Tidak Ingin Kecolongan, Pemerintah Antisipasi Lebih Dini Masuknya Virus COVID-19 Varian Mu ke Indonesia

Oleh Zulfirdaus Harahap pada 08 Sep 2021, 13:50 WIB
Diperbarui 08 Sep 2021, 13:50 WIB
FOTO: Bandara Soetta Setop Penerbangan Penumpang Mulai Hari Ini
Calon penumpang mengenakan alat pelindung diri saat berada di Terminal 2F Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020). Pemerintah menghentikan sementara penerbangan komersil baik dalam maupun luar negeri untuk mencegah penyebaran COVID-19. (merdeka.com/Imam Buhori)

Bola.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia tak ingin kecolongan terkait kehadiran COVID-19 varian Mu. Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, menyebut satu di antara caranya adalah dengan pengetatan kebijakan karantina internasional.

Virus SARS-CoV 2 Varian Mu atau B1621 saat ini sedang menjadi perhatian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Varian virus COVID-19 ini diklaim lebih ganas ketimbang delta.

Varian Mu memiliki kemampuan genetik yang dapat memengaruhi karakteristik virus. Kemampuan ini dapat memengaruhi keparahan penyakit, pelepasan kekebalan, penularan, hingga kemampuan diagnostik maupun pengobatan.

"Varian Mu atau B1621 merupakan varian yang pertama kali ditemukan di Kolombia pada Januari 2021. Varian ini kemudian ditetapkan sebagai yang diamati WHO pada 30 Agustus 2021," kata Wiku dalam konferensi pers virtual.

Hal itulah yang membuat pemerintah tak ingin kecolongan oleh varian Mu. Pengetatan kebijakan internasional meliputi entry dan exit testing serta persyaratan vaksin dianggap sebagai langkah yang tepat untuk mengantisipasi kehadiran COVID-19 varian Mu.

"Pemerintah mencegah munculnya varian baru di dalam negeri melalui vaksinasi serta kebijakan menyeluruh untuk menekan angka kasus," tegas Wiku.

2 dari 3 halaman

Kasus Menurun

Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19.
Ilustrasi coronavirus, virus corona, koronavirus, Covid-19. Kredit: Fernando Zhiminaicela via Pixabay

Wiku Adisasmito menyebut adanya tren penurunan kasus positif dan aktif COVID-19 di Indonesia sepanjang pekan ini. Penurunan ini telah terjadi selama tujuh pekan berturut-turut.

"Kabar baiknya penurunan di minggu ini menandakan bahwa baik kasus positif maupun persentase kasus aktif nasional telah turun selama tujuh minggu berturut-turut," kata Wiku Adisasmito.

Mengacu data 5 September 2021, Wiku Adisasmito menyebut tidak ada provinsi di Indonesia yang memiliki bed occupancy rate (BOR) rumah sakit rujukan COVID-19 di atas angka 60 persen. BOR tertinggi hanya mencapai 45,47 persen yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

3 dari 3 halaman

Tembus 4,1 Juta Kasus

FOTO: DKI Jakarta Kerahkan Mobil Vaksin COVID-19 Keliling
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi keliling di Kebon Kacang, Jakarta, Jumat (9/7/2021). Mobil vaksin COVID-19 keliling diluncurkan guna mempercepat pencapaian target vaksinasi COVID-19 untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Kasus positif COVID-19 harian di Indonesia bertambah 7.201 kasus pada Selasa (7/9/2021). Jumlah ini menggenapkan akumulasi COVID-19 yang terjadi di Indonesia sebanya 4.140.643 kasus.

Jumlah kasus yang sembuh COVID-19 mencapai 14.159 orang. Secara keseluruhan sudah ada 3.864.848 orang yang berhasil sembuh di Indonesia.

Adapun jumlah kematian akibat COVID-19 juga bertambah 638 orang. Dengan demikian, jumlah kematian akibat COVID-19 di Indonesia secara keseluruhan mencapai 137.156 orang.

Lanjutkan Membaca ↓