5 Fakta Penguat Real Madrid Bakal Melenggang Bebas Mempertahankan Gelar Liga Spanyol: Barcelona Tidak Akan Bangkit dalam Waktu Dekat

Oleh Ario Yosia pada 17 Sep 2020, 08:50 WIB
Diperbarui 17 Sep 2020, 08:50 WIB
Real Madrid - Federico Valverde, Isco, Eden Hazard, Zinedine Zidane
Real Madrid - Federico Valverde, Isco, Eden Hazard, Zinedine Zidane (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Real Madrid adalah satu dari tiga tim, Barcelona dan Athletic Bilbao, yang tidak pernah terdegradasi dari La Liga sejak kompetisi dimulai lebih sembilan dekade lalu. Menegaskan nama besar Los Blancos di Spanyol.

Dengan raihan 34 gelar, Los Blancos adalah tim tersukses dalam sejarah La Liga. Tidak mengherankan, mereka juga memegang banyak rekor dalam kompetisi tersebut.

Real Madrid telah mencatatkan kemenangan Liga yang paling banyak berturut-turut (5 - 1961 sampai 1965 dan 1986 sampai 1990), memiliki kemenangan terbanyak (1716) dan gol terbanyak dalam satu musim (121).

Real Madrid juga merupakan tim pertama yang menembus raihan poin 100 poin di divisi teratas Spanyol, melakukannya pada musim 2011-2012, dan merupakan satu dari hanya dua tim yang mencetak gol di semua 38 pertandingan dalam 20 tim musim Liga.

Musim lalu, Real Madrid memenangkan gelar La Liga pertama mereka dalam tiga tahun terakhir, yang merupakan gelar besar pertama mereka sejak kepergian pencetak gol terbanyak sepanjang masa Cristiano Ronaldo pada musim panas 2018 lalu. Mereka punya kans mempertahankan gelar yang satu ini. Berikut sejumlah alasannya:

2 dari 7 halaman

Punya Sistem Pertahanan Terbaik

Thibaut Courtois, Gabriel Jesus
Kiper Real Madrid, Thibaut Courtois, mencoba menghalangi penyerang Manchester City, Gabriel Jesus dalam laga leg kedua 16 besar Liga Champions 2019/2020 di Etihad Stadium, Sabtu (8/8/2020). (AFP/Peter Powell)

Real Madrid secara tradisional dikenal dengan daya sengat mereka di lini depan, terutama ketika Cristiano Ronaldo berada di klub tersebut.

Superstar Portugal itu biasa mencetak rata-rata sekitar 35 gol La Liga (50 di semua kompetisi) setiap musim. Kepergiannya dari klub dua tahun lalu meninggalkan celah dalam serangan Real Madrid.

Namun, kembalinya Zinedine Zidane memicu pembalikan menakjubkan dari nasib buruk Real Madrid. Nakhoda asal Prancis itu tidak mencari pengganti Ronaldo dan malah fokus memperkuat barisan belakang klub yang sering diabaikan.

Perubahan ini amat membantu Thibaut Courtois, yang menjalani musim debut mengecewakan, kembali solid di depan gawang. Courtois mencatatkan 18 clean sheet tertinggi di Liga (dalam 34 pertandingan) musim lalu.

Kapten Sergio Ramos dan Raphael Varane membentuk kemitraan pertahanan tengah yang tangguh sementara full-back Marcelo, Ferland Mendy, dan Dani Carvajal bermain agresif di sayap. Mereka amat kuat dalam menyerang dan bertahan.

Casemiro tampil mengesankan dalam perannya sebagai gelandang bertahan dan terbukti menjadi perisai yang efektif bagi pertahanan Real Madrid sementara veteran. Sementara itu gelandang asal Jerman, Toni Kroos melakukan pergantian peran lebih bermain sedikit ke belakang.

Ramos, khususnya, juga tangguh di sisi lain yakni produktivitas dengan lesakan 11 gol musim lalu.

Hanya konsekuensi soliditas pertahanan membuat Real Madrid kesulitan mencetak gol di La Liga musim lalu. Tapi tak masalah karena intinya mereka jadi jawara kompetisi. El Real hanya kebobolan 21 gol lebih sedikit daripada 46 gol yang mereka kebobolan pada 2018-2019.

Menariknya, Madrid kebobolan gol paling sedikit oleh tim lima besar liga musim lalu (PSG kebobolan 24 gol, tetapi mereka hanya memainkan 27 pertandingan dalam musim Ligue 1 yang terpotong), sebuah faktor yang terbukti krusial di tim ibu kota dengan sukses mempertahankan gelar mereka di 2020-2021.

