Ini Alasan Tontowi / Lilyana Tak Harus Terus Mengejar Gelar Juara

Oleh Erwin Fitriansyah pada 12 Jan 2016, 16:45 WIB
Diperbarui 12 Jan 2016, 16:45 WIB
Tontowi/Lilyana
Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir, belum pernah mendapatkan medali emas Olimpiade.

Bola.com, Jakarta - Prestasi ganda campuran andalan Indonesia Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir sepanjang tahun 2015 bisa dibilang tak terlalu menggembirakan. Pelatih Richard Mainaky menilai ada faktor kejenuhan yang dialami anak asuhnya sehingga penampilan mereka kurang stabil.

Alasan itu yang membuat Richard tak terlalu menuntut Tontowi/Lilyana untuk terus menerus mengejar gelar juara. Pasangan nomor dua dunia itu diminta untuk fokus ke Olimpiade 2016 yang digelar di Rio de Janeiro pada Agustus.

“Mereka sudah mendapatkan hampir semua gelar bergengsi, kecuali Olimpiade. Saya minta mereka untuk fokus ke sana saja. Jangan sampai kehilangan momentum. Puncak penampilan mereka harus ada di Olimpiade,” ujar Richard.

Ajang Olimpiade memang menjadi satu gelar bergengsi yang belum pernah diraih Tontowi/Lilyana. Mereka sudah pernah merebut gelar juara dunia dan All England, dua ajang prestisius selain Olimpiade yang hanya digelar empat tahun sekali.

Lilyana merebut gelar juara dunia dua kali ketika berpartner dengan Nova Widianto yang kini menjadi asisten pelatih Richard. Satu gelar juara dunia diraih bersama Tontowi.

Pada ajang All England, Tontowi/Lilyana tiga kali menjadi juara. Pada All England 2015 mereka mencapai final namun kalah dari musuh bebuyutan, Zhang Nan/Zhao Yunlei. Pada ajang Oimpiade, prestasi terbaik mereka adalah masuk semifinal pada tahun 2012 di London.

“Kalau untuk Lilyana, dia mengaku termotivasi untuk mengejar emas Olimpiade dan sudah melupakan prestasi tahun lalu yang kurang bagus. Dia juga bilang kalau sekarang lebih fresh. Soal teknis sudah tak ada masalah, yang perlu justru menjaga motivasi,” sambung Richard.

Sementara buat Tontowi, Richard meminta komitmen pemain berusia 28 tahun itu. Salah satu hal yang harus dituruti Tontowi adalah kesanggupan tinggal di pelatnas Cipayung, minimal tiga hari dalam seminggu. Sebelumnya, Tontowi selalu pulang ke rumah setelah latihan. Hal ini dinilai Richard cukup mempengaruhi kualitas istirahat dan latihan yang dijalani di pelatnas.

“Kalau mau berhasil di Olimpiade, keduanya harus fokus dalam persiapan. Kalau perlu, abaikan turnamen lain. Ajang lain hanya dipakai sekedar menjaga peringkat supaya tak terlalu anjlok, sambil memantau kekuatan lawan,” tutup Richard.