8 Cara Mencegah Stigma Negatif di Tengah Pandemi Virus Corona

Oleh Faozan Tri Nugroho pada 01 Apr 2020, 14:35 WIB
Diperbarui 01 Apr 2020, 14:35 WIB
Ilustrasi Berbisik

Bola.com, Jakarta - Pandemi Virus Corona SARS-CoV-2 masih menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Tak pelak, virus corona COVID-19 selalu menjadi tajuk utama media, baik itu cetak, daring, mau pun layar kaca.

Banyak media nasional maupun internasional membicarakan virus yang diduga berasal dari Wuhan, China, itu.

Hal itu disebabkan karena masih banyak pasien yang terinfeksi virus corona sehingga masyarakat membutuhkan informasi untuk memuaskan keingintahuan mereka seputar COVID-19.

Apalagi, penyebaran virus corona yang relatif cepat dan mudah diyakini membuat masyarakat kaget. 

Belum lagi, virus ini bisa dikatakan baru dan masih banyak yang belum diketahui. Di sisi lain, virus ini sudah menginfeksi lebih dari 700 ribu orang di seluruh dunia dengan angka kematian mencapai lebih dari 36 ribu jiwa.

Dengan gejala yang mirip flu biasa, namun mudah menular, membuat beberapa kalangan menjadi cemas dan khawatir, tak terkecuali masyarakat di Indonesia.

Situasi ini menimbulkan berbagai stigma negatif di kalangan masyarakat hingga menimbulkan dampak sosial.

Dampak sosial yang terjadi, seperti muncul diskriminasi terhadap pasien dan keluarga pasien. Itulah mengapa, kita sebaiknya menghindari pernyataan atau narasi yang bisa memberikan stigma pada orang tertentu.

Lantas bagaimana mencegah stigma negatif seputar COVID-19?

Berikut Bola.com mengumpulkan beberapa cara mencegah adanya stigma negatif, yang mudah-mudahan bisa Anda pratikkan dalam kehidupan sehari-hari di masa pandemi virus corona seperti sekarang.

2 dari 3 halaman

Cara Mencegah Stigma Negatif

1. Menggunakan Nama yang Benar

Dalam penyebutan diusahakan memakai nama yang benar, yakni COVID-19 (Corona Virus Disease 19) yang disebabkan virus SARS-CoV-2.

2. Jangan Menyebut Pasien dengan Korban

Menyebut orang yang terkena COVID-19 dengan pasien. Hindari menggunakan istilah 'korban corona' atau penderita.

Jadi, bisa memakai bahasa yang halus seperti orang yang mungkin/diduga terkena COVID-19.

3. Tidak Menghakimi

Tidak menghakimi seseorang sebagai 'penyebab' atau 'penyebar'. Hindari penggunaan istilah tersebut karena menyiratkan penularan secara sengaja.

4. Berikan Semangat kepada Pasien

Jika mengetahui ada orang yang terkena COVID-19, sebisa mungkin memberikan semangat dan dukungan kepada pasien serta keluarganya.

5. Berikan Penghargaan Petugas Kesehatan

Saat ini, tenaga medis menjadi garda terdepan memberantas virus corona penyebab COVID-19. Maka dari itu, apresiasi setinggi-tingginya perlu diberikan kepada tenaga kesehatan.

3 dari 3 halaman

Sebarkan Berita Positif

Twitter
Ilustrasi Twitter (iStockPhoto)

6. Tidak Menyebarkan Berita Bohong

Jangan menyebarkan berita tidak jelas, kabar bohong atau hoaks mengenai COVID-19.

7. Cari Informasi Terpercaya

Banyaknya informasi mengenai virus corona membuat setiap orang harus berhati-hati dan bisa menyaring kabar yang ada. Jadi, carilah informasi tentang virus corona dari sumber yang terpercaya seperti WHO atau Kemenkes.

8. Sebarkan Berita Positif

Untuk mengatasi kepanikan, sebisa mungkin menyebarkan berita positif, seperti kesembuhan pasien cara pencegahan, dan lain sebagainya. Jadi, jangan memberi kabar yang justru membuat publik takut atau panik.

Sumber: Berbagai sumber

 

Disclaimer:

Bersama lebih dari 50 media nasional dan lokal, Bola.com ikut serta melakukan kampanye edukasi #amandirumah secara serentak di stasiun televisi, radio, koran, majalah, media siber, dan media sosial.

Bola.com secara intens akan memproduksi konten-konten edukasi informatif yang positif berkaitan dengan wabah virus corona COVID-19 sebagai bagian gerakan moral bersama #medialawancovid19. Tolong bantu sebar seluas mungkin info positif ini ke seluruh lapisan masyarakat agar mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia dapat diputus.

Lanjutkan Membaca ↓
Ngobrol Bareng Atlet Cantik, Gronya Somerville