksson, pelatih asal Swedia yang pernah menangani Inggris di Piala Dunia 2002 dan 2006.

Namun, harus diakui prestasi tim dengan pelatih-pelatih lokal di Piala AFF 2018 tak terlalu gemilang. Bahkan satu dari tiga tim yang menggunakan jasa pelatih lokal itu sudah dipastikan gugur sebelum tim asuhannya memainkan laga terakhirnya di fase grup.

Sajian liputan eksklusif Timnas Indonesia di Piala AFF  2018 bisa pembaca nikmati dengan mengklik tautan ini

2 dari 4 halaman

Fandi Ahmad

Piala AFF 2018 : Latihan Timnas Singapura
Pelatih Singapura, Fandi Ahmad, saat menggelar sesi latihan jelang laga Piala AFF di Stadion Nasional Singapura, Kamis (8/11). Singapura akan melawan Indonesia. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Fandi Ahmad, mantan pemain Timnas Singapura yang pernah berkarier sebagai di Indonesia bersama Niac Mitra. Tak hanya bermain, Fandi juga pernah jadi pelatih Pelita Jaya.

Sebagai mantan pemain Timnas Singapura, Fandi Ahmad mengenal karakter sepak bola negaranya sendiri. Ia mendapatkan kepercayaan dari Asosiasi Sepak Bola Singapura (FAS) untuk memimpin timnas senior mulai medio Mei 2018 hingga Piala AFF 2018 berakhir.

Langkah Singapura di bawah asuhan Fandi Ahmad tergolong baik. The Lions berhasil meraih kemenangan di laga pertama di Piala AFF 2018 dengan menang tipis 1-0 atas Timnas Indonesia (9/11/2018).

Meski setelah itu sempat kalah 0-1 dari Filipina di laga kedua Grup B Piala AFF 2018 (13/11/2018), Singapura bangkit dan meraih kemenangan telak 6-1 di laga kontra Timor Leste (21/11/2018).

Fandi Ahmad menegaskan sebelum lagam, anak-anak asuhnya harus menang minimal dengan selisih empat gol ketika menghadapi Timor Leste.

Dengan dua kemenangan dan satu kekalahan, Singapura saat ini berada di peringkat ketiga dalam perebutan dua tempat menuju semifinal Piala AFF 2018. Singapura perlu meraih kemenangan atas Thailand dalam laga terakhir Grup B, Minggu (25/11/2018), untuk bisa melaju ke semifinal.

3 dari 4 halaman

Tan Cheng Hoe

Drawing AFF Suzuki Cup 2018, Piala AFF 2018, Bola.com, Tan Cheng Hoe
Pelatih Malaysia, Tan Cheng Hoe memberikan keterangan kepada media usai drawing Piala AFF Suzuki Cup 2018 di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (2/5/2018). Malaysia berada satu grup dengan Vietnam. (Bola.com/Nick Hanoatubun)

Tak berbeda dengan Singapura, Timnas Malaysia saat ini juga masih berjuang keras untuk bisa melangkah ke semifinal Piala AFF 2018. Mereka terlibat perang hidup dan mati menghadapi Myanmar di laga terakhir Grup A Piala AFF 2018 yang akan digelar Sabtu (24/11/2018).

Malaysia, yang ditangani Tan Cheng Hoe, mengawali kiprah di Piala AFF 2018 dengan kurang baik. Bertandang ke Phnom Penh, Malaysia hanya berhasil mencuri satu gol lewat Norshahrul Idlan untuk meraih kemenangan tipis 1-0 atas Kamboja.

Saat menjalani laga kedua kontra Laos, Malaysia hanya meraih kemenangan 3-1, yang membuat kualitas tim asuhan Tan Cheng Hoe diragukan.

Ujian sebenarnya bagi Malaysia terjadi di pertandingan ketiga. m=Mereka harus bertandang ke Hanoi untuk menghadapi Vietnam. Malaysia akhirnya menyerah 0-2 dari tim tuan rumah dan menyisakan satu laga hidup dan mati kontra Myanmar di laga terakhir untuk memastikan apakah ke semifinal atau tidak.

Malaysia saat ini berada di posisi ketiga dalam klasemen Grup A Piala AFF 2018 dengan enam poin, tertinggal satu poin dari Myanmar dan Vietnam yang berada di dua posisi teratas.

4 dari 4 halaman

Bima Sakti

Latihan Timnas Indonesia
Pelatih Timnas Indonesia, Bima Sakti, memberikan arahan kepada anak asuhnya saat latihan di Stadion Rajamangala, Bangkok, Jumat, (16/11). Latihan ini persiapan jelang laga Piala AFF 2018 melawan Thailand. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Dari antara tiga pelatih lokal yang memimpin timnas masing-masing di Piala AFF 2018, mungkin Bima Sakti yang paling naas nasibnya.

Pelatih yang baru ditunjuk memimpin Timnas Indonesia secara permanen pada Oktober lalu itu, tak mampu menjalankan tugas dengan baik karena sempitnya waktu persiapan dan hanya meneruskan kinerja pelatih sebelumnya, Luis Milla.

Permasalahan memimpin sebuah tim memang tak semudah yang dibayangkan. Bima Sakti, yang awalnya merupakan asisten pelatih Luis Milla, ternyata belum siap untuk memimpin tim dan melakukan berbagai perubahan strategi ketika tengah bertanding.

Hal tersebut terlihat ketika Timnas Indonesia tertinggal 0-1 dari Singapura di laga pertama. Tak banyak perubahan strategi yang terlihat di dalam Tim Garuda saat itu.

Bahkan ketika menghadapi Timor Leste di laga kedua yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Tim Garuda sempat tertinggal lebih dulu dari tim, yang dalam sejarah tak pernah mencetak gol ke gawang Timnas Indonesia di level senior. Beruntung, Timnas Indonesia mampu merespons dengan baik dan menang 3-1 di akhir laga.

Kejutan sempat diperlihatkan Timnas Indonesia di awal babak pertama laga ketiga kontra Thailand di Stadion Rajamangala, Bangkok, dengan keberhasilan Zulfiandi membawa Tim Garuda unggul lebih dulu.

Namun, Thailand mampu bangkit dan mencetak hingga empat gol yang menandakan Tim Garuda gagal berbenah sehingga harus kebobolan begitu banyak gol dalam waktu cepat.

Meski akhirnya berhasil memperkecil ketinggalan lagi lewat gol yang dicetak Fachrudin Aryanto, reaksi Timnas Indonesia tergolong lambat. Bima Sakti pun tak bisa membantu tim asuhannya lolos dari jeratan hingga akhirnya tersingkir setelah Thailand bermain imbang dengan Filipina (21/11/2018).

Lanjutkan Membaca ↓