Terkontaminasi Logam Berat, Limbah Masker Mulai Mengancam Ekosistem

Oleh Zulfirdaus Harahap pada 11 Mei 2021, 19:45 WIB
Diperbarui 11 Mei 2021, 19:45 WIB
Petugas DLH DKI Jakarta Pilah Limbah Masker Rumah Tangga
Petugas Sudin LH menunjukkan masker yang ditemukan di Dipo Sampah Kecamatan Pademangan, Ancol, Jakarta, Rabu (24/2/2021). Dengan berbekal alat pemilah, sarung tangan, dan masker, jasa mereka patut dihargai dalam membersihkan lingkungan dari limbah medis. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Bola.com, Swansea - Belum usai pandemi COVID-19, dunia kini menghadapi tantangan baru akan kerusakan ekosistem karena limbah masker sekali pakai. Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Swansea, limbah masker diketahui terkontaminasi logam berat hingga serat plastik saat terendam air.

Mengacu pada penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers of Environmental Science and Engineering, sebanyak 2,8 juta masker sekali pakai digunakan dalam semenit di dunia. Ditemukan jejak logam berat seperti timbal, antimon, dan kadium yang bisa menjadi racun dalam dosis rendah.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran peneliti akan limbah masker yang semakin meningkat setiap harinya. Para ilmuwan berharap ada regulasi yang lebih baik terkait penggunaan masker sekali pakai untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan.

"Sebelum pandemi, kami berupaya mengurangi penggunaan sedotan dan kemasan plastik. Kini, kami melihat ratusan ribu masker dibuang setiap harinya," kata pimpinan penelitian Dr. Sarper Sarp, seperti dikutip BBC.

Sarper Sarp mengaku pihaknya belum bisa memastikan dampak logam berat dari penggunaan masker sekali pakai terhadap manusia. Hal itu perlu dilakukan penelitian jangka panjang.

"Kami perlu menyortir prioritas kami, pertama utuk mengatasi pandemi dan melindungi kesehatan masyarakat. Kemudian, kami perlu mengambil langkah-langkah untuk melindungi lingkungan," ucap Sarper Sarp.

Penemuan logam berat diketahui berasal dari pewarna yang digunakan dalam pembuatan masker. Hal ini ditemukan dari mayoritas masker yang diproduksi di Asia, khususnya China.

"Mungkin saat ini hal itu bukan masalah besar. Akan tetapi, akumulasi dari masalah ini akan kita hadapi pada masa depan," tegas Serper Sarp yang juga Anggota Kelompok Penasehat Teknis COVID-19 Pemerintah Wales itu.

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