4 Alasan Barcelona Bakal Tak Terbendung di Pentas La Liga dan Liga Champions

Oleh Ario Yosia pada 14 Agu 2019, 10:30 WIB
Chelsea Bungkam Barcelona di Laga Pramusim

Bola.com, Jakarta - Barcelona mengakhiri musim 2018-2019 dengan kekecewaan. Sekalipun sukses jadi kampiun La Liga, Tim Catalan gagal jadi juara Liga Champions lewat drama yang menyakitkan.

Mereka ditendang Liverpool dari fase semifinal dengan kekalahan 0-4 di Anfield, setelah sebelumnya meraih kemenangan 3-0 di Nou Camp. Situasi hampir sama dialami pada musim 2017-2018, saat mereka didepak AS Roma di perempat final.

Derita Barca kian bertambah saat mereka digasak Valencia di final Piala Raja Spanyol. 

Walau tak memenuhi ekspekstasi, posisi Ernesto Valverde di kursi pelatih tetap aman. Menyongsong musim baru, sang mentor diberi keleluasaan merekrut pemain-pemain baru untuk membuat skuat bertabur bintang.

Target utama Barcelona adalah mempertahankan dominasi di La Liga dan juga Liga Champions. Ambisi besar ini bukan hal berlebihan. Klub yang juara kompetisi domestik sebanyak 26 kali ini punya berbagai modal untuk mencapai targetnya. 

Bola.com melihat Barcelona akan sulit ditandingi musim ini. Apa alasannya?

Saksikan siaran langsung pertandingan-pertandingan Premier League, La Liga, Ligue 1, dan Liga Europa di sini

2 of 5

Lini Depan Ganas yang Tak Tertanding

Antoine Griezmann
Antoine Griezmann (AFP/Charly Triballeau)

Kedatangan Antoine Griezmann dari Atletico Madrid memperkaya opsi di lini depan Barcelona. Kini mereka tidak hanya terlalu bergantung pada trio, Luis Suarez, Lionel Messi, serta Philippe Coutinho.

Selain Griezmann, Barca juga punya Ousmane Dembele yang ketajamannya tak perlu diragukan. Bisa dibayangkan, akan seperti apa garangnya Barcelona jika Neymar jadi pindah dari PSG.

3 of 5

Lini Tengah yang Solid

Senyum Semringah Frenkie de Jong Jadi Pemain Baru Barcelona
Gelandang asal Belanda Frenkie de Jong mencium logo klub barunya saat pengenalan dirinya sebagai pemain Barcelona di stadion Camp Nou, Spanyol (5/7/2019). Frenkie de Jong sangat antusias bisa bermain dengan sang superstar, Lionel Messi. (AFP Photo/Lluis Gene)

Tanpa Andres Iniesta dan Xavi Hernandez mesin permainan Barcelona di sektor tengah macet. Ivan Rakitic tak maksimal bermain sebagai jenderal lapangan tengah.

Solusi permasalahan ada di sosok Frenkie de Jong yang didatangkan dari Ajax Amsterdam. De Jong yang punya skill individu di atas rata-rata serta didukung visi bermain yang oke  jadi tandem bagi Rakitic untuk menghidupkan permainan lini kedua.

Barcelona juga punya gelandang berkelas dalam melakukan pekerjaan kotor, Sergio Busquets dan Arturo Vidal, yang kian membuat lini ini jadi amat solid.

Agresivitas permainan sektor gelandang selama ini jadi nyawa permainan Barcelona. Kombinasi umpan pendek para gelandang membuat sistem tiki-taka berjalan dengan maksimal.

Trio penyerang bisa fokus mengobrak-abrik pertahanan lawan. Mereka dapat pasokan bola yang memadai dari sektor kedua.

4 of 5

Pesaing Sedang Oleng

Selebrasi Eden Hazard Setelah Cetak Gol Perdana di Real Madrid
Gelandang Real Madrid, Eden Hazard berselebrasi dengan rekannya Karim Benzema setelah mencetak gol ke gawang Red Bull Salzburg pada laga persahabatan di Red Bull Arena, Austria (8/8/2019). Winger asal Belgia itu mencetak gol perdananya untuk klub barunya Real Madrid. (AFP Photo/Krugfoto)

Real Madrid sejak puluhan tahun jadi pesaing utama Barcelona di pentas La Liga. Musim ini El Real tampak agresif di bursa transfer pemain guna mengimbangi dominasi Barca di kompetisi domestik.

Untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Cristiano Ronaldo, Real Madrid memboyong Eden Hazard. Namun, berpegang pada hasil-hasil pertandingan pramusim terlihat kalau Zinedine Zidane kesulitan membentuk permainan yang solid di Los Blancos. Mereka akan kesulitan bersaing dengan Barcelona jika masalah ini tak kunjung dibereskan.

Persaing utama Barcelona di La Liga kemungkinan bergeser di Atletico Madrid, yang melakukan pembelian brilian di bursa transfer. Tapi jika melihat komposisi skuat keseluruhan, sulit bagi mereka menandingi Barcelona.

Di pentas Eropa kurang lebih sama. Juara bertahan Liverpool tak melakukan penambahan skuat. Konsentrasi utama mereka diarahkan ke Premier League bukan Liga Champions. Juventus? Mereka masih dipusingkan dengan adaptasi Maurizio Sarri.

Bayern Munchen juga sama saja. Mereka belum punya pengganti sepadan dua ikon klub, Arjen Robben dan Franck Ribery.

5 of 5

Mentalitas Juara

Lionel Messi
Lionel Messi sebelum laga persahabatan kontra Arsenal di ajang Joan Gamper Trophy di Camp Nou (4/8/2019). (AFP/Josep Lago)

Selama 20 tahun terakhir Barcelona mendominasi persaingan Liga Spanyol. Mereka jadi jawara musim 2004–2005, 2005–2006, 2008–2009, 2009–2010, 2010–2011, 2012–2013, 2014–2015, 2015–2016, 2017–2018, 2018–2019.

Di pentas Liga Champions juga demikian. Semenjak generasi emas La Masia mendominasi skuat utama, Barcelona jadi Raja Eropa selama empat musim, yakni pada: 2005–2006, 2008–2009, 2010–2011, 2014–2015.

Selama 10 tahun terakhir Barcelona tak pernah puasa trofi. Mentalitas pemenang ini terus berlanjut sekalipun satu per satu alumnus La Masia sudah tak ada di tim.

Saat ini tinggal Lionel Messi, Jordi Alba, dan Gerard Pique yang jadi bagian Generasi Emas Barcelona bertabur gelar. Kombinasi para pemain ini dengan bintang-bintang lainnya membuat Barcelona jadi tim yang solid sulit untuk ditaklukkan.

Lanjutkan Membaca ↓