Kisah Unik 4 Ganda Campuran Indonesia saat Menjuarai All England

Oleh Benediktus Gerendo Pradigdo pada 16 Mar 2020, 20:45 WIB
Diperbarui 16 Mar 2020, 20:45 WIB
Praveen / Melati
Pasangan Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti melakukan selebrasi usai meraih juara All England 2020 dengan mengalahkan wakil Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai di Birmingham Arena, Minggu (15/3/2020). (AP/Rui Vieira)

Bola.com, Jakarta - All England merupakan turnamen bulutangkis tertua yang ada di dunia. Bisa menjadi juara di turnamen BWF World Tour Super 1000 yang digelar di Birmingham, Inggris, ini tentu merupakan pencapaian yang luar biasa dalam karier pebulutangkis.

Terbaru, ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi juara All England 2020 setelah mengalahkan pasangan Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, melalui pertandingan tiga gim di laga final.

Pada saat yang sama, ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, harus mengubur keinginan untuk mengulang sukses di turnamen yang sama pada 2017 dan 2018. Keduanya kalah di laga final dari pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

Keberhasilan meraih gelar juara All England tentu menjadi kebanggaan bagi Praveen/Melati. Apalagi bagi Praveen, ini merupakan gelar juara All England kedua dalam kariernya. Gelar pertama diraihnya bersama Debby Santoso pada All England 2016.

Tidak banyak ganda campuran Indonesia yang berhasil meraih gelar juara di All England. Bola.com menelusuri ada empat ganda campuran Indonesia yang berhasil menorehkan prestasi di turnamen bulutangkis tertua yang digelar sejak 1899 ini. Keempatnya memiliki ceritanya masing-masing.

2 dari 5 halaman

Perdana oleh Christian Hadinata/Imelda Wiguna

Christian Hadinata
Christian Hadinata yakin proses Audisi Djarum Beasiswa Bulu Tangkis bisa melahirkan calon bintang masa depan Indonesia. (bola.com/Reza Bachtiar)

Ganda campuran Indonesia yang pertama kali menjadi juara di All England adalah Christian Hadinata/Imelda Wiguna. Gelar juara ini diraih oleh pasangan Indonesia itu pada 1979.

Namun, bagi Christian Hadinata saat itu, gelar juara All England tersebut merupakan yang ketiga baginya. Sebelumnya, ia sudah pernah mendapatkannya dua kali di sektor ganda putra bersama Ade Chandra pada 1972 dan 1973.

Begitu pula Imelda Wiguna. Gelar juara All England 1979 di sektor ganda campuran itu bukan satu-satunya yang diraih oleh atlet putri Indonesia itu. Pasalnya, pada tahun yang sama, Imelda juga turun di sektor ganda putri dan berhasil menjadi juara All England 1979 bersama Verawaty.

Dalam partai final ganda campuran All England 1979, Christian Hadinata/Imelda Wiguna berhasil menjadi juara setelah mengalahkan pasangan tuan rumah, Nora Perry/Mike Tredgett, dengan dua gim langsung 15-1 dan 18-17, di mana saat itu penghitungan skor badminton masih sampai 15 poin.

 

Imelda Wiguna bangga menjadi wakil Indonesia menjadi Duta Women in Badminton wilayah Asia.

3 dari 5 halaman

Hattrick Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir saat menjuarai All England 2014. (AFP/Carl Court)

Bicara perihal ganda campuran Indonesia dalam sepanjang sejarah All England, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir merupakan pasangan paling sukses. Keduanya berhasil mempersembahkan tiga gelar juara All England secara berturut-turut, mulai tahun 2012 hingga 2014.

Ketika menjuarai All England 2012, Tontowi/Liliyana berhasil mengakhiri puasa gelar sektor ganda campuran di All England yang bertahan hingga 33 tahun. Pasangan Indonesia yang karib disapa Owi/Butet itu berhasil mengalahkan pasangan asal Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl, dengan dua gim langsung 21-17 dan 21-19 di pertandingan final.

Keberhasilan tersebut berlanjut ke All England 2013. Tontowi/Liliyana kembali berhasil menjadi juara untuk kedua kalinya secara beruntun.

Sempat mengalahkan sesama ganda campuran Indonesia, Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadeth, pada pertandingan semifinal, Owi/Butet memastikan gelar juara All England kedua setelah mengalahkan pasangan China, Zhang Nan/Zhao Yunlei, dengan dua gim langsung, 21-13 dan 21-17.

Rupanya, takdir mempertemukan kedua finalis All England 2013 itu lagi di final All England 2014. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir kembali berhadapan dengan Zhang Nan/Zhao Yunlei di partai final.

Entah kebetulan atau memang takdir yang manis, final satu tahun sebelumnya seperti terulang. Owi/Butet kembali berhasil mengalahkan Zhang Nan/Zhao Yunlei. Tidak hanya itu, skor kemenangan di partai final itu pun sama persis, 21-13 dan 21-17.

Satu hal yang menarik lainnya, takdir berlanjut ke final All England 2015, di mana Owi/Butet kembali dipertemukan dengan Zhang Nan/Zhao Yunlei di partai final.

Namun, kali ini pasangan China itu seperti sudah menghafal permainan Owi/Butet setelah dua pertemuan di final sebelumnya. Owi/Butet kali ini kalah dua gim langsung, 10-21 dan 10-21.

4 dari 5 halaman

Kesuksesan Praveen Jordan dengan 2 Pasangan Berbeda

Indonesia Masters 2020
Ganda Campuran Indonesia, Praveen Jordan, saat menghadapi pasangan Taiwan Lee Yang/Yang Ching Tun pada laga Indonesia Masters 2020 di Istora, Jakarta, Kamis (16/1). Praveen/Melati menang 20-22, 21-12 dan 21-12. (Bola.com/Yoppy Renato)

Praveen Jordan menjadi satu-satunya atlet bulutangkis Indonesia yang merasakan dua kali juara di sektor ganda campuran All England dengan dua pasangan yang berbeda. Keberhasilan Praveen ini diraih pada 2016 bersama Debby Susanto dan yang terkini pada 2020, bersama Melati Daeva Oktavianti.

Kesuksesan Praveen/Debby menjadi juara ganda campuran All England 2016 cukup menarik. Ketika Tontowi/Liliyana harus tersingkir di perempat final, Praveen/Debby melangkah jauh.

Bahkan di semifinal, Praveen/Debby harus bertemu dengan musuh bebuyutan Owi/Butet, di tiga final All England sebelumnya, Zhang nan/Zhao Yunlei, yang juga berstatus sebagai juara bertahan.

Praven/Debby dengan meyakinkan mampu mengalahkan pasangan asal China itu dengan dua gim langsung, 21-15 dan 21-10. Kemenangan itu seakan membuka jalan besar bagi pasangan Indonesia tersebut untuk menjadi juara.

Pada pertandingan final, Praveen/Debby menghadapi pasangan Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, dengan kemenangan dua gim langsung, 21-12 dan 21-17.

Tampil santai dan tenang menjadi kunci keberhasilan Praveen Jordan / Debby Susanto menjadi juara All England 2016. (Twitter)

Keberhasilan Praveen/Debby itu menjadi yang terakhir bagi Debby. Meski keduanya masih tetap berpasangan hingga All England 2018, Praveen/Debby tidak pernah lagi menembus semifinal dalam dua edisi setelah menjadi juara.

Praveen kemudian berganti pasangan dengan Melati Daeva Oktavianti, seiring keputusan pensiun yang diambil Debby Susanto pada 2019. Namun, chemistry Praveen/Melati cukup cepat terbentuk, meski tidak konsisten.

Bicara All England, Praveen/Melati langsung mencapai semifinal pada edisi pertama keduanya berpasangan, yaitu All England 2019. Praveen/Melati mampu mencapai semifinal All England 2019.

Pada babak empat besar itu, Praveen/Melati harus menjalani perlawanan ketat dari pasangan China, Zheng Siwei/Huang Yaqiong. Meski berhasil memenangi gim pertama, Praveen/Melati akhirnya kalah 21-13, 20-22, dan 13-21.

Namun, satu tahun setelah itu, Praveen/Melati mampu membuktikan diri menjadi yang terbaik di All England 2020. Dalam perjalanannya sejak babak pertama All England 2020, Praveen/Debby selalu menghadapi lawan dari negara yang berbeda, mulai Chinese Taipei, Malaysia, China, Inggris, hingga menghadapi pasangan Thailand di partai final.

Melalui pertandingan yang alot dan dramatis menghadapi Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, Praveen/Melati mampu meraih kemenangan setelah melalui tiga gim, dengan skor 21-15, 17-21, dan 21-8.

Pasangan Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti melakukan selebrasi usai meraih juara All England dengan mengalahkan wakil Thailand Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai di Birmingham Arena, Minggu (15/3/2020). (AFP/Oli Scarff)

5 dari 5 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓
Lomba Lari Xiamen Marathon di China Diikuti 12.000 Peserta