Penjelasan Ahli Mikrobiologi Agar Penyemprotan Disinfektan Efektif Membasmi Virus Corona

Oleh Wiwig Prayugi pada 26 Mar 2020, 19:30 WIB
Diperbarui 26 Mar 2020, 19:30 WIB
Persiapan Wisma Atlet Kemayoran Jadi RS Darurat COVID-19
Petugas bersiap melakukan penyemprotan cairan disinfektan di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (21/3/2020). Wisma Atlet Kemayoran bakal menampung pasien virus corona COVID-19 mulai malam nanti. (merdeka.com/Imam Buhori)

Bola.com, Jakarta - Pemerintah tengah menggalakkan penyemprotan cairan disinfektan di beberapa tempat. Penyemprotan itu untuk mengantisipasi penyebaran pandemi virus Corona.

Namun, seberapa efektif langkah penyemprotan disinfektan dalam membasmi virus Corona? Hal tersebut sudah dijawab oleh seorang pakar ahli mikrobiologi dalam saluran Youtube Ganjar Pranowo. Berikut ulasan selengkapnya.

Seperti dalam video unggahan saluran Youtube Ganjar Pranowo pada Minggu (22/3/2020), terlihat Gubernur Jawa Tengah membahas virus Covid-19 bersama spesialis mikrobiologi klinik Rebriarina Hapsari. Ketika keduanya sedang mengobrol, Ganjar menanyakan kepada Rebriarina seberapa efektif penyemprotan cairan disinfektan.

"Ada permintaan Mbak, Pak Ganjar mbok tempat saya disemprot gitu. Sebenarnya penting enggak sih menyemprot itu? Akhirnya semua seperti demam berdarah dia pikir sehingga seperti nyamuk yang disemprot. Nah, si virus itu apa perlu disemprot?," tanya Ganjar.

Pertanyaan dari Ganjar dijawab oleh Rebriarina yang menjelaskan sebenarnya tak perlu dilakukan penyemprotan di tempat umum. Ia mengatakan akan lebih efektif jika permukaan yang sering disentuh atau tersentuh dibersihkan dengan cara diusap pakai kain yang sudah diberi disinfektan.

"Untuk penyemprotan di tempat umum menurut saya tidak diperlukan, karena yang lebih efektif justru permukaan yang mungkin tempat terkena virus contohnya di bus kota, permukaan yang sering dipegang orang itu diusap, sehingga itu akan memberikan waktu kontak yang cukup dari bahan aktif itu untuk merusak virus," jelasnya.

2 dari 4 halaman

Jangan Sampai Terhirup

Pekerja memakai alat pelindung semprotan disinfektan untuk membantu mencegah penyebaran Virus Corona COVID-19, di stasiun kereta bawah tanah di Seoul pada 12 Maret 2020. (YONHAP / AFP)
Pekerja memakai alat pelindung semprotan disinfektan untuk membantu mencegah penyebaran Virus Corona COVID-19, di stasiun kereta bawah tanah di Seoul pada 12 Maret 2020. (YONHAP / AFP)

Rebriana juga menjelaskan bahwa adanya tindakan penyemprotan dapat berbahaya jika bahan aktif (disinfektan) terhirup oleh manusia dan masuk ke dalam paru-paru. Ia menjelaskan bahwa paru-paru tak sekuat kulit manusia.

"Perlu diperhatikan kalau misalkan ada penyemprotan di komunitas luar yaitu banyak orangnya. Nah ini akan kita hirup bahan aktif (disinfektan) itu, itu akan berbeda kalau misalkan terkena kulit yang memang kulit diciptakan Tuhan YME lebih tahan. Kalau sampai bahan aktif itu terhirup oleh kita, sel paru-paru kita itu tidak sehebat kulit, itu akan lebih rentan," lanjutnya.

Cairan kimia disinfektan yang terhirup dan masuk ke dalam paru-paru akan menyebabkan timbulnya luka. Hal ini juga tengah dijelaskan oleh Rebriarina.

"Menurut saya itu akan menyebabkan luka di paru-paru dan bahkan nanti bisa menimbulkan keganasan," tambahnya.

3 dari 4 halaman

Berbeda dengan Kasus Flu Burung

Flu Burung
Virus Flu Burung (Foto: Fox News)

Rebriarina juga menegaskan bahwa kasus ini berbeda dengan virus flu burung, yang penyemprotannya bisa dilakukan langsung kepada unggas seperti ayam ataupun berbagai jenis burung. Ia mengatakan jika penyemprotan disinfektan terhirup manusia akan dapat menimbulkan kanker pada paru-paru.

"Mungkin masyarakat melihat kalau semprot itu efektif contohnya pada kasus flu burung, di mana burung yang terinfeksi itu disemproti semua. Kita harus melihat karena burung atau ayam itu tidak bisa mandi, sedangkan kita manusia itu bisa mandi dan membersihkan diri sendiri," jelas Rebriana.

"Dan burung atau ayam itu tidak sampai 3 tahun dipanen, mereka itu cepat dipanen jadi kerusakan pada paru-parunya tidak dilihat atau tidak diperhatikan. Tapi kalau kita manusia menghirup bahan aktif seperti itu tentu saja akan membuat berefek luka pada paru dan bahkan bisa menyebabkan misalnya kanker paru, mungkin spesialis paru yang bisa menjelaskan," tambahnya.

 

Sumber asli: Youtube Ganjar Pranowo

Disadur dari: Merdeka.com (Billy Aditya, published 35/3/2020)

 

Disclaimer:

Bersama lebih dari 50 media nasional dan lokal, Bola.com ikut serta melakukan kampanye edukasi #amandirumah secara serentak di stasiun televisi, radio, koran, majalah, media siber, dan media sosial.

Bola.com secara intens akan memproduksi konten-konten edukasi informatif yang positif berkaitan dengan wabah virus Corona COVID-19 sebagai bagian gerakan moral bersama #medialawancovid19. Tolong bantu sebar seluas mungkin info positif ini ke seluruh lapisan masyarakat agar mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia dapat diputus.

4 dari 4 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓
5 Foto Bersejarah Diego Maradona Semasa Aktif Bermain