 

3 dari 7 halaman

Kebangkitan Eden Hazard

Eden Hazard - Real Madrid
Penyerang Real Madrid, Eden Hazard, mulai berlatih kembali usai cedera panjang. (Dok. Real Madrid)

Sama seperti rekan senegaranya Courtois, Eden Hazard menjalani musim debut mengecewakan bersama Real Madrid setelah tiba dari klub Liga Liga Inggris, Chelsea dengan transfer 115 juta euro.

Pemain termahal Los Blancos itu gagal menunjukkan permainan terbaik karena menderita cedera selama sebagian besar musim lalu.

Hazard, yang bermain sebagai gelandang serang atau pemain sayap, telah berkembang menjadi salah satu pemain terbaik di Eropa selama bertugas di Chelsea. Ia terkenal karena kecepatan, kreativitas, dribbling, kemampuan finishing, dan kehebatan bola mati.

Selain atribut-atribut ini, keserbagunaan pemain berusia 29 tahun memungkinkannya untuk ditempatkan di berbagai posisi depan seperti sayap kiri, lini tengah menyerang, striker kedua atau bahkan false nine.

Setelah mencetak satu-satunya gol Real Madrid dalam 22 pertandingan (16 di La Liga dan enam di Liga Champions) musim lalu, Hazard yang fit lagi akan berusaha untuk membuat dirinya disayangi oleh pendukung setia Madrid. Ia bakal berkolaborasi dengan Karim Benzema yang ujungnya mengerek produktivitas Real Madrid.

4 dari 7 halaman

Pesaing yang Sedang Bermasalah

Pelatih Barcelona, Ronald Koeman.
Ronald Koeman berhasil membawa Barcelona meraih kemenangan 3-1 atas Gimnastic pada laga uji coba di Johan Cruyff Stadium, Minggu (13/9/2020) dini hari WIB. (AFP/Pau Barrena)

Setelah kompetisi La Liga dilanjutkan kembali setelah jeda COVID-19, Real Madrid sukses menyalip pemimpin liga dan juara bertahan Barcelona untuk mengangkat gelar ke-34.

Barcelona tidak dapat mengimbangi kecepatan Los Blancos yang merajalela dan gagal mencegah mereka mengangkat trofi sebelum garis finis.

Di perempat final Liga Champions, Bayern Munchen memberikan Blaugrana kekalahan terburuk mereka dalam tujuh dekade untuk menambah kesengsaraan Lionel Messi dkk.

Ini berarti Barcelona mengalami musim tanpa trofi pertama dalam 12 tahun, mendorong seruan untuk perombakan besar-besaran di klub. Quique Setien digantikan oleh Ronald Koeman, dan beberapa pemain yang dianggap kartu mati rencananya akan dibuang.

Lionel Messi sempat memberikan informasi yang mengejutkan kepada Barcelona tentang keinginannya untuk meninggalkan klub musim panas ini.

Superstar asal Argentina itu akhirnya memutuskan untuk bertahan untuk musim mendatang. Tetapi dengan beberapa pemain yang gelisah di klub dan kurangnya personel berkualitas yang masuk, mungkin perlu waktu bagi Barcelona menjadi juara di pentas Liga Spanyol.

Saingan Real Madrid lainnya di Liga, Atletico Madrid, juga mengalami musim yang mengecewakan meskipun musim panas mendatangkan sejumlah pemain dengan transfer mahal. The Rojiblancos solid di belakang tetapi menderita di sektor depan. Masalah yang juga menimpa juara Liga Europa Sevilla yang finis keempat di La Liga musim lalu.

Dengan kata lain, ketiga rival utama Real Madrid tampaknya sedang dalam transisi dan sepertinya tidak akan menghadapi tantangan gelar yang kuat, situasi yang dengan sempurna dimainkan oleh sang pengoleksi gelar terbanyak.

 

5 dari 7 halaman

Tangan Dingin Zidane

Wajah Bahagia Zinedine Zidane Angkat Trofi Juara La Liga
Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, mengangkat trofi juara La Liga musim 2019/2020 usai timnya mengalahkan Villarreal pada laga lanjutan La liga di Estadio Alfredo Di Stefano, Jumat (17/7/2020) dini hari WIB. (AFP/Gabriel Bouys)

Zinedine Zidane punya sentuhan emas. Setelah periode pertama yang spektakuler sebagai pelatih Real Madrid yang menghasilkan 10 trofi, termasuk tiga gelar Liga Champions berturut-turut, nakhoda asal Prancis itu kembali memimpin klub beberapa bulan setelah meninggalkan tim pada musim panas 2018.

Meskipun kedatangannya di penghujung musim 2018-2019, Zidane berhasil mengarahkan tim ke posisi ketiga, menjamin keikutsertaan klub di Liga Champions.

