Sudah Saatnya PSSI Mencoba Kemampuan Pelatih Jepang di Timnas Indonesia

Oleh Ario Yosia pada 24 Nov 2018, 08:01 WIB
Singapura Vs Timnas Indonesia

Bola.com, Jakarta - Kritikan ke PSSI terus mengalir seiring kegagalan Timnas Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF 2018. Federasi dianggap paling bertanggung jawab memilih Bima Sakti sebagai nakhoda Tim Garuda.

Bima yang minim pengalaman menukangi tim dianggap terlalu dipaksakan naik kelas jadi arsitek Timnas Indonesia. Belum pernah punya pengalaman menjabat sebagai pelatih kepala di level klub atau timnas junior, Bima terbukti gagap saat menjalankan tugas di Piala AFF 2018.

Bermodal pemain bermateri kurang lebih sama dengan Asian Games 2018 dan SEA Games 2017, Bima gagal menyajikan permainan sepak bola menawan seperti yang disuguhkan Luis Milla. Di penyisihan Grup B Piala AFF 2018, Timnas Indonesia hanya meraih tiga poin saja dari tiga pertandingan.

Timnas Indonesia hanya menang sekali, yakni saat bersua tim lemah Timor Leste (3-1). Sementara di dua laga lainnya, Hansamu Yama dkk. bertekuk lutut dari Thailand (2-4) dan Singapura (1-1).

Hasil akhir pertandingan 1-1 antara Filipina Vs Thailand pada Rabu (22/11/2018) memupus harapan Tim Merah-Putih bertahan lebih lama di pesaingan Piala AFF 2018. Raihan poin Timnas Indonesia tidak mungkin mengejar Thailand, Filipina, dan Singapura. Hanya tiga negara tersebut yang punya kans lolos ke semifinal dari fase penyisihan Grup B.

"Ke depannya PSSI dalam memilih pelatih jangan asal-asalan. Piala AFF tensi persaingannya tinggi, Timnas Indonesia harusnya ditukangi pelatih sarat pengalaman. Bima masih minim jam terbang. Cemen kalau istilah orang Betawi," sentil Hermansyah, salah satu kiper legendaris Timnas Indonesia di era 1980 hingga 1990-an.

Hermansyah, yang notabene salah satu anggota skuat Timnas Indonesia yang hampir lolos ke Piala Dunia 1986 itu, juga mengarisbawahi bahwa tak hanya Bima saja yang minim jam terbang, tapi juga asistennya Kurniawan Dwi Yulianto.

"Sama seperti Bima, Kurniawan juga belum pernah memegang tim. Minimal klub-klub Liga 1 atau Liga 2. Jadi pelatih Timnas Indonesia tidak sekadar jago meracik program latihan. Mereka harus punya mata yang tajam membaca arah permainan. Hal itu bisa dilakukan jika ia punya jam terbang," ujar Hermansyah yang mengontak Bola.com pada Kamis (22/11/2018) malam.

"Mas Danur (Danurwindo) sebagai Direktur Teknik terlalu memaksakan anak-didiknya di Timnas Primavera untuk memegang Timnas Indonesia. Kasihan mereka. Mereka baru proses belajar. Semestinya dibiarkan natural berkembang sebelum nantinya menarsiteki timnas suatu saat nanti," ujar pelatih penjaga gawang Madura United tersebut.

"Semestinya Bima Sakti berani menolak atau berargumentasi bahwa dirinya belum siap," timpal Hermansyah.

Sajian liputan eksklusif Timnas Indonesia di Piala AFF  2018 bisa pembaca nikmati dengan mengklik tautan ini

2 of 2

Etos Kerja Keras

Konflik Sepakbola Nasional
Mantan Kiper Timnas Indonesia, Hermansyah mengikuti pertemuan dengan Komnas HAM terkait konflik PSSI dengan Menpora di Jakarta, Kamis (13/8/2015). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Hermansyah yang saat aktif bermain pernah membesarkan klub Mastrans Bandung Raya dan Persikota Tangerang itu berharap ada perubahan besar di PSSI, terutama melakukan penunjukkan pelatih Timnas indonesia.

"Ke depan jangan lagi asal-asalan menunjuk pelatih Timnas Indonesia, terutama saat menghadapi persaingan level Asia Tenggara atau Asia. Nama Indonesia dipertaruhkan," ujar Hermansyah.

PSSI juga diharapkan tak lagi mendatangkan pelatih-pelatih asal Eropa. Selain bayaran mereka yang mahal, sejatinya pelatih asal Benua Biru tak memahami peta persaingan Asia.

"Cari pelatih ya yang memahami peta persaingan. Kenapa PSSI tidak mulai berganti kiblat. Kalau memang mau mendatangkan pelatih asing buat timnas, mereka bisa memilih arsitek asal Jepang. Beberapa negara tetangga kita sudah melakukan hal itu," ujar pria kelahiran Sukabumi, 17 Agustus 1963 itu.

"Banyak pelatih asal Jepang kualitasnya bagus. Etos kerja mereka bagus, sangat disiplin. Mereka juga pekerja keras. Bagus buat pemain Timnas Indonesia, terutama untuk membangun mentalitas pemenang," kata Hermansyah.

Hermansyah sepakat bahwa prestasi tidak bisa datang dengan cara instan. "Gelar juara akan datang dengan sendirinya jika Indonesia konsisten membangun fondasi pembinaan yang pas."

 

Lanjutkan Membaca ↓