Tanpa Bendera Merah Putih Saat Indonesia Juara Piala Thomas, Ketua NOC Indonesia: Saya Kecewa dan Sedih

Oleh Hendry Wibowo pada 18 Okt 2021, 10:30 WIB
Diperbarui 18 Okt 2021, 12:57 WIB
Raja Sapta Oktohari, NOC Indonesia, Olimpiade
Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari. (NOC Indonesia)

Bola.com, Jakarta - Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari menyayangkan sanksi yang dijatuhkan Badan Anti-Doping Dunia (WADA) terhadap Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI).

Seperti diketahui hal di atas membuat Merah Putih tak bisa berkibar saat Tim Indonesia menahbiskan diri sebagai kampiun Piala Thomas 2020 usai menang agregat 3-0 atas Tim China di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/21).

Tidak bisa dikibarkannya Merah Putih di Piala Thomas 2020 menjadi kali pertama saksi WADA atas LADI resmi diberlakukan.

Hal di atas membuat Okto-sapaan akran Raja Sapta merasa kecewa dan sedid. "Saya sebagai Ketua Komite Olimpiade Indonesia bangga dengan penampilan Tim Thomas kita, tetapi juga sekaligus sangat kecewa dan sedih," Okto menuturkan.

"Karena seremoni medali dengan bendera PBSI. Bayangkan 19 tahun Indonesia mendambakan membawa pulang Piala Thomas ke Tanah Air, tetapi saat juara justru bendera Merah Putih tidak bisa ditampilkan."

"Saya bersyukur Indonesia Raya masih dapat berkumandang," Lanjutnya.

2 dari 3 halaman

Di Luar Ranah Kerja NOC

Piala Thomas 2020: Indonesia Melawan China
Jonatan Christie menutup pertandingan dengan kemenangan tiga gim langsung atas Li Shi Feng pada laga ketiga final Piala Thomas 2020. Hasil itu, membuat Indonesia menang 3-0 atas China dan berhak atas trofi juara Piala Thomas. (Badminton Photo/Yves Lacroix)

Seremoni kemenangan Indonesia di ajang Piala Thomas 2020 semalam tampak kurang sempurna dengan tidak bisa dikibarkannya Merah Putih. Alasannya, LADI masih dinyatakan tidak patuh karena gagal menerapkan Kode Anti-Doping WADA 2021.

Akibatnya, sejumlah hak-hak Indonesia di olahraga internasional harus ditangguhkan. Di antaranya, tidak diperbolehkannya bendera negara berkibar di single event dan multi event internasional, tidak diizinkannya terpilih menjadi tuan rumah olahraga kelas regional, kontinental hingga dunia selama satu tahun sejak diberlakukannya sanksi, serta hak-hak eksklusif lainnya.

"Sanksi yang diberlakukan untuk Indonesia memang di luar ranah kerja NOC Indonesia. Untuk itu, Saya meminta LADI agar segera dapat memenuhi tanggung jawabnya yang mungkin masih tertunda kepada WADA sembari melakukan pendekatan agar Indonesia bisa segera terbebas dari sanksi," kata Okto.

"Sanksi ini menjadi bukti bahwa berkompetisi di kancah internasional tidak bisa sembarangan karena ada aturan yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, NOC Indonesia selalu kampanye dan berjuang untuk menempatkan tokoh olahraga Indonesia di Federasi Internasional."

"Bukan sekadar untuk tahu aturan terbaru, tetapi juga menunjukkan positioning Indonesia di kancah dunia sehingga kita tak cuma jago kandang," tambahnya.

3 dari 3 halaman

Kordinasi

Indonesia Kembali Raih Gelar Juara Thomas Cup
Para pemain Indonesia melakukan selebrasi usai memenangkan final Piala Thomas beregu putra melawan China, di Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/2021). Indonesia kembali merebut Piala Thomas setelah terakhir meraihnya pada 2002 lalu. (Claus Fisker/Ritzau Scanpix via AP)

Terkait penerapan sanksi WADA terhadap LADI, rencananya NOC Indonesia akan berdiskusi bersama pemerintah dan LADI pada Senin (18/10) pagi.

"Saya berharap LADI bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya sehingga dapat segera terbebas dari sanksi doping yang merugikan Indonesia di ajang Internasional," kata Okto.

Setidaknya ada beberapa agenda multievent yang akan diikuti Indonesia pada tahun depan. Di antaranya Asian Indoor and Martial Art Games (AIMAG) pada 10-20 Maret, SEA Games (Mei), Islamic Solidarity Games (9-18 Agustus), Asian Games (10-25 September), dan Asian Youth Games (20-28 Desember).

Lanjutkan Membaca ↓
Pemain Naturalisasi Solusi Timnas Akhiri Kutukan Spesialis Nyaris Juara di Piala AFF