PBSI Tolak Calonkan Diri Jadi Tuan Rumah Turnamen Besar BWF hingga 2025

Oleh Yus Mei Sawitri pada 29 Nov 2018, 11:45 WIB
Diperbarui 29 Nov 2018, 11:45 WIB
Achmad Budiharto
Sekjen PBSI, Achmad Budiharto. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Jakarta - PBSI memutuskan tidak akan mencalonkan diri menjadi penyelenggara major events atau turnamen besar Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) sepanjang 2019-2025. Sikap itu diambil karena sistem yang diterapkan BWF dinilai memberatkan negara penyelenggara. 

Enam turnamen yang masuk kategori major events BWF adalah Kejuaraan Dunia, Kejuaraan Dunia Veteran, Kejuaraan Dunia Junior, Piala Suhandinata (Kejuaraan Dunia Junior Beregu), Piala Thomas dan Uber serta Piala Sudirman.

BWF memberlakukan pembagian komersial 80- 20 pada setiap turnamen besar. Artinya, sebanyak delapan puluh persen sponsorship exposure  dikendalikan penuh BWF. Negara penyelenggara hanya kebagian porsi dua puluh persen. Sebagai contoh, penempatan logo sponsor pada e-board di pinggir lapangan, backdrop media zone, serta materi promosi lainnya, masuk dalam aturan 80- 20 ini.

Aturan tersebut dinilai menyulitkan bagi negara penyelenggara untuk mencari sponsor yang bisa memenuhi ketentuan ini. Padahal, kebutuhan dana event tidak sedikit dan terus meningkat setiap tahunnya.

"PBSI mengajukan keberatan kepada BWF karena aturan itu memberatkan kami sebagai negara penyelenggara. Kami berharap BWF bisa mengubah konsep pembagian komersial menjadi 60-40. Maksudnya 60 persen itu untuk negara penyelenggara," ujar Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto, melalui rilis yang diterima Bola.com, Kamis (29/11/2018). 

Kasubid Hubungan International PP PBSI, Bambang Roedyanto, mengatakan saat jadi tuan rumah Kejuaraan Dunia 2015, Indonesia mengalami kerugian akibat aturan tersebut. 

"Belum lagi makin ke sini makin banyak pengeluaran ekstra yang terus meningkat dan dibebankan kepada negara penyelenggara, termasuk akomodasi, transportasi dan berbagai biaya lainnya. Kalau bisa ya jangan berat sebelah seperti ini," ujar Kasubid Hubungan International PP PBSI, Bambang Roedyanto.  

 

2 dari 2 halaman

3 Negara Menolak

Sejauh ini sudah tiga negara yang mengambil langkah yang sama, yaitu Indonesia, China, dan Malaysia. Ketiga negara ini telah mengajukan keberatan kepada BWF atas ketentuan komersial yang dianggap tidak fair.

Indonesia terakhir kali mengikuti bidding turnamen major events pada 2014. Kala itu Indonesia memenangkan pencalonan sebagai tuan rumah penyelenggara turnamen Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta serta Kejuaraan Dunia Junior dan Kejuaraan Dunia Junior Beregu 2017 di Yogyakarta.

Indonesia sementara hanya akan menjadi tuan rumah turnamen yang masuk kategori BWF World Tour di tiga level yaitu Indonesia Open Super 1000, Indonesia Masters Super 500 serta Indonesia International Badminton Championships Super 100, hingga 2021.

Rudy mengatakan hari ini pencalonan tuan rumah penyelenggara BWF Major Events 2019 - 2025 sedang berlangsung di kantor pusat BWF di Kuala Lumpur, Malaysia. Beberapa negara yang diketahui tengah mengikuti bidding di antaranya Jepang, Korea Selatan, Makau, India, Rusia, dan Thailand. 

Lanjutkan Membaca ↓
Ngobrol Bareng Atlet Cantik, Liontin Evangelina Setiawan Soal Tren dan Tips Aman Bersepeda