Usung Misi Mulia, Pemuda Cilegon ini Ciptakan Koperasi Perikanan di Tengah Pandemi COVID-19

Oleh Alfi Yuda pada 30 Jul 2021, 22:20 WIB
Diperbarui 30 Jul 2021, 22:20 WIB
Koperasi Mina Karya Madani
Koperasi Mina Karya Madani. (Bola.com/Alfi Yuda)

Bola.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 berdampak ke segala sektor, satu di antaranya sektor ekonomi. Tidak sedikit pelaku usaha, mulai tingkat UMKM hingga skala besar, yang terpukul. Mereka mengungkapkan penurunan pemasukan yang signifikan selama pandemi COVID-19.

Hal ini juga dirasakan para pelaku pembudidayaan ikan konsumsi jenis air tawar. Para pelaku pembudidayaan ikan konsumsi jenis air tawar mau tidak mau harus beradaptasi dengan suasana pandemi COVID-19, yang belum diketahui kapan berakhirnya.

Pandemi menjadi masa terberat mereka untuk mempertahankan usaha yang mereka tekuni, hanya untuk sekadar bertahan dan berjalan di tengah hantaman COVID-19. Pandemi COVID-19 memang sangat berpengaruh.

Namun, di antara situasi yang menyesakkan itu, ada satu kisah inspiratif, yakni perjuangan seorang pemuda asal Cilegon, Mulyadi.

Mulyadi berhasil menangkap peluang di tengah tekanan pandemi dengan membuka sekaligus menciptakan badan usaha berbentuk koperasi perikanan ikan konsumsi jenis air tawar.

"Awalnya saya mencari komunitas karena melihat peluang kebutuhan ikan lele dan nila di pasar lokal (Cilegon-Serang) yang luas sehingga saya tidak bisa berdiri sendiri," buka Mulyadi, mengawali kisahnya.

Mulyadi memberi nama operasi perikanan ikan konsumsi jenis air tawar itu, Mina Karya Madani.

2 dari 4 halaman

Pengurus dan Anggota Koperasi Mina Karya Madani

Para pengurus dan anggota Koperasi Mina Karya Madani
Para pengurus dan anggota Koperasi Mina Karya Madani. (Bola.com/Alfi Yuda)

Koperasi memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Koperasi adalah badan usaha yang berbasis orang (people-based) dan merupakan bentuk dari bangun perusahaan yang berbeda secara mendasar dibandingkan dengan bisnis berbasis modal (capital-based).

Dalam sejarahnya, koperasi menjadi satu di antara kunci pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Ketertarikan Mulyadi terjun ke satu di antara badan usaha yang berasaskan kekeluargaan dan ekonomi kerakyatan ini, selain mencari komunitas dan melihat peluang pasar, ia memiliki niat yang mulia.

"Saya ingin Koperasi Mina Karya Madani bisa menjadi wadah para petani ikan air tawar menjual hasil panen serta membantu mereka yang mengalami kesulitan dalam beroperasi," ujar Mulyadi.

Koperasi Mina Karya Madani berdiri secara resmi pada 1 Juni 2020 atau di tengah pandemi COVID-19. Saat ini, koperasi ini menjadi satu-satunya koperasi perikanan ikan air tawar di provinsi Banten.

Meski berdiri di tengah pandemi, semangat berwirausaha terus digaungkan oleh Mulyadi sehingga koperasi perikanan ikan konsumsi jenis air tawar yang ia pimpin mampu bertahan hingga saat ini.

Kepada Bola.com, Mulyadi mengungkapkan Koperasi Mina Karya Madani tidak bisa terbentuk tanpa dukungan orang lain.

"Saya dibantu empat kolega, yaitu Yusuf Supriyatna, Sandy Yudha, Ikhsan Martono, dan Iqrom dalam mendirikan koperasi ini. Diharapkan terbentuknya koperasi ini ke depannya bisa memenuhi kebutuhan pasar ikan konsumsi air tawar (lele dan nila) daerah Cilegon-Serang, khususnya Banten," kata pria lulusan Universitas Serang Raya ini.

Mulyadi menjelaskan koperasi perikanan ini bertujuan menjawab tantangan demi memenuhi kebutuhan pasar yang mengalami peningkatan.

"Diketahui kebutuhan ikan air tawar di daerah Cilegon diperkirakan membutuhkan pasokan sebanyak empat ton per hari, sedangkan Serang tiga ton per hari. Kebutuhan yang sebanyak itu, masih belum bisa disanggupi para petani lokal. Bahkan Provinsi Banten masih harus mendatangkan dari Lampung dan Bogor untuk mencukupi permintaan pasar yang besar," imbuh Mulyadi.

Sebagai informasi, Koperasi Mina Karya Madani berlokasi di Jln. Bhayangkara No.2, Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42121.

Ia membeberkan lokasi berdirinya Koperasi Mina Karya Madani atas dukungan dari salah seorang anggota.

"Ada anggota yang memiliki lahan cukup luas, namun tidak terpakai. Lalu ia menawarkan kepada kami untuk dimanfaatkan sebagai lokasi pembudidayaan," ungkap Mulyadi.

3 dari 4 halaman

Jenis Ikan yang Dibudi Daya

Ikan lele dan nila, jenis ikan yang dibudi daya Koperasi Mina Karya Madani
Ikan lele dan nila, jenis ikan yang dibudi daya Koperasi Mina Karya Madani. (Bola.com/Alfi Yuda)

Koperasi Mina Karya Madani saat ini berangotakan 50 orang dan beroperasi setiap hari Minggu-Kamis dan Sabtu mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Jenis ikan yang dibudidayakan di Koperasi Mina Karya Madani ada empat, yaitu ikan lele sangkuriang, lele mutiara, ikan nila larassati, dan nila hitam.

"Kami memilih empat jenis ikan tersebut karena cukup laku di pasaran dan paling cepat untuk dibudidayakan hingga siap panen. Ikan lele membutuhkan waktu siap panen selama tiga bulan, sedangkan ikan nila membutuhkan waktu 4-6 bulan," lanjut Mulyadi.

Seperti diketahui, ikan lele dan ikan nila sering dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Harga ikan yang ditawarkan dari Koperasi Mina Karya Madani cukup terjangkau.

"Harga ikan lele Rp18 ribu per kilogram, sedangkan ikan nila Rp28 ribu per kilogram yang ditawarkan dari para petani koperasi," kata pemuda berusia 26 tahun ini.

4 dari 4 halaman

Tak Hanya Fokus pada Pembudidayaan

Ilustrasi stok pakan ikan dan kegiatan panen, Koperasi Mina Karya Madani
Ilustrasi stok pakan ikan dan kegiatan panen, Koperasi Mina Karya Madani. (Bola.com/Alfi Yuda)

Seperti halnya pengusaha lainnya, badan usaha koperasi perikaan yang dipimpin Mulyadi mengalami ujian ketika pandemi COVID-19 tak kunjung berakhir, termasuk adanya kebijakan pemerintah menetapkan Perberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Dia mengakui, pandemi yang mengalami lonjakan, memengaruhi kelangsungan badan usahanya.

"Produksi kami masih jauh dari angka yang ditargetkan, kendala di transportasi, harga pakan naik, hingga permintaan alami penurunan karena banyak penjual pecel lele tutup akibat PPKM," ujar Mulyadi.

Meski demikian, Mulyadi tidak menyerah. Bersama anggota, Mulyadi selaku ketua pengurus, terus mencari cara agar keberlangsungan koperasi tetap berjalan.

"Kami tetap berpegang teguh untuk terus bertahan. Kami selalu adakan kopdar (kopi darat) sebulan sekali, ya sharing ilmu tentang cara budi daya bersama anggota. Alhamdulillah, sampai saat ini sejak koperasi berdiri belum pernah alami gagal panen," tuturnya.

Tak hanya budi daya ikan konsumsi air tawar, produk yang dikembangkan Koperasi Mina Karya Madani meliputi penunjang operasional budi daya yang diperlukan petani, seperti jual beli pakan, alat budi daya, dan jual beli benih ikan.

Di tengah badai COVID-19, Koperasi Mina Karya Madani meraup omzet sekitar Rp50 juta per bulan dari total produksi lima ton per bulan.

Di akhir perbincangan, Mulyadi menaruh harapan koperasi yang ia pimpin bisa makin maju dan kuat, walau saat ini masih memiliki banyak kekurangan. Ia juga menitip pesan kepada masyarakat supaya makin sadar dan ikut andil di koperasi, serta pemerintah agar lebih memperhatikan UMKM.

"Jika makin banyak masyarakat yang bergabung di koperasi, diharapkan badan usaha seperti ini makin maju dan kuat, seperti ilmu sapu lidi. Dan semoga pemerintah agar lebih memperhatikan UMKM seperti kami ini karena bisnis yang bertahan di masa pandemi COVID-19, ya UMKM," pesan Mulyadi.

Lanjutkan Membaca ↓
Menonton Laga Boca Juniors di Argentina, Pengalaman Paling Gila bagi Matt Damon