8 Anak Didik Valentino Rossi yang Tampil di Moto2 dan Moto3

Oleh Yus Mei Sawitri pada 04 Mei 2016, 09:15 WIB
Diperbarui 04 Mei 2016, 09:15 WIB
Akademi Balap VR46
Delapan anak didik Valentino Rossi yang tampil di ajang Moto2 dan Moto3. (bola.com/Samsul Hadi)

Bola.com, Tavullia - Kepiawaian pebalap Italia, Valentino Rossi, di lintasan balap motor jelas tak terbantahkan. Bukti sahihnya adalah sembilan gelar juara dunia, tujuh di antaranya di kelas MotoGP.

Hebatnya, The Doctor juga mampu menularkan keahliannya di lintasan kepada pebalap-pebalap lain, khususnya talenta muda Italia. Hal itu dibuktikannya dengan mendirikan VR46 Riders Academy alias Akademi Balap VR46. Akademi balap tersebut resmi dibuka untuk umum pada Februari 2014.

Alasan utama Rossi mendirikan akademi balap di dekat rumahnya di Tavulia, Italia, ini untuk mengembangkan potensi rider muda Italia, sekaligus menghentikan dominasi pebalap Spanyol di ajang MotoGP, Moto2, maupun Moto3.

Awalnya akademi balap ini hanya memiliki enam anak didik: Franco Morbidelli, Luca Marini, Andrea Migno, Nicolo Bulega, Romano Fenati, dan Pecco Bagnaia. Kini akademi itu telah berkembang dan telah memiliki tim resmi di Moto3, bernama Sky Racing Team VR46.

Pada musim 2016, Akademi Balap Valentino Rossi bakal unjuk kekuatan. Ada tiga pebalap yang berkiprah di ajang Moto2, yaitu Luca Marini, Lorenzo Baldassari, dan Franco Morbidelli. Adapun di Moto3 ada Romano Fenati, Andrea Migno, Nicolo Bulega, Francesco Bagnaia, dan Niccolo Antonelli.

Inilah profil singkat delapan anak didik Rossi yang akan tampil di ajang Moto2 dan Moto3 pada musim 2016, seperti dirangkum bola.com, dari berbagai sumber:

Luca Marini

Pebalap berusia 18 tahun, Luca Marini, adalah murid di Akademi Balap VR46 yang juga adik tiri Valentino Rossi. Pada musim 2016 dia akan bersaing di ajang Moto2 bersama tim Forward Racing. Marini kini telah meneken kontrak dengan Forward Racing pada Desember 2015. Dia akan mengendarai motor Kalex. 

Debut memalukan Luca Marini adik tiri Valentino Rossi di kelas Moto3 di Sirkuit Misano Italia pada tahun 2013.

Rossi dan Luca lahir dari ibu yang sama, Stefania Palma, namun berbeda ayah. Tak heran, nama belakang keduanya berbeda. Rossi putra dari Graziano Rossi, sedangkan adiknya putra dari Massimo Marini, seorang pengusaha Italia.

Pria bermata biru agak abu-abu tersebut sudah andal menaiki sepeda motor sejak berusia empat tahun. Bahkan pada 2003 dia sudah mengikuti kejuaraan minibike dan langsung menjuarai seri di tahun pertamanya.

Pria yang juga menyukai gokart ini akhirnya masuk sekolah balap Tarziano Tamagnini. Dia mulai mencicipi motor yang lebih besar, Honda NSF 100, pada 2007. Luca kemudian direkrut oleh Honda di Kejuaraan Junior Italia.

Pada 2011 Luca mulai terjun di ajang MiniGP kelas 80 cc, bersama tim RMU Cattalica. Pada tahun kedua, Luca pindah tim ke Gresini untuk terjun di Moto3 Kejuaraan Nasional Italia atau yang dikenal dengan CIV. Kejuaraan Nasional Moto3 Spanyol (Moto3 CEV Repsol) menjadi arena petualangan Luca berikutnya. Musim 2016 Luca “naik kelas” dan akan bersaing di ajang Moto2.

Lorenzo Baldassari

Pebalap Italia Lorenzo Baldassarri berstatus sebagai pebalap Moto2 bersama tim Forward Racing, alias setim dengan Luca Marini. Pada Moto2 musim 2015, Baldassarri total meraup 96 poin dari 17 seri dan sekali naik podium. Sedangkan pada musim 2014 (mengendarai Suter), dia hanya meraup 20 poin.

Lorenzo Baldassarri (Speedweek.com)

Sebelum terjun ke ajang Moto2, Baldassarri memenangi Red Bull MotoGP Rookies Cup pada 2012, dan terjun di CIV 125GP Championship, CEV Moto3 Championship, dan ajang Moto3.

Sementara itu, proses bergabungnya Baldassari ke VR46 Riders Academy tak terlepas dari campur tangan dua rekan The Doctor, Uccio dan Alberto. Sebelumnya dia memang berteman dengan Rossi karena sering berlatih bersama di ranch.

“Valentino sering memberikan saran. Tapi saat balapan lebih sulit (meminta saran dari Rossi), karena kami sama-sama punya kesibukan. Tapi nasihatnya selalu bermanfaat,” ujar Baldassarri, seperti dilansir Insella.

Franco Morbidelli

Lahir di Roma dan sekarang tinggal di Tavullia, Franco Morbidelli, mendulang kesuksesan pada 2013 dengan mengalahkan rekan setimnya, Alessandro Nocco, dalam perebutan gelar Superstock 600 series. Pada tahun itu, Morbidelli juga mendapat wildcard tampil di ajang Moto2 di San Marino, Jepang, dan Valencia.

Franco Morbidelli (MotoGP.com)

Dia bergabung dengan tim Moto2, Italtrans Racing Team, pada 2014 dan berlanjut pada 2015. Pada musim lalu, Morbidelli mulai membuktikan potensinya. Dia empat kali berada di posisi lima besar pada enam balapan awal dan berhasil naik podium di Indianapolis.

Sayangnya, cedera patah kaki saat berlatih motocross membuatnya absen di sejumlah balapan seusai seri Brno, Republik Ceska. Dia memang akhirnya kembali membalap, namun belum benar-benar pulih.

Lompatan besar dilakukannya pada musim 2016 dengan bergabung ke tim Estrella Galicia 0,0 Marc VDS. Dia menggantikan Tito Rabat yang naik level ke MotoGP dan kini menjadi rekan setim adik Marc Marquez, Alex.

Sebagai anggota VR46 Riders Academy, Morbidelli mengaku mendapat dukungan besar dari Rossi. Bahkan gara-gara ingin serius menekuni balap motor, dia bulat memutuskan hijrah dari Roma ke Tavullia, kampung halaman Rossi. Dia juga ingin lebih dekat dengan Rossi.

“Alasan lainnya (pindah ke Tavullia) adalah fakta tak ada tempat lain yang punya gairah balap motor yang begitu besar. Keluarga saya punya teman yang tinggal di sana (Tavullia), jadi saya memutuskan pindah. Itu keputusan yang tepat, karena kemudian saya bertemu Valentino, yang banyak membantu saya,” ujar Morbidelli, seperti dilansir Tuttomoriwebb.

2 dari 3 halaman

1

Nicolo Bulega, Andrea Migno, Luca Marini
Nicolo Bulega (tengah), Andrea Migno (kiri), Luca Marini. (VR46 Riders Academy)

Nicolo Bulega

Nicolo Bulega kerap disebut-sebut sebagai pebalap Italia calon penerus Valentino Rossi. Dia kali pertama merengkuh gelar juara dunia saat berusia 16 tahun, dengan menjuarai FIM CEV Repsol Moto3 Junior World Championship. Penampilannya saat itu benar-benar fantastis karena berhasil memetik poin di setiap seri dan naik podium tujuh kali dari total 12 balapan.

Dia menjadi buah bibir setelah menjuarai Kejuaraan Dunia FIM CEV Repsol Moto3 di Valencia, 15 November 2015. Pebalap kelahiran Montecchio Emilia ini merupakan anak didik Rossi. Pebalap yang dijuluki The Monkey itu merupakan salah satu pebalap Akademi Balap VR46.

Gaya membalap Bulega dinilai mirip dengan Rossi. Selain mahir dalam menyalip lawan, Bulega juga begitu terampil saat melewati tikungan. Pebalap berusia 16 tahun ini mengaku sangat mengidolai pemegang 6 gelar juara dunia MotoGP tersebut. Jadi wajar jika dia mendedikasikan kemenangannya untuk sang panutan.

"Saya ingin berterima kasih kepada tim, keluarga, teman yang selalu mendukung saya dan saya dedikasikan gelar juara dunia ini untuk Valentino (Rossi)," ujar Bulega seperti dikutip Sportal.

Pada musim depan, anak legenda balap motor dunia, Davide Bulega, ini akan menjajal kompetisi yang baru. Dia akan bertarung di kelas Moto3 bersama Sky Racing Team VR46, tim balap motor yang dimiliki Rossi.

Pada musim 2015, mantan juara Eropa MiniGP 50 CC tersebut sudah merasakan bagaimana ketatnya persaingan di Moto3. Bulega tampil membela Sky di balapan Valencia dengan status wild card. Pada balapan tersebut, dia sukses finis ke-14 dan merebut empat poin.

Andrea Migno

Lahir di Saludecio, Italia, Andrea Migno memulai kiprahnya di ajang balap motor dengan menjajal minimoto pada usia 8 tahun. Setelah itu dia mulai serius menekuni balapan pada 2010 dan berhasil finis keenam di ajang Honda 125GP Trophy.

Pada 2011, kariernya merambah ke level internasional dengan berpartisipasi di ajang Red Bull MotoGP Rookies Cup dan dua seri terakhir CEV Championship.

Saat balapan di Spanyol, Migno naik ke kelas Moto3. Penghargaan atas performa konsistennya adalah finis di posisi kedelapan di klasemen pebalap. Pada 2014, dia bergabung dengan VR46 Riders Academy milik Rossi. Migno mengendaai KALEX-KTM di ajang FIM CEV Repsol Championship dan konsisten tampil apik.

Performa moncernya menarik perhatian tim Mahindra, yang meminangnya untuk menggantikan Arthur Sissis di balapan GP Silverstone dan kemudian di sisa balapan Moto3 musim itu. Raihan delapan poin pada musim 2014 membuat tim Sky Racing VR46 menyodorkan kontrak.

Pada musim 2015 dia berhasil mendulang 35 poin, meskipun di atas kertas itu bukan prestasi fenomenal. Pada musim depan, dia masih akan tetap memperkuat tim itu.

Saat ditanya siapa pahlawan balapnya, Migno tak ragu-ragu menjawab. “Anda yakin perlu bertanya? Valentino Rossi, tentu saja. Vale adalah pria spesial, dia seperti kakak. Dia selalu memberikan nasihat bagaimana meningkatkan kemampuan. Dia membuat Anda percaya diri. Dia motivator sejati!” ujar Migno, seperti dilansir blog ktm.

Romano Fenati

Pebalap Italia, Romano Fenati, memulai karier balapnya pada usia 7 tahun, saat ambil bagian di kejuaraan minibike Italia. Pada 2010, dia menjalani debut di ajang 125GP Championship, dengan finis di urutan ke-13.

Romano Fenati dan Valentino Rossi (MotoGP.com)

Tahun berikutnya, Fenati tampil gemilang dengan menjuarai European 125cc Championship di Albacete dan secara keseluruhan menempati posisi kedua di klasemen akhir.

Pada 2012, dia memulai kiprahnya di Moto3 bersama FTR Honda dan menorehkan rekor memenangi balapan kedua di Jerez, Spanyol. Sayangnya pada musim kedua bersama FTR Honda, dia malah gagal naik podium dan akhirnya pindah ke tim Sky Racing Academy yang menggunakan KTM pada 2014.

Jebolan VR46 Academy milik Rossi ini bangkit memenangi empat balapan dan finis kelima di klasemen akhir bersama tim the Sky Racing Team. Pada musim berikutnya dia finis di posisi keempat klasemen akhir, namun hanya tiga kali berhasil naik podium. Pada musim 2016, Fenati memutuskan bertahan di Sky Racing Team VR46 untuk mengejar gelar juara dunia Moto3.

3 dari 3 halaman

2

Francesco Bagnaia
Francesco Bagnaia (kiri) bersama Valentino Rossi. (12alle12.it)

Francesco Bagnaia

Anak didik Valentino Rossi di VR46 Riders, Francesco Bagnaia, membuka kiprahnya dengan meraih sukses di Minimoto dan MiniGP (juara Eropa pada 2009). Setelah itu dia menjajal ajang CEV Championship di Spanyol pada 2010, dan finis kedua pada debutnya di PreGP 125 Mediterranean Championship bersama tim Monlau Competicion.

Pada CEV tahun itu dia finis di posisi ketiga klasemen akhir dan pada musim 2012 masih bertahan di tim yang sama.

Petualangannya di ajang Moto3 dimulai pada 2013, di mana dia berpasangan dengan sesama anak didik Rossi, Roman Fenati, di Team Italia FMI. Semusim berselang, dia pindah ke Sky Racing Team VR46 yang menggunakan KTM, lagi-lagi bersama Fenati.

Pada musim 2015, Bagnaia menikmati tantangan baru saat bergabung dengan tim MAPFRE MAHINDRA Aspar Team. Ujian ini dilalui dengan mulus, yaitu memuncaki perolehan poin para pebalap Mahindra. Hal itu pulalah yang membuat tim tersebut tetap mempertahankan Bagnaia untuk musim 2016.

Niccolo Antonelli

Anak didik Valentino Rossi di VR46 Riders Academy ini telah empat musim berkiprah di ajang Moto3. Pada tahun ini, dia bakal menjalani musim kelimanya.

Pada dua musim pertama di Moto3, Antonelli bergabung dengan FTR Honda, kemudian hengkang ke KTM pada musim 2014. Mulai musim 2015 dia mengendarai Honda di tim Ontgetta-Rivacold dan kerja sama itu akan berlanjut pada musim 2016.

Niccolo Antonelli (kanan) dan Valentino Rossi. (weheartit.com)

Meskipun dididik oleh Rossi, pebalap kelahiran Cattolica, Italia, ini malah disebut-sebut sebagai titisan mendiang Marco Simoncelli, yang juga berasal dari Negeri Pizza. Keduanya memang memiliki banyak kesamaan. Gaya rambut yang kribo, sama-sama menunggang Honda, hingga lahir di kota yang sama.

Antonelli juga mengakui sebagai fan berat Simoncelli “Marco (Simoncelli) idola saya, dia bakal selalu dikenang dalam sejarah MotoGP. Jika saja masih hidup, dia tentu akan bersaing dengan Jorge (Lorenzo), Valentino (Rossi), dan Marc (Marquez). Saya adalah penggemar fanatiknya,” kata Antonelli.

Dia adalah legenda. Kalau saja dia masih hidup, tentu saat ini dia akan bersaing dengan Vale (Rossi), Jorge (Lorenzo), dan Marc (Marquez) untuk gelar juara dunia. Saya tak pernah meragukan itu. Saya adalah penggemar beratnya,” ungkap Antonelli.

 

Lanjutkan Membaca ↓
Ngobrol Bareng Atlet Cantik, Liontin Evangelina Setiawan Soal Tren dan Tips Aman Bersepeda