Zidane kemudian mengalihkan perhatiannya untuk mengembalikan klub ke jalur kemenangan. Dia melakukannya dengan membuat Real Madrid berkembang dari sisi serangan balik menjadi sisi yang memainkan sepak bola berbasis penguasaan bola yang cerdas.

Zidane menurunkan pemain muda Rodrygo, Vinicius Junior, dan pemain baru Ferland Mendy ke samping saat ia berusaha untuk menjaga ketat di belakang.

Madrid belajar untuk menang dengan cara yang tidak spektakuler saat mereka mencetak beberapa kemenangan gol soliter setelah dimulainya kembali La Liga untuk menjaga tekanan pada pemimpin Barcelona yang sebaliknya tengah bapuk.

Zidane, seperti kebanyakan arsitek sukses dalam permainan, tidak kaku secara taktik. Real Madrid bermain dalam banyak formasi berbeda musim lalu dan menunjukkan fleksibilitas taktis yang mengagumkan dengan mengubah bentuknya tergantung pada lawan atau situasi pertandingan.

Dia juga berhasil menjaga pemain kuncinya tetap segar dengan sering melakukan perubahan pada starting line-up tanpa mempengaruhi dinamika atau potensi tim.

Dengan memenangkan gelar La Liga musim lalu, Zidane meraih trofi ke-11nya bersama Real Madrid, dengan rata-rata satu gelar setiap 19 pertandingan untuk Los Merengues. Ia sekarang tinggal tiga gelar lagi untuk menjadi manajer Real Madrid yang paling sukses dalam hal gelar yang dimenangkan.

Dengan seorang pelatih yang memiliki keahlian taktis dan raihan gelar, ditambah dengan kehadiran para veteran berpengalaman seperti Ramos, Benzema, Carvajal, Kroos dan Modric, mungkin tidak mengherankan jika Real Madrid berada di puncak klasemen setelah akhir La Liga 2020-2021.

6 dari 7 halaman

Darah Segar Martin Odegaard

Gelandang Real Madrid, Martin Odegaard.
Gelandang Real Madrid, Martin Odegaard, tampil impresif ketika dipinjamkan ke Real Madrid pada musim 2019/2020. (AFP/Javier Soriano)

Melanjutkan kebijakannya membangun tim untuk masa depan tanpa mengorbankan sisi kompetitif, Zidane memutuskan untuk mempersingkat masa pinjaman Martin Odegaard yang tampil mengesankan bersama Real Sociedad musim lalu.

pemain asal Norwegia itu dewasa sebelum waktunya menjadi pemain termuda dalam sejarah klub, ketika berusia 16 tahun debut di Real Madrid dalam pertandingan La Liga 2014-2015 melawan Getafe.

Dengan peluang tim utama tidak segera datang, Odegaard dikirim dengan status pinjaman bersama Heerenveen, Vitesse, dan Real Sociedad untuk mengasah potensinya.

Di Sociedad musim lalu, gelandang serang kaki kiri itu mencetak empat gol Liga dan memberikan enam assist saat klub finis di urutan keenam untuk lolos ke Liga Europa. Selama masa tugasnya bersama Vitesse, ia tampak mengesankan dengan kemampuannya menciptakan peluang mencetak gol untuk timnya.

Meskipun Sociedad ingin melanjutkan masa pinjaman sang pemain, Real Madrid memutuskan bahwa Odegaard siap untuk menantang tempat di tim utama dan memanggilnya kembali ke ibu kota. Menariknya, itu menandai pertama kalinya Zidane mempersingkat masa pinjaman seorang pemain selama melatih El Real.

Odegaard terkenal karena kreativitas, dribel, pengontrolan bola, dan kehebatan bola mati. Ia dapat memberikan keunggulan untuk serangan Madrid dan mengambil tekanan dari Benzema dengan memasukkan gol sesekali.

Fleksibilitasnya membuat Zidane bisa menurunkannya dalam formasi 4-3-3 atau 4-4-2, dua formasi yang paling sering digunakannya musim lalu. Meskipun Odegaard tidak mungkin untuk memulai di posisi sayap kanan yang disukainya, ia bisa memulai sebagai pemain nomor 10 jika Zidane memilih untuk menggunakan 4-2-3-1.

Ada ekspektasi yang tinggi dari Odegaard meskipun usianya masih muda, dan kembalinya ke klub induknya hanya memberikan harapan besar bagi Real Madrid untuk meraih gelar La Liga musim ini dan seterusnya.

Sumber: Sportskeeda

7 dari 7 halaman

Video

Lanjutkan Membaca ↓