Kisah Kebangkitan Bos Pariwisata di Bali dan Ketua The Jakmania dalam Badai Pandemi COVID-19

Oleh Zulfirdaus Harahap pada 20 Jun 2021, 13:10 WIB
Diperbarui 20 Jun 2021, 13:10 WIB
Ilustrasi pariwisata Bali
Pariwisata di Bali mendapat hantaman yang cukup keras akibat pandemi COVID-19. (dok. Unsplash.com/Jeremy Bioshop)

Bola.com, Jakarta - Made Raka merupakan satu di antara pengusaha pariwisata di Gianyar, Bali. Raka menawarkan berbagai aktivitas bagi para wisatawan yang mengunjungi Pulau Dewata, mulai dari ATV, tubing, hingga menyewakan villa balon.

Berkat usahanya tersebut, Made Raka bisa mengantongi Rp 30 juta per hari atau Rp 900 juta dalam sebulan. Nilai tersebut didapat ketika musim liburan tiba. Namun ketika jumlah pelancong menurun, Raka bisa mendapatkan Rp 20 juta per hari atau Rp 400 juta per bulan.

Usaha wisata yang dikembangkan Made Raka ini pun mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, khususnya untuk masyarakat Bali. Raka bisa mempekerjakan hingga 30 sampai 35 orang di tempat wisatanya.

"Di tempat wisata kami ada ATV, ada tubing yang yang di sungai, ada cycling lihat-lihat sawah atau desa, ada swing, ada flying fox dan sky bag, dan juga ada penginapan vila balon di sini," jelas Made Raka dalam tayangan Berani Berubah di Liputan6.com.

Akan tetapi, ketika badai virus corona menghantam Indonesia pada 2 Maret 2020, dunia pariwisata di Bali ikut terdampak. Tak ada wisatawan asing ataupun lokal yang mengunjungi Bali.

Akibatnya, tempat-tempat wisata dan hotel di Bali menjadi sepi, bahkan tak sedikit yang harus gulung tikar. Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Bali kerugian karena pandemi COVID-19 mencapai hingga Rp9,7 triliun tiap bulan.

Usaha wisata yang dibangun oleh Made Raka pun ikut terdampak. Tak ada turis mancanegara ataupun lokal yang mengunjungi tempat wisatanya di wilayah Gianyar. Para pelancong merasa khawatir dengan semakin tingginya angka penyebaran virus corona di Indonesia, khususnya Bali.

Sama seperti pengusaha pariwisata di Bali, Raka sempat kebingungan dengan semakin menurunnya jumlah wisatawan. Apalagi, usaha wisata yang dibangunnya harus tutup akibat badai pandemi. Meski begitu, Made Raka tak menyerah, dan mulai melirik peluang usaha di bidang lain.

"Awal pandemi (COVID-19) saya merasa bingung. Bingung karena tidak tahu pekerjaan, semua usaha-usaha saya tutup," ujar Made Raka.

"Setelah melewati beberapa bulan, saya mulai berpikir saya harus mulai bangkit dan mencari suatu pekerjaan," tuturnya.

 

2 dari 4 halaman

Banting Setir Jadi Penjual Susu Kambing

Memelihara Kambing Perah
Made Raka turut mengajari anaknya untuk ikut merawat kambing yang menjadi peluang bisnis barunya. (Foto: Liputan6.com).

Masih ada keluarga yang harus dinafkahi membuat Made Raka memutar otak. Dia pun banting setir dengan mencoba peruntungan sebagai penjual susu kambing.

Ide tersebut pertama kali muncul ketika Made Raka mengunjungi ternak kambing milik salah seorang sahabatnya. Dia meminta berbagai saran dan masukan dari sang sahabat terkait beternak kambing.

Hingga akhirnya Made Raka memutuskan untuk beternak kambing susu perah. Ide mengembang biakkan kambing susu perah diambil Raka karena belum banyak peternakan serupa di Bali.

"Pertama karena belum ada di Bali, kedua karena unik, ketiga karena banyak manfaat dari susu kambing itu untuk kesehatan. Dan dari kotoran padat dan cairnya bisa dipakai pupuk," jelas Raka.

Demi menekuni bidang baru tersebut, Made Raka banyak belajar cara merawat dan mengambil manfaat dari kambing perah. Dia kemudian memelihara sekitar 20 ekor kambing etawa.

Dibantu sejumlah karyawannya yang dulu sempat bekerja di industri pariwisata, usaha kambing susu perah milik Made Raka mampu berkembang. Selain susu kambing yang disukai warga sekitar, Made Raka juga mengolah kotoran hewan ternak miliknya menjadi pupuk kandang.

Tak berhenti sampai di situ, Raka ingin mengembangkan peternakan miliknya menjadi agrowisata. Nantinya, wisatawan yang berkunjung ke peternakannya bisa memerah susu kambing secara langsung dan mengolahnya.

"Nanti ke depannya wisatawan yang datang ke sini bisa belajar langsung memerah susu kambing dan mengolah susu. Saya sangat bersyukur, dan saya berharap pada teman-teman yang terdampak (pandemi COVID-19) agar kita mulai bangkit," kata Made Raka.

"Jangan 100 persen tergantung pada pariwisata. Kita orang Bali bisa hidup dan bisa berbuat yang kecil selain pariwisata. Intinya, kita kembali ke titik nol, dan jangan gengsi," tegas Made Raka.

 

3 dari 4 halaman

Perjuangan untuk Pulih dari COVID-19

BOLA Esports Challenge
Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, saat bermain FIFA 20 di Kantor KLY, Gondangdia, Kamis (25/6/2020). Acara bertajuk BOLA Esports Challenge ini mempertemukan pemain Persija dengan The Jakmania pada pertandingan FIFA 20. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Upaya untuk bangkit dari badai COVID-19 juga dialami Diky Budi Ramadhan. Tetapi bedanya, Diky berjuang untuk bisa pulih setelah terpapar virus corona.

Pria yang juga menjabat sebagai ketua kelompok suporter Persija Jakarta, The Jakmania itu pertama kali terinfeksi COVID-19 pada 7 April lalu. Awalnya, dia mengalami demam dan badan terasa lemas.

Setelah menjalani pemeriksaan antigen dan PCR tes, Diky Budi Ramadhan dinyatakan positif COVID-19. Padahal, dia sudah mendapatkan suntikan vaksin pada 5 April 2021.

Sekedar bercerita. Pada Senin (5/4/2021) gue sudah divaksin pertama. Lalu melakukan aktivitas seperti biasa, bekerja dan sebagainya, sampai akhirnya rabu pagi gue drop, demam tinggi dan badan lemas," tulis Diky di akun Instagram miliknya.

"Rabu (7/4/2021) sore gue memutuskan ke Rumah Sakit Mayapada Kuningan untuk infus Vitamin C. Di RS Mayapada, gue diharuskan antigen, akhirnya antigen dan hasilnya positif covid. Lalu gue lanjut PCR, dan hasilnya juga sama, positif COVID-19," kenangnya.

Dinyatakan positif terpapar virus corona membuat Diky Budi harus menjalani perawatan di RS Siloam Mampang. Mengalami demam, diare, dan nafas pendek membuat kondisi kesehatan Diky terus menurun.

Bahkan, dia sampai harus menjalani perawatan di ICU dan memakai ventilator. Akan tetapi, kesehatan Diky Budi tak kunjung membaik. Diky sempat dalam kondisi kritis dan mengalami koma selama tiga hari.

Setelah berjuang untuk sembuh, Diky berhasil melewati masa-masa kritis dan menjalani perawatan di kamar biasa pada 24 April 2021. Hingga akhirnya, dia berhasil mengalahkan virus corona dan dinyatakan sembuh pada 29 April lalu.

Kini, Diky Budi telah menjalani aktivitas seperti biasa. Dia juga ikut bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, ketika membawa trofi Piala Menpora 2021 yang dimenangkan Persija Jakarta.

"Gue cuma mau bilang, dear friends, jaga kesehatan. COVID-19 itu benar adanya dan sangat menyiksa. Ia bukan hanya menyerang fisik, tetapi juga psikis," ujar Diky Budi.

"Lalu setelah vaksin, kalau bisa istirahat dan lebih waspada. Vaksin itu penting, gue aja yang bandel tetep aktivitas berlebihan setelah vaksin," himbaunya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓
Wawancara Eksklusif Eko Yuli Irawan