Alasan di Balik Miliarder Investasi ke Klub Sepak Bola

Oleh stella maris pada 15 Mar 2019, 10:27 WIB
Ilustrasi miliarder (iStock)

Bola.com, Jakarta Dari sekian lini bisnis, tak sedikit miliarder alias para pengusaha di dunia yang memilih menanamkan uangnya di klub sepak bola. Apa alasannya? Mengapa mereka tak memilih berinvestasi ke startup yang sekelas decacorn misalnya?

Dikutip laman Bussines Insider, bila digabungkan total harta kekayaan para miliarder dunia yang bertumbuh 17 persen pada 2016 sebesar USD6 triliun atau senilai Rp85 ribu triliun. Sebagaian besar didorong oleh pengusaha dan adanya pertumbuhan kuat di Asia, dengan mayoritas kekayaan yang diciptakan bukan diwariskan.

Kemudian diketahui, kekayaan yang diciptakan itu ternyata berasal dari investasi olahraga, seperti membeli klub sepak bola. Mengapa harus memilih investasi dibidang olahraga? Apa keuntungannya?

Masih dari laman tersebut, ternyata ada beberapa hal yang melandasi investasi dilakukan. Pertama karena hanya ingin berinvestasi. Kedua karena ingin meningkatkan status dari jutawan menjadi miliarder.

Ketiga, motivasi di balik membeli klub sepak bola karena alasan yang kepentingan bisnis. Namun sebenarnya memiliki klub olahraga lebih dari sekadar usaha bisnis atau pengembangan finansial.

Fakta Tentang Startup Pertama Level Decacorn Grab
Fakta Tentang Startup Pertama Level Decacorn Grab

Memiliki waralaba olahraga, justru dipandang sebagai permainan ego. Di Amerka dan Eropa, bergelut dengan investasi olahraga untuk membangun warisan sebagai orang yang menjadi 'pelindung' tim atau klub tersebut.

Padahal sebenarnya para miliarder itu bisa berinvestasi di lini bisnis lain, startup. Apalagi dengan nominal harta kekayaan mereka. Bukan tidak mungkin bisa menanamkan sahamnya di startup berlevel decacorn seperti Grab.

Ya, Grab kini menyandang status sebagai startup decacorn pertama di Asia Tenggara yang menyediakan beragam fitur sesuai kebutuhan. Tapi apa sih decacorn itu? Decacorn merupakan istilah untuk perusahaan rintisan atau startup yang bernilai USD10 miliar. Kalau dirupiahkan, nilai valuasinya mencapai Rp140 triliun.

Namun untuk sampai di level ini, tentu tidak mudah bagi Grab yang selalu berusaha menyelesaikan masalah transportasi nyata. Butuh perjuangan dan kerja keras panjang sejak aplikasi Grab diluncurkan pada 2012.

Grab terus berinovasi memberikan layanan untuk kebutuhan harian para penggunanya. Bukan hanya jasa transportasi online (Grab Bike, Grab Car, Grab Taxi, GrabRent) saja.

Grab juga memiliki banyak layanan, seperti Grab Express, GrabFood, GrabFresh. Hingga saat ini, Grab sudah tersebar di delapan negara, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja, Myanmar, dan Vietnam